Lip Service dalam Dasa Muka (Bagian 1)

Tidak jauh dari Megantara, sebuah buku yang bertema komunikasi tergeletak tanpa dibaca. Pagi ini Megantara kembali gelisah karena perdebatan yang berujung penilaian, bahwa dirinya lip service.Seperti ada yang menonjok pada Ulu hatinya, Megantara diam terbengong menatap dinding tak berwarna. Sekali lagi penilaian pun jatuh pada dirinya. "Tuhan, apakah benar segala ucapan saya sekarang menjadi basa... Continue Reading →

Megan (Prolog)

Awan tebal masih menggelayut pada langit gelap di tengah siang selepas turun air hujan. Tidak ada yang menyangka bahwa setiap turun hujan, Megan selalu menatapnya tanpa kedipan. Di antara rinai hujan, butiran air menyimpan harapan. Megantara Jayadiningrat, perempuan yang sudah separuh sata menatap langit, terdengar hembusan napasnya yang terdengar berat. "Sudah waktunya aku melangkah, tidak... Continue Reading →

Anak Ayam (Syair)

Jangan menangis, ada Allah yang menyertai. Ketika semua orang pergi, bahkan orang yang dipercaya menjadi beda dan memilih untuk menghina, anggap saja sebagai kritikan. Dia ada untuk mengingatkan, tetapi jangan terlalu dipikirkan karena Tuhan ada beserta dengan jejak kehidupan dalam tarikan napas. Ketulusan manusia itu terbebas dari penilaian, karena penilaian yang memisahkan sudut kasih sayang.... Continue Reading →

Rinjani Menepi dalam Fiksi

Perapalan hidup tidak terukur oleh waktu. Ketika sang jiwa menyepi dengan membawa diri sebagai makhluk bumi yang memiliki hati nurani dan akal budi. Sungguh perjalanan Putri belum sampai di sini, dia harus menempuh ratusan kilometer untuk bertemu sang bunda di ujung senja. Menepi fiksi dalam raga diri. Seindah senyuman mentari pagi yang membawa kehangatan, Putri... Continue Reading →

Rasa, Bolak Balik Selera

Soal rasa, ada banyak variannya. Semua bercerita tentang berbagai emosi yang disarakannya. Seolah jiwa menyertai dan hadir ketika rasa itu muncul ke permukaan. Jika hidup ini ibarat lautan dan raga ini ibarat bahtera, maka apa yang dirasa ketika diri seperti benda mati yang terpaut silogisme miris dan ringkih. Sungguh kehidupan yang dirasa tidak abadi bak... Continue Reading →

Selendang Kedasih

Perjalanan Kedasih. Dia tinggal dengan bibinya di sudut perbatasan ibukota. Mangkunegara kertagama adalah ayahnya, hanya saja Kedasih dengan bibinya untuk menarik diri dari hiruk pikuk kekejaman ibukota. "Mengapa kau tinggal di pinggir kota, itu pun numpang dengan bibi yang pengelana?" Tanya ayahnya suatu ketika mempertanyakan kepergian anaknya. "Aku ingin di desa, tinggal dengan bibi yang... Continue Reading →

[Syair] Ar Rahman

Berlarut sang jiwa berkelana memenuhi raga. Terhempas dalam setiap desah keinginan yang tak berkecukupan. Sebuah titik tujuan sudah nyaris hilang, bukan lagi berbayang dalam selinder mata yang jelalatan Sebuah titik tujuan menjadi tak terlihat, apalagi membentuk huruf ba atau nun. Semua berada dalam fatamorgana raga, yang bakal hilang dan berbaur dengan kosmik bumi yang betebaran.... Continue Reading →

Rasa

Betapa melekatnya engkau sang rasa, Hati pun terpilin oleh waktu yang tak aku sentuh Sedangkan pradugaku melampaui masa yang kugenggam dalam keluh Fana... Satu kata yang menusuk jiwa ketika melekat tak terelakkan pada relung sang rasa Aku gila Di hadapan dunia ku kejar semua dengan selimut dosa Bukan pada belahan dunia yang mana aku genggam,... Continue Reading →

[Fiksi] Tahu

Sejumput aku di antara saru Aku berada dalam banyak tahu Aku berada dalam kurang tahu Seakan aku tahu, padahal aku tidak tahu Aku tahu, aku tidak tahu Sekerat daging aku cari Di antara rongga dan tulang Itukah hati atau jantung? Aku hati Aku jantung Berada di antara dua tulang yang aku tidak tahu Aku, pengejawantahan... Continue Reading →

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: