Berkutat dengan segala yang ada, pada setiap asa, ada harapan yang tersita dengan segala jejaknya. Pesan-pesan bermunculan di berbagai media, dan menunjukan kisahnya dalam berbagai cerita.

Ketika sebuah pesan WA mengantar informasi berita yang menyebabkan kecewa, maka memilih tidak. Jejak tertanam dalam tanah basah, seperti tertutup pasangnya air bendungan, itulah realita, itulah kenyataan meski berselimut kecemburuan yang tak bertuan.

Sebelum kata-kata terlempar dengan barisan simbol yang menggerakan awan dan mengantarkan badai, sang jati mengingatkan bahwa dia bukanlah Kami, tetapi belati yang menjadi alat dalam mengasah setiap hal yang terhantarkan.

Ringan tetapi tajam, itulah perkataan yang tertuang pada simbol-simbol WA yang penuh dengan kesombongan. Selain api, tak ada yang akan mengantarmu pada realita bahwa sesungguhnya itu bukan api yang hadir karena percikan, tetapi karena kau menyimoab batu bara yang dengan erat tergenggam kuat.

Bilanyang tertuang menjadi suatu kepuasan, silakan menari dengan kata-kata yang menyanjung diri di antara petitih tak berarti pada setiap titik yang menjadi inti dari hal yang sudah ada.

Ketika anjing menjadi terhormat dengan mematuhi dan menerima kebaikan dari sang oenuntun, maka manusia yang diberi akal dan hati nurani lebih memilih untuk memuja diri dan mebgingkari yang lain. Hatinya mati, tak akan lagi hidup meski terang di langit tak tak berawan.

Manusia dengan segala keistimewaanya sebagau malhluk yang berakal dan bernuranu, ternyata fungsi dan perannya terkindas dengan keinginan sebagai hakikat keegoisan diri. Tak lagi dipungkiri, maka sakit ini menjadi kembang api yang baranya memercik kayu bakar yang selalu dibawa-bawa, baik dalam terang maupun gelap.

Suatu saat akan kulepas kebaikan diri dan kehinaan yang telah diterima, sehingga dirimu hanya sekedar jasad, tanpa jiwa dan keinginan. Seumpama langit runtuh, maka itu akan menadi hal yang tak teroungkiri. Sakit hati ini akan hilang seiring dengan hilangnya ingatan. Selamat tinggal, jarum simbol yang kau sebar, sesungguhnya akan terkumpul kembali pada si pengirim yang merasa itu bagian dari hak.

Kenyataan manusia berada di bumi hanya sekedar memenuhi keinginan, tanpa dapat memilih kebutuhan. Itulah, Sang Waktu akan mengantarmu kembali pada batu, tanah dan api yang tergenggam pada batuan di antara jerami _.

Advertisement