Suatu pagi, seorang teman yang menjadi pengurus WAG mengirimkan tulisan permintaan donasi untuk anak salah seorang teman yang akan melakukan operasi jantung, lengkap dengan nomor rekeningnya. Secara kebetulan saya langsung membacanya, dan terenyuh untuk mentransfernya dengan nilai yang disesuaikan dengan kondisi keuangan yang masih di tengah bulan. Beberapa jam berikutnya, ketika sedang menonton drama Thailand, masuk telepon dari seorang teman yang sudah lama tidak berkomunikasi. Dia mengabari akan sebuah pekerjaan, maka kami pun melakukan janji temu untuk mendalami mekanisme pekerjaan. Saat akan pulang, teman pun memberi transfer uang sebagai pembayaran dari hasil yang dikerjakan, karena kebetulan saya mengeluarkan atau langsung mengerjakan sesuai dengan yang dimintakan saat itu.

Selepas hari, saya pun merenung bahwa mengeluarkan rezeki untuk kebaikan itu langsung mendapat gantinya lebih besar dari yang diberikan kepada orang yang membutuhkan. Namun, ketika memberi rezeki menjadi nilai hitung kebaikan, maka hitungan pun akan hilang. Saya pernah dalam kondisi ingin lulus pada sebuah tes yang berbayar, dengan anggapan bahwa saya sudah mengeluarkan banyak uang, tetapi ada rasa bahwa dalam tes ini akan berakhir dengan tidak berkesesuaian dengan keinginan, maka saya pun mencoba dengan memikirkan secara logika dan realita dari pengeluaran tes tersebut jika gagal, padahal hasil dari tes tersebut bukan sesuatu yang memang dibutuhkan sekali dalam menunjang pekerjaan. Saya pun memikirkan untuk melakukan kebaikan dengan berbagi rezeki, maka saya mentransfer uang tersebut. Yups, niat awal adalah kalkulasi balasan, bila berbagi maka akan mendapatkan apa yang dikehendaki. Kali ini, saya gagal tes tersebut, dan karena mengeluarkan uang cukup lumayan banyak untuk tes tersebut, saya menolak alias tidak menerima hasil uji tersebut.

Dari sini menjadi suatu pembelajaran terhadap pentingnya niat, dan melaksanakan sesuai dengan yang dibutuhkan. Ketika berbuat baik dihitung dengan jumlah hitungan matematika, maka tidak ditemukan hasil yang didapatkan. Tetapi ketika memberi tanpa dihitung, maka jumlah hitungan berlipat ganda. Rezeki merupakan hakikat dari sebuah nikmat yang kita rasakan, sehingga merasakan nikmat tersebut membentuk kebahagiaan. Ketika rezeki dihitung, maka sesungguhnya telah membatasinya. Tetapi, ketika tanpa menghitung rezeki, maka rezeki akan didapatkan tanpa batas.

Dalam berbuat baik hendaknya tidak perhitungan, tetapi manusia kadang masih terjebak dengan angka dan jumlah yang didapatkan, atau alias mengabsen kebaikan. Hal tersebut seringkali didapatkan ketika proses perjalanan atau langkah hidup dibentur dengan kenyataan yang tidak berkesusaian dengan yang diharapkan. Salah satu contohnya ketika suatu pekerjaan yang tidak didapatkan karena sebuah kecemburuan. Sang otak yang menolak kenyataan tersebut terus bergerak, menyebutkan satu per satu kebaikan diri, yang mana di saat kita memberi, sang cemburu pergi, tetapi saat dalam bentuk mereka sudah berjaya, mereka memilih untuk pergi. Apakah orang tersebut salah? Tentu tidak, karena itu menjadi haknya dia untuk melakukannya. Secara logika, ketika saat sebelumnya membantu mereka, mereka tidak memintanya, jadi memang tidak ada perjanjian atau kemestian untuk membalasnya? Sekali lagi, itu menjadi pemikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh setiap orang.

Sang akal pun menimbang segala hal yang terjadi dan dilakukan, maka itu menjadi beban dalam pikiran dengan semakin lukanya rasa yang diterima. Yups, kalau analogi anjing akan setia bagi yang membantu atau memberi, tetapi ini manusia yang bisa melakukan apa saja sesuai dengan yang dikehendakinya. Mereka bebas membalas atau menyakiti, tergantung dari emosi sang penerima. Oleh karena itu, saya pun berpikir untuk melupakan rasa sakit diperlakukan demikian dengan tidak menghitung atau menyebut kebaikan-kebaikan diri, karena menurut kita baik, belum tentu juga mereka melihatnya sebagai kebaikan atau bantuan.

Ketika pikiran bergerak dengan jangkauan yang tanpa ujung atau malah untuk istilah sekarang disebut dengan overthinking, maka yang didapatkan kesakitan rasa dan tekanan jiwa atas realita yang didapatkan. Dalam hal ini, mungkin setiap orang berbeda dalam cara kerjanya sistem tubuh dan jiwanya, tetapi bagi saya menjadi pembelajaran dan hikmah dari pengalaman tersebut, bahwa bekerja atau bergerak melakukan dengan hati, maka akan menemukan surgawi. Tetapi ketika bekerja dengan kalkulasi, maka yang ditemukan jumlah yang kurang dan tidak seimbang, alias neraka rasa yang didapatkan. Wallahu’alam.

Advertisement