Setiap orang memiliki persepsi dan prasangkanya masing-masing. Namun, prasangka ini seringkali menjebak pada berprasangka negatif, bahkan berkembang menjadi fitnah dengan bumbu imajinasi.

Sesuatu keputusan memang tidak lepas dari sinyal, baik intuisi maupun data. Namun, dalam memutuskan sesuatu hendaknya memadukan intuisi dan data sehingga keputusan tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam hal kehidupan ini, kejernihan intuisi menjadi bagian dari keputusan yang benar. Tetapi bagaimana kalau itu hanya dorongan pikiran dan emosi yang terus diolah menjadi prasangka? Wallahu’alam

Ada suatu pengajaran penting dalam berkehidupan, yang selalu saya ingat pesan dari almarhum teman sekaligus guru, yang mengajarkan untuk memurnikan pikiran menjadi sesuatu yang dapat melahirkan kebaikan atau akhlakul karimah.

Contoh yang jelas dapat disimak pada kisah Nabi Muhammad Saw ketika menerima hinaan dan celaan, beliau sabar dan membalasnya dengan kemuliaan akhlak. Kecerdasan emosi yang outputnya kesabaran ini hendaknya menjadi proses pelajaran dan perjalanan.