Rinjani Menepi dalam Fiksi

Perapalan hidup tidak terukur oleh waktu. Ketika sang jiwa menyepi dengan membawa diri sebagai makhluk bumi yang memiliki hati nurani dan akal budi. Sungguh perjalanan Putri belum sampai di sini, dia harus menempuh ratusan kilometer untuk bertemu sang bunda di ujung senja. Menepi fiksi dalam raga diri. Seindah senyuman mentari pagi yang membawa kehangatan, Putri... Continue Reading →

Rasa, Bolak Balik Selera

Soal rasa, ada banyak variannya. Semua bercerita tentang berbagai emosi yang disarakannya. Seolah jiwa menyertai dan hadir ketika rasa itu muncul ke permukaan. Jika hidup ini ibarat lautan dan raga ini ibarat bahtera, maka apa yang dirasa ketika diri seperti benda mati yang terpaut silogisme miris dan ringkih. Sungguh kehidupan yang dirasa tidak abadi bak... Continue Reading →

Selendang Kedasih

Perjalanan Kedasih. Dia tinggal dengan bibinya di sudut perbatasan ibukota. Mangkunegara kertagama adalah ayahnya, hanya saja Kedasih dengan bibinya untuk menarik diri dari hiruk pikuk kekejaman ibukota. "Mengapa kau tinggal di pinggir kota, itu pun numpang dengan bibi yang pengelana?" Tanya ayahnya suatu ketika mempertanyakan kepergian anaknya. "Aku ingin di desa, tinggal dengan bibi yang... Continue Reading →

[Syair] Ar Rahman

Berlarut sang jiwa berkelana memenuhi raga. Terhempas dalam setiap desah keinginan yang tak berkecukupan. Sebuah titik tujuan sudah nyaris hilang, bukan lagi berbayang dalam selinder mata yang jelalatan Sebuah titik tujuan menjadi tak terlihat, apalagi membentuk huruf ba atau nun. Semua berada dalam fatamorgana raga, yang bakal hilang dan berbaur dengan kosmik bumi yang betebaran.... Continue Reading →

Rasa

Betapa melekatnya engkau sang rasa, Hati pun terpilin oleh waktu yang tak aku sentuh Sedangkan pradugaku melampaui masa yang kugenggam dalam keluh Fana... Satu kata yang menusuk jiwa ketika melekat tak terelakkan pada relung sang rasa Aku gila Di hadapan dunia ku kejar semua dengan selimut dosa Bukan pada belahan dunia yang mana aku genggam,... Continue Reading →

[Fiksi] Tahu

Sejumput aku di antara saru Aku berada dalam banyak tahu Aku berada dalam kurang tahu Seakan aku tahu, padahal aku tidak tahu Aku tahu, aku tidak tahu Sekerat daging aku cari Di antara rongga dan tulang Itukah hati atau jantung? Aku hati Aku jantung Berada di antara dua tulang yang aku tidak tahu Aku, pengejawantahan... Continue Reading →

Termangu

Gandasasmita termangu, si Aki sudah pergi, padahal dirinya belum beranjak selangkah pun dari tempatnya tadi berdiri. "Baik Aki. Aku akan mengingat pesan Aki. Terima kasih Aki," lirih Gandasasmita. Jejaknya menjadi satu kesatuan dengan angin dan air, menyerap dalam setiap pasir yang terinjak oleh Gandasasmita. Ini bukan tentang persinggahan, tetapi perjalanan. Perjalanan yang menanjak lagi sukar,... Continue Reading →

[Fiksi] Tangis Ibu

Cinta, yang mengenang antara kasih sayang Wisnu dan Sawitri. Dua insan yang memadu kasih dalam lipatan alam semesta. Tak ada yang menjadi bala, kala sang surya bersinar dengan terang di ufuk timur. Kala, menjadi batas antara ruang dan waktu, saat seorang ibu harus menangis karena kepergian sang anak untuk menjemput iblis. Bukan menjadi suatu keinginan,... Continue Reading →

[Fiksi] Darmaraja 3; Sembilan Pusaka

Sembilan pusaka sudah berderet di depan Gandasasmita. Ada pedang, tombak, kujang, keras, samurai, trisula, tongkat, pisau, dan jarum. Gandasasmita kaget, karena sembila pusaka itu berderet tepat di hadapannya ketika ia membuka mata dari meditasi. "Untuk apa semua ini?" Tanya Gandasasmita dalam hati. "Untuk keperluanmu Kakang Pangeran," ujar seorang perempuan yang sekarang nampak berdiri tegak di... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: