Tidak ada yang menyangka bahwa pandemik covid 19 akan melanda dunia, termasuk Indonesia. Dampak pandemik ini bukan hanya menyerang pada sektor kesehatan, tetapi hampir pada semua bidang kehidupan. Kasus kematian Covid 19 pernah mencekam negeri kami, bahkan salah seorang saudara saya ada yang meninggal dengan kasus Covid 19. Bagai petir di tengah hari, ketika pesan berita duka masuk lewat media sosial dari saudara, lalu menangis bersama atas duka tersebut yang berasa tiba-tiba. Kabar dan rumor bersliweran lalu lalang di media sosial, untungnya pemerintah dengan sigap turut melawan rumor dengan menceritakan perjuangan para tenaga kerja yang berjuang untuk kesehatan dan masyarakat yang membangun diri untuk bangkit melawan pandemik Covid 19 dengan the power of media sosial; melawan pandemik covid 19 dengan konten positif.

Berbagai informasi mengenai Covid 19 memang kadang menjadi suatu kekhawatiran, tetapi ternyata tidak sedikit informasi di media sosial yang membangun kebaikan dan konten positif sehingga kegalauan saat membuka internet menjadi sesuatu yang menemukan konten positif dan hiburan, sehingga tidak terus menerus berduka, tetapi bersemangat untuk menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan.

Ibarat sebuah pisau, media sosial sebagai teknologi digital yang sekarang menjadi alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi turut serta dalam membangun dan menjadikan diri untuk turut serta berkontibusi dengan mengisi hal-hal yang baik dan bermanfaat, setidaknya untuk diri sendiri. Meski sungguh ironis, di masa pandemik Covid 19 ini Indonesia berada pada urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei oleh Microsoft selama tahun 2020. Hasil riset tersebut dirilis oleh Digital Civility Index (DCI) tahun 2021. Namun demikian, penggunaan media sosial selama pandemik sangat tinggi, sebagaimana yang disebutkan pada data Internetworldstats, Dengan capaian tersebut, Indonesia berada di urutan ke-15 di antara negara-negara Asia dengan pengguna internet di tanah air mencapai 212,35 juta dengan estimasi total populasi sebanyak 276,3 juta jiwa.

Hal demikian menjadi perenuangan bersama, bahwa pada dasarnya setiap netizen harus memiliki pengetahuan dan pemahaman literasi digital. Apalagi dengan aktivitas sekarang ini yang lebih banyak menggunakan internet dan berkomunikasi dengan media sosial, maka kita dalam menerapkan aktivitas tersebut menjadi sebuah keharusan untuk lebih tahu dan mampu memproduksi konten positif di media sosial.

The Power of Media Sosial

The power of media sosial atau kekuatan media sosial sangat dirasakan di masa pandemik covid 19. Bagi orang yang kreatif, media sosial menjadi alat dalam belajar, bekerja, bersilaturahim, dan hiburan. Kenapa demikian? Yups, itu yang saya rasakan ketika masa pandemik ini, saya menggunakan media sosial, pertama, untuk belajar, mendapatkan pengetahuan dari berbagai platform yang saya ikuti dengan melihat dari sisi sekolah, kursus, pelatihan, bahkan pengajian. Ada banyak narasumber mumpuni yang bisa dijadikan pengalaman dan pengetahuannya diikuti dan dipahami sebagai bagian dalam belajar. Belum lagi dalam pencarian informasi data, maka media sosial dengan platformnya yang beragam dapat menjadi pilihan kita untuk belajar. Bahkan, media sosial menjadi alat dalam proses belajar mengajar. Bagi siswa dan mahasiswa, informasi pembelajaran bisa dilaksanakan dengan baik melalui koordinasi lewat WAG, kemudian bisa posting hasil tugas belajar lewat Instagram, Twitter, Blog, Youtube dan yang lainnya.

Kedua, bekerja. Selama pandemik, bekerja dilakukan dari rumah dengan menggunakan tikenologi informasi dan komunikasi. Alhamdulillah, ketika pandemik ini dalam hal pekerjaan, saya masih bisa bekerja secara work from home sesuai anjuran pemerintah. Media sosial inilah yang selama ini menjadi alat dalam berkordinasi, sekaligus mengerjakan tugas pekerjaan secara rutin dan teratur. Bukan hanya saya sebagai pekerja, bagi yang memulai usaha pun bisa dilakukan dengan menggunakan media sosial untuk jualan atau mempromosikannya. Ibarat roda yang berputar, pandemik covid 19 ini sangat memengaruhi sektor ekonomi, sehingga banyak usaha yang bangkrut dan pekerja yang menjadi pengangguran. Bagi orang yang kreatif akan tetap bergerak untuk mencari nafkah, salah satu alat yang sangat berguna dan dimanfaatnya dengan menggunakan media sosial.

Ketiga, bersilaturahim. Peraturan jaga jarak, bukan penghalang untuk berinteraksi atau berkomunikasi, baik dengan saudara, teman dan sahabat lainnya. Keempat, hiburan. Hiburan ini menjadi salah satu bagian penting untuk mengalihkan dari kejenuhan dan kelelahan. Ada banyak platform di media sosial yang menawarkan hiburan, baik itu film, drama, buku, novel, lagu, animasi atau video lucu. Keempat hal tersebut menjadi the power of media sosial yang saya rasakan selama pandemik, bagaimana dengan Anda?

Konten Positif

Selama pandemik ini, ada beberapa hal yang saya rasakan dan nikmati dengan menggunakan media sosial.

  1. Informasi yang cepat. Salah satu yang menjadikan the power of media sosial adalah kecepatan informasi yang diterima. Selama pandemik, semua informasi dan komunikasi menggunakan Whatsapp, salah satu aplikasi untuk berkomunikasi. Bukan hanya suara, tetapi bisa melakukan video call, sehingga meskipun jarak yang jauh dan waktu yang berbeda, masih bisa berkomunikasi dan berinteraksi.
  2. Memudahkan berkomunikasi. Sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintah untuk melakukan sosial distancing atau jaga jarak, adanya media sosial seperti WA sangat membantu berkomunikasi langsung dengan kita bisa melihat orang tersebut dan aktivitasnya. Tidak dapat dipungkiri, aturan distancing telah memperkuat untuk melakukan komunikasi dengan teknologi, baik untuk pribadi maupun pekerjaan. Selama ini, saya bisa menghubungi keluarga dengan bertatap muka lewat media sosial. Begitu untuk melakukan komunikasi wawancara, sekarang bisa dilakukan dengan langsung video call.
  3. Melatih untuk memfilter informasi. Tidak dapat dipungkiri, adanya WAG, belum lagi dengan media sosial lainnya, kita akan menemukan ragam informasi, terutama berkaitan dengan kesehatan. Ketika ada saudara sekeluarga terkena covid 19, saya yang mendapat kabar pun langsung mencari tahu obatnya lewat internet dan tidak lupa menghubungi teman yang berprofesi dokter lewat media sosial. Dalam hal ini, kita dapat melakukan filter informasi dengan cara menanyakannya kembali kepada ahlinya, selain mencari data lewat jurnal-jurnal ilmiah.
  4. Membuat konten positif di media sosial. Konten positif ini sebagai ekspresi diri, dan juga sebagai bagian dalam berbagi hal-hal yang menarik dan inspiratif. Saya sendiri sering membuat postingan yang sesuai minat dan hobi seperti dalam hal memposting foto-foto lama saat jalan-jalan sebelum pandemik.
  5. Membantu menyebarkan usaha teman. Di saat pandemik, banyak yang menambah penghasilan dengan membuka usaha, saya seringkali membantu teman-teman UMKM dalam menyebarkan dagangan mereka, agar banyak yang membelinya. Ternyata, ketika ada yang memesan dagangan lewat akun media sosial kita, ada suatu kebahagiaan tersendiri.

Demikian beberapa hal yang menjadi pengalaman dan pendapat saya mengenai the power of media sosial; melawan pandemik covid 19 dengan konten positif. Konten positif di sini, bisa berupa konten yang kita baca dari media sosial, konten yang kita posting atau sebar di media sosial.