Sebuah kisah dari penyesalan yang selama ini menyepelekan pekerjaan dan pendapatan. Keberkahan rezeki dilampaui dari proses dan hasil yang didapatkan. Betapa sebuah keikhlasan memang sesungguhnya suatu kemurnian. Perjalanan murni di antara keruhnya kebatinan dalam menjalankan aktivitas.

Selama ini tampil dengan menyebutkan bahwa pekerjaan sekarang tidak menghasilkan uang, tetapi memang berupa pengabdian. Namun, kemurnian niat diuji pada sebilah keyakinan, bahwa perjalanan yang ditempuh itu memang murni suatu keikhlasan. Tetapi, ternyata masih ada dualisme atau paradoks dari hal tersebut dari kenyataan. Astaghfirullah, ampuni persepsi hamba yang demikian.

Kesadaran bahwa selama ini telah salah dalam berpersepsi, niat dan keyakinan. Sungguh suatu pembelajaran, terima kasih Tuhan, bahwa telah memberi kesadaran, bahwa ikhlas dalam bekerja itu tanpa menyebutkan bahwa ikhlas dalam berbuat demikian, tetapi gamang dalam kebatinan. Itu menjadi bagian kufur, karena sesungguhnya syukur itu, sedikit pun materi yang didapatkan, maka itu menjadi bagian dari kenikmatan dan terpenuhinya semua kebutuhan.

Semoga perjalanan lalu menjadi penyaring dalam melihat ke dalam batin, indahnya dalam melihat kenyataan dengan kesyukuran. Setiap langkah semoga menjadi jalan syukur dalam menjemput karunia nikmat rezeki-Mu, Tuhan…

Amiiin