Membaca buku bukan lagi menjadi pengetahuan atau sumber informasi, tetapi di era industri 4.0 buku sudah menjadi ladang bisnis yang komprehensif,  dari segi penerbitan sampai pada sertifikasi kompetensi SDM buku. Selagi semua bisa menjadi uang, kenapa tidak kan?

Dunia buku tidak lepas dari bisnis penerbitan, karena dalam publikasi sebuah tulisan membutuhkan media, salah satunya buku. Di era sertifikasi sekarang ini, segala lini bisa menjadi sertifikat pada keberadaan elemen tersebut.

Bermula dari sebuah harapan, bahwa generasi muda membutuhkan bimbingan untuk terus belajar dan berkembang, salah satunya dalam hal menulis. Dengan niat ingin membantu mereka, saya pun berpikiran bahwa sertifikasi kompetensi mungkin akan memotivasi mereka untuk terus menulis.

Bermodal pengalaman menjadi editor bertahun-tahun, saya pun mengikuti lalu daftar untuk kompetensi sertifikasi. Tahap berhenti menjadi karyawan dengan sandang editor, sesungguhnya tidak melepaskan saya melakukan pekerjaan penyuntingan dan penulisan secara freelance dan berdasarkan proyek.

Saya pun untuk update sering ikut beberapa seminar, workshop atau pelatihan editing dan menulis, baik berbayar maupun gratis. Yups, saya pun mendaftar dua kategori kompetensi yang saya kira dapat mendukung dalam membantu para generasi muda dalam menulis dan memahami tulisannya.

Untuk uji kompetensi ini termasuk mahal bayarannya, dengan penyebutan 1,5 juta dan 1,2 juta, tetapi kali ini menjadi 500 ribu karena ada subsidi, katanya. Karena mengikuti dua kompetensi ini, saya pun satu membayar full, karena yang bersubsidi hanya satu.

Ekspetasi saya bahwa dengan kegiatan ini, saya akan mendapat materi keterampilan atau kompetensi tentang hal tersebut sebagaimana saya mengikuti pelatihan keterampilan untuk mendapatkan sertifikat di dunia kerja saya sekarang ini. Dengan harga yang sama, harapan saya buyar, ilmu tidak dapat, sertifikat tidak ada karena dinyatakan belum kompeten.

Seharian setelah menerima barisan kata-kata penguji, saya melawan lewat analisa hasil dari perenungan dan pengamatan selama berada di sana. Akhirnya, saya menyadari bahwa pada dasarnya yang dilakukan penilai adalah bagian dari perannya sebagai penilai, dan wajar dia menuliskan hal-hal yang ditemukannya.

Saya pun menggunakan hak banding sebagai upaya mengoreksi, dengan mengungkapkan analisa hasil perenungan saat terlaksananya kegiatan tersebut. Dengan membayangkan uang yang cukup banyak telah saya keluarkan dari sisihan hasil pekerjaan, apa yang saya dapatkan?

Pertanyaan itu yang membuat saya menghubungi penyelenggara lewat kontak website, dan sampai sekarang belum ada respon. Tulisan ini tidak ada unsur apa pun, hanya melepas penat yang sangat berat, ketika uang segitu besar hilang sia-sia. Apalagi di saat sekarang yang serba mahal selepas krisis pandemi Covid 19.

Saya berusaha melepaskan kepenatan, dengan melihat bahwa itu bagian dari takdir, karena tanpa kejadian ini pun, bisa saja berkurang dengan nilai tersebut. Satu hal yang menjadi perenungan, pentingkah sertifikasi kompetensi?

Kompetensi komunikasi pada dasar harus dimiliki oleh setiap orang, yaitu kompetensi berbicara, menulis, membaca dan mendengarkan. Ini menjadi bagian pada setiap interaksi sosial. Untuk itu, ada empat kompetensi juga yang harus dimiliki, yaitu kompetensi linguistik, sosiolinguistik, wacana dan strategi. Keempat inilah yang dapat dikembangkan pada saat bekerja atau dalam ranah profesional.

Buku pada dasarnya adalah media, wadah menampung pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh sumber pesan. Ajaib, alur komunikasi ini telah menjadi ladang rejeki yang telah menghidupi banyak orang. Bahkan, bisa menjadi perusahaan raksasa.

Kalau dilihat dari model komunikasi Shannon dan Weaver yang terdapat 6 elemen, maka pada penerapan buku dapat dilihat sebagai channel atau media. Berikut 6 elemen tersebut, yaitu:

1. Sumber informasi (infirmation source), yaitu sumber pengirim pesan. Sumber ini bisa institusi atau personal.

2. Encoder (transmitter), yaitu orang yang mengubah pesan pada media.

3. Channel (media), yaitu media yang digunakan untuk mengirim pesan.

4. Decoder (reciver), yaitu mesin penerima dan pengubah pesan atau penerima pesan yang menginterpretasikan pesan.

5. Tujuan (destination), yaitu pihak yang menerima pesan.

6. Gangguang (noise), gangguan fiaik dari lingkungan,manusia dan lainnya yang menghambat proses penerimaan pesan.

Model komunikasi ini pada perbukuan dapat dilihat bawah sumber pesan itu adalah penulis. Dengan tulisan, penulis menyampaikan ide dan gagasannya, melalui media buku. Ketika pesan ditulis pada buku, ada proses pengolahan pesan sebelum menjadi tulisan buku atau dicetak, yaitu editor dan layouter turut serta dalam menjadikan ide atau pikiran penulis pada buku. Begitu pula ketika buku sudah jadi, maka pembaca menyerap tulisan tersebut, proses penyerapan tulisan agar dipahami ini menjadi encoder bagi destinasion atau pembaca yang memang menjadi tujuan penerima pesan. Adapun gangguan bisa ditemukan, sehingga di sini penulis, editor dan laouter atau bagian produksi buku membangun pesan tulisan buku agar tidak mendapar gangguan apa pun.

Demikian yang saya pahami berkaitan dalam model komunikasi Shannon dan Weaven, maka pada alurnya bisnis penerbitan, penyunting dan penulis sebagai elemen dalam penyampaian pesan agar mudah dipahami dan efektif.

Adanya sertifikat kompetensi menunjukan sebagai usaha agar pesan yang diterima tidak mendapat gangguan. Sertifikat sebagai wakil dari keahlian yang dimiliki oleh orang tersebut. Secara profesional atau pekerjaan, sertifikat perlu sebagai bentuk ringkasan penulis yang termaktub pada selembar kertas.

Tetapi, ketika kompetensi tersebut sudah dimiliki dan berada pada alur tersebut, alias perusahaan melihat kinerja kita, apakah sertifikat kompetensi masih dibutuhkan?

Wallahu’alam