Katumbiri dalam jejak Mawangi seperti putri yang sedang mengibarkan selendangnya menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya. Seiring waktu, Katumbiri mengenal dirinya sebagai bagian dari bumi yang terkadang dalam waktu melepas lelahnya pada suatu singgasana yang tidak bertuan menuju kehidupan selanjutnya yang ada, namun tiada. Katumbiri menatap Mawangi yang sedang duduk sambil menatapnya, “Apa yang sedang terjadi di swargaloka jangan terlalu kau pikirkan. Karena itu bagian dari perjalanan hidupmu, Mawangi.”

Tanpa menjawab, Mawangi diam seribu bahasa, dia tidak mengenal dirinya ketika harus berhadapan dengan berbagai makhluk lintas dimensi, salah satunya Katumbiri. “Biri, aku tidak mengerti kenapa aku menjadi bagian dari perjalananmu, sedangkan aku hanya manusia biasa, bahkan saking biasanya nyaris dianggap tidak ada oleh sesama manusia, teman sekolah, teman bekerja, dan saudara.”

“Mawangi, namamu adalah kesucian hatimu, tidak mesti menjadi palsu di antara batuan imitasi, sedangkan kilau permata tidak akan terlihat di antara sesama bebatuan. Letakkan dirimu sebagai permata, yang memiliki keindahan. Kenali dirimu, bukan orang lain dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka. Kamu bicara denganku pun mungkin teman-temanmu akan menyebutmu gila.” Tegas katumbiri.

“Aku tidak gila, meski terkadang mereka menyebutkan stres kalau lambatnya dalam menjawab keinginan mereka,” keluh Mawangi.

“Jelas itu persepsimu dan persepsi mereka atas responmu,” Katumbiri pun duduk menemani Mawangi yang sedang selonjoran di atas batu. “Kenali dirimu, bukan orang lain atau mereka. Asah kesadaranmu, Mawangi! Maka, namamu akan mencerminkan dirimu seutuhnya.” Tegas Katumbiri. “Aku sudah melampaui berbagai kehidupan, dan menyaksikan ragam manusia, tetapi yang mengenal dirinya dengan kesadaran yang murni sangat sedikit. Banyak yang mengejar kesadaran bukan untuk hikat sadar,, tetapi untuk meraih keuntungan yang tak bertuan.”

“Biri, apa itu sadar?” Lirik Mawangi pada Katumbiri yang sedang bermain air.

“Sadar?” Katumbiri bukan melanjutkan bercerita, tetapi bermain air. “Sadar itu tidak untuk didefinisikan, tetapi dirasakan sendiri. Jadi, itu jawabanku Mawangi.” Jawab Katumbiri sambil mengelap air dengan selendangnya.

“Selendangmu bagus, Biri….”

“Oh ya…. Kalau kamu mau, akan aku berikan padamu. Tetapi sesuai dengan namamu, sesungguhnya yang dibutuhkan dalam hidupmu bukan alat, tetapi dirimu sendiri yang mampu hidup sadar. Sesungguhnya selendang ini hanya titipan, di antaranya memang ada milikmu, Mawangi, tetapi sekarang belum saatnya untuk mendapatnya.”

“Kapan?” Tanya Mawangi.

“Nanti bila sudah waktunya. Sekarang aku sedang menunggu Rakeyan Hyang Banga, dia akan mengambil selendang yang dititipkan oleh Ratu Kencana untuk putrinya, tetapi diambil.”

“Bolehkah aku ikut denganmu? Aku ingin melihat Ratu Kancana dan Hyang Banga juga.”

“Tidak perlu, mereka sendiri yang akan menemuimu. Janganlah kamu membuat repot dirimu, cukuplah kamu menikmati hidupmu dengan sadar, Mawangi, karena mereka sendiri yang akan membutuhkanmu. Aku pergi dulu, dipanggil Ibu Ratu.”

“Oke, salam ya sama Ibu Ratu… Aku mau kerja dulu.”

“Iya, hahahaha… Dia padahal sering menjengukmu lho… Aku pamit dulu….”