Tidak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya hidup itu tidak membutuhkan kesehatan jasmani dan rohani. Kesehatan ini bisa dimulai sejak dini, bahkan sejak 100 hari kelahiran. Memiliki gizi seimbang pada anak menjadi kewajiban orangtua dalam menjaga kesehatan tubuh anak, dan orangtua dan pendidika memiliki literasi gizi keluarga sehingga anak sehat. Oleh karena itu, Dikdasmen Aisyiyah mengadakan edukasi gizi guru PAUD untuk meningkatkan literasi gizi keluarga.

Dra. Fitri Wilis, M.Pd selaku Ketua Dikdasmen PP Aisyiyah memaparkan bahwa PAUD sebagai lembaga pendidikan dapat menjembatani antara anak dan orangtua yang lebih banyak mengenal anak di rumah, dengan memberikan informasi-informasi dan memperlakukan anak dengan asupan nutrisi gizi yang seimbang, sehingga orangtua tahu dan paham mengenai gizi anak. Untuk membangun generasi Indonesia emas, bisa dimulai dari sekarang dengan menjadikan anak-anak yang sehat, kuta dan cerdas.

Pada seminar hari ini telah hadir sebagai narasumber, Arif Hidayat, SE.,MM, selaku Ketua Harian YAICI, Prof.Dr. Masyitoh Chusnan, M.Ag. selaku Ketua PPA, Dr. Cut Nurul.,S.pA (K). dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Prof.Dr.Ir. Netty Herawati.,M.Si., selaku Ahli Gizi & Praktisi Pendidikan PAUD. Sangat menraik untuk menyimak seminar ini yang mana secara garis besar menjadi bagian edukasi gizi bagi guru PAUD mengenai literasi gizi.

Arif Hidayat, SE.,MM selaku Ketua Harian YAICI memaparkan mengenai beban ganda masalah gizi anak Indonesia. Beban gizi ini dalam capaian menuju Indonesia emas, ternyata persoalan stunting anak di Indonesia masih sangat tinggi. Selain itu, masalah lainnya adalah mengenai masih banyaknya anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi mikro, makro dan gizi lebih, maka dalam hal ini untuk menyikapi atau solusi dari masalah tersebut dengan pendidikan yang menginformasikan asupan gizi dan akses kesehatan anak.

Sebagai salah satu kasus dalam hal pentingnya edukasi gizi dalam pemahaman literasi gizi pada guru PAUD dan orangtua adalah masih banyaknya warga masyarakat yang menyangka bahwa kental manis sebagai susu, padahal kental manis bukan susu. Kandungan di dalamnya masih banyak mengandung gula sehingga bisa menimbulkan penyakit diabetes. Oleh karena itu, pentingnya edukasi lietrasi gizi untuk mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat.

Prof.Dr. Masyitoh Chusnan selaku Ketua PP Aisyiyah memaparkan pentingnya literasi gizi. Literasi gizi bagi guru PAUD dengan pendekatan keluarga dengan menggagas pertemuan walimurid untuk mengadakan penyuluhan edukasi gizi. Adapun dr. Cut Nurul Khafifah dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan tentang stunting dan pentingnya gizi bagi anak. Faktor utama dalam pertumbuhan dan perkembangan anak juga memengaruhi tinggi badan itu nutrisi, sehingga terhindar dari stunting. Anak harus minum susu untuk anak, bukan seperti kental manis yang malah dapat memengaruhi anak kesehatan gizi anak.

Prof.Dr.Ir. Netty Herawati.,M.Si., Ahli Gizi & Praktisi Pendidikan PAUD yang menjelaskan berkairan dengan implementasi gizi di lingkungan PAUD untuk pembiasaan makan bergizi anak. Dalam hal ini, beliau menjelaskan urgensi gizi, gizi seimbang, fakta konsumsi gizi dan implementasi gizi seimbang di PAUD. Untuk implementasi gizi di PAUD bisa dengan dimulai adanya kurikulum gizi sebagai pembelajaran dan pembiasaan, yang mana memang membutuhkan bermitra dengan lintas pelaku dan bersinergi dengan keluarga. Dalam hal bersinergi dengan keluarga, bisa melalui kelas orangtua atau parenting, home visit, komunikasi, aktivitas bersama dan menjadi guru pendamping.

Dengan demikian, Dikdasmen Aisyiyah mengadakan edukasi gizi guru PAUD untuk meningkatkan literasi gizi keluarga sebagai bagian dalam mensosialisasikan Indonesia emas yang mengajak masyarakat generasi yang akan datang menjadi manusia unggul yang sehat, kuat, cerdas, kreatif dan inovatif.

Advertisement