Pernahkah dalam suatu waktu dalam keadaan tidak ada ide sama sekali, hanya melihat catatan yang berserakan tanpa henti? Ini menjadi momen penting dalam keterhubungan dengan-Nya, karena dalam ketidaktahuan, ada ketahuan. Pada ketahuan, ada ketidaktahuan….

Jejak itu membekas ketika tak berdaya dalam makna, seperti menatap langit di siang hari dan malam hari, membatu menjadi hal yang tak terpungkiri. Sungguh ternyata mengabaikan jalan keterhubungan menjadi bagian jejak bahwa itu seperti memutuskan, padahal sesungguhnya tidak ada terbersit pun dalam keterputusan.

Raga mulai beradaptasi dengan hal yang demikian, begitu pula persepsi bergeser, tetapi nurani berkata, Tidak. Ada yang hilang dan tertinggal. Semakin hari menjadi kegelisahan yang menyadari bahwa sesungguhnya silah harus dirajut kembali, jangan sampai terputus. Semoga Ramadhan ini dapat kembali merajut silahku yang mulai memudar.

Ramadhan ini menjadi titik kembali merajut silahku yang sudah mulai memudar, tentu sang raga harus turut menjadi bagian. Insya Allah bisa…. La ilaha ilallah, Allahu Akbar