Termangu

Gandasasmita termangu, si Aki sudah pergi, padahal dirinya belum beranjak selangkah pun dari tempatnya tadi berdiri. "Baik Aki. Aku akan mengingat pesan Aki. Terima kasih Aki," lirih Gandasasmita. Jejaknya menjadi satu kesatuan dengan angin dan air, menyerap dalam setiap pasir yang terinjak oleh Gandasasmita. Ini bukan tentang persinggahan, tetapi perjalanan. Perjalanan yang menanjak lagi sukar,... Continue Reading →

[Fiksi] Tangis Ibu

Cinta, yang mengenang antara kasih sayang Wisnu dan Sawitri. Dua insan yang memadu kasih dalam lipatan alam semesta. Tak ada yang menjadi bala, kala sang surya bersinar dengan terang di ufuk timur. Kala, menjadi batas antara ruang dan waktu, saat seorang ibu harus menangis karena kepergian sang anak untuk menjemput iblis. Bukan menjadi suatu keinginan,... Continue Reading →

[Fiksi] Darmaraja 3; Sembilan Pusaka

Sembilan pusaka sudah berderet di depan Gandasasmita. Ada pedang, tombak, kujang, keras, samurai, trisula, tongkat, pisau, dan jarum. Gandasasmita kaget, karena sembila pusaka itu berderet tepat di hadapannya ketika ia membuka mata dari meditasi. "Untuk apa semua ini?" Tanya Gandasasmita dalam hati. "Untuk keperluanmu Kakang Pangeran," ujar seorang perempuan yang sekarang nampak berdiri tegak di... Continue Reading →

[Sajak] Cermin dan Air Laut

Suatu pagi yang cerah, berkicau burung menyambut pagi dengan keseruannya mengabdi pada ilahi rabbi. Bila pagi tiba, tiadalah berusaha dengan menggapai isi hati, menatap barisan yang tidak kau mengerti. Demikian yang tertera dalam sebuah situasi Tertera dengan demografi, mahami antara satir dan imajinasi Ketika semua menyeru, seakan aku berada dalam seruan Turun berkicau dalam pencercaan... Continue Reading →

Jejak Darmaraja (2)

Kicau burung mengiringi sang surya yang mulai meninggi. Air embun berkerlipan bak mutiara yang berjatuhan. Gandasasmita memilih meninggalkan Arumi, perempuan yang tidak ia kenal. Bahkan, seperti sebuah jejak, selendang pinknya menjadi sebuah tanda bahwa memang perempuan itu sebenarnya berada dekat daerah situ. Arumi, nama yang pas untuk menggambarkan seorang perempuan yang sedang berada dalam jejak... Continue Reading →

Jejak Darmaraja (1)

Pengantar: Bismillahirramanirrahiim. Tulisan ini hanya fiksi belaka, mohon maaf bila ada persamaan nama atau tempat. Terima kasih Sebuah kelahiran yang berawal dari perjanjian antara yang pencipta dan yang dicipta. Ada rangkaian yang menjadi sebuah perjalanan menjadi satu kesaksian dengan ikatan janji dalam kehidupan. Sesungguhnya, tak ada yang bisa melepaskan suatu ikatan dengan sang pencipta. Begitu... Continue Reading →

Gumati Operasi

Ijah jalan mapay-mapay galengan sawah, sukuna perih balas nincak taneuh garing.Sarung disingsingkeun bakat ku hayang gancang leumpang, muru ranca nu koredas caina teu ayaan. "Kamana Ceu? Meni tuturubun kitu bangun nu rurusuhan?" Tanya Mang Juhe nu pasanggrok di galengan. "Nya puguhan Kang, aya telepon ti rumah sakit, ceunah si Neng kacilakaan. Si Neng rek dioperasi,... Continue Reading →

Separuh Jalan

Siapa yang tidak ingin dipuji dan dikenal? Kadang suatu pembenaran menjadi sebuh cerita dalam setiap gurat kehidupan. Ada langkah, ada yang berkehendak. Setiap titik menjadi sebuah kesaksian, satu dengan yang lainnya. Separuh perjalanan berada di antara dua intisari kehidupan. Ada yang mengaku dengan keadaan yang ada pada setiap keadaan, ada yang diam dengan keadaan mencari... Continue Reading →

Catatan Ramadhan, Hari Keenam

Hari ini adalah hari keenam Ramadhan, perjalanan rasa terasa berat dan menyedihkan. Betapa mudah hati merasa kesal pada sesuatu, sedangkan secara logika hal tersebut tidak mesti ada. Menatap hati yang seperti menangis, mengais dalam rindu yang terbelut oleh emosi. Segaris huruf telah menyulut emosi, serangkaian kata telah menyesakkan dada. Betapa berat rasa ini, menerima diri... Continue Reading →

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: