Lestarikan Alam ala Kampung Adat Kuta Ciamis

Setiap kampung adat memiliki cara tertentu dalam menjaga hutannya sebagai bagian dari perjalanan kehidupannya. Hutan dan lingkungan alam sekitar menjadi bagian dari setiap proses laku dalam beraktivitas sebagai manusia. Salah satunya dengan menjaga hutan larangan, atau disebut dengan leuwueng gede. Keberadaan leuwueng gede yang masih terjaga dan dijaga ketat oleh warga secara ini menjadi sebuah representasi dari ruang terbuka hijau di Kampung Kuta. Bagaimana cara lestarikan alam ala Kampung Adat Kuta Ciamis sehingga Leuweung Gede tetap terjaga?

Pamali

Pamali menjadi salah satu dasar etika dan norma di Kampung Adat Kuta Ciamis. Kalau merunut pada bahasa Indonesia, pamali itu tabu yang bersifat larangan. Pamali mengunjungi Leuwueung gede sembarang waktu dan harus disertai dengan juru kunci yang mengantar ke hutan tersebut. Hutan ini bisa dimasuki pada hari dan jam tertentu, yaitu Hari Senin Siang dan Hari Jumat dengan waktu sebelum Jumatan.

Pola penjagaan hutan dengan budaya dan adat menjadi sesuatu yang menarik, karena di sana ada kepercayaan dan keyakinan bila hal yang sudah ditetapkan dilanggar, maka akan terkena bencana atau musibah. Adapun untuk pemanfaatan perkebunan, berada di luar hutan larangan tersebut. Karena bisa dikaatakan ranting yang jatuh di hutan larangan, tidak bisa diambil sembarangan. Ini menunjukan bahwa Kampung adat Kuta sangat menjaga dan melindungi hutan.

Betapa kata Pamali itu telah mampu menjaga kelestarian alam dan tradisi kearifan lokal yang penuh makna dan filosofis. Saya teringat sama nenek yang sering mengingatkan saya banyak hal dan mengaitkannya dengan pamali. Karena keterbatasan saya, maka saya pun mencari makna dari istilah Pamali di Om Google. Saya pun mendapatkannya, website https://su.wikipedia.org/wiki/Pamali.

Pamali merupakan larangan orangtua dari melakukan sesuatu karena terdapat dampak dari perbuatan tersebut. Kata Pamali dalam Kamus Basa Sunda, yang ditulis oleh R.A. Danadibrata (2006) menyebutkan kata Pamali dikaitkan dengan kata, “pahing, buyut, kapamlian, palangan, pantrang, dan cadu.”

Kata Pamali sendiri ada dalam Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang diterjemahkan oleh Saleh Danasasmita (Saleh Danasasmita, 1987), yaitu:

(Carek) sanghyang siksa, ngising ma tujuh lengkah ti jalan, kiih ma tilu lengkah ti jalan. Boa mo nemu picarekeun sakalih ja urang nyaho di ulah pamali.Kaulah ma duka, pamali ma paeh, deung jeungjeueung gagawar, pucuk tambalung, sugan tampyan dalem, kandang larang(an), bale larangan.

Kata Pamali juga terdapat pada carita pantun Badak Pamalang yang diterjemahkan oleh Ajip Rosidi (Ajip Rosidi, 1971), yaitu:

Cing suci kami dek diajar ngawih/ Saeutik beunang mihuit/ Kawih kami sudi mandi/ Kawih kami suda pulang/ Saeutik tamba pamali/ Mangka unggut maung/ Mangka golong na karémbong/ Mangka pecat bentén omas/ Lekat-lekat katalanjuran/ Pantes lempenganeun saur.

Pamali juga ada pada carita pantun Buyut Buyut Orényéng (Ajip Rosidi, 1976), yaitu:

Baringbing sumping balikan/ Bak layar gancang pulangan/ Pamali teu dibalikeun/ Halangan teu dipulangan/ Sungkanan barang pulangan/ Demi cangkang jeung eusina/ Mangsing sarua lobana/ Bisi kawih mamaruan/ Ja kawih mangdaya tineung/ Ceuk buyut tuha mara tuha/ Katénjo ku enya baé/ Enya pamali teuing/ Nu nungkul dipukul/ Nu hasrah dirasah/ Nu éléh diparoléh/ Matak teu tinggil juritan/ Matak teu jaya perangan/ Matak pupul pangaruh/ Matak tambar berekat/ Matak teu mahian sing barang pasini.

Terdapat juga pada dangding Haji Hasan Mustapa, yaitu:

//Sirna rasa rasaning pasti/ raga raraganing rasa/ janggélék rasaning déwék/ duk lungsur ti satuhu/ bijil gingsir sih jeung sedih/ alaming kamanusan/ pangjurung kasarung/ ngumbara di alam dunya/ ngulik harti nguriling néangan gusti / ku pantang pamalina// .

Allah nu teu paya nitah/ Gusti nu ngalindih abdi/ teu paya tunda talatah/ lain Gusti nu sasari/ bisi kacingcirihi/ tutur kalebur ku catur/ nya loba katilarna/ ku abdi lain sajati/ rasa dunya salia ka pamalina// Kapamalina kaula/ hayang ngahiji jeung Gusti/ kapamalina kaula/ birahi ku agung Gusti/ jadi paisin-isin/ nya lumpuh pajauh-jauh/ tuman ti sasarina/ abdi malibir ka Gusti/ ana mudal nanya katunggalanana//.

Ternyata, kata pamali memang sudah ada dalam naskah-naskah kuno Sunda, namun seiring waktu, kata pamali sudah mulai dilupakan dan diabaikan. Bahkan, pamali untuk kebaikan diri sendiri sudah tidak dipedulikan, apalagi kalau melihat keadaan sekarang yang mengabaikan lingkungan dan alam. Hutan dirusak, pohon-pohon ditebang, kabuyutan dimusnahkan, dan tradisi dihilangkan.

Keindahan Alam

Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan ke sana. Semilir angin di pedesaan membawa pada ketenangan jiwa dan raga. Duduk di balai besar, sambil memandang hamparan sawah di depan mata. Tersaji hidangan singkong yang dilumuri gula dengan air teh hangat dan kopi tersaji di antara kami yang memang sedang berkunjung wisata ingin menelusuri Kampung Adat Kuta Ciamis. Mengenal kampung adat Kuta Ciamis sudah lama lewat cerita teman kerja, dia bilang dulunya berasal dari daerah Kuta Ciamis. Di sana diceritakan tentang sejarah kampung tersebut yang tidak lepas dari Kerajaan Galuh.

Bicara Galuh tentu tidak lepas dari wilayah Ciamis, karena daerah ini menjadi sentral Kerajaan Galuh. Kampung Adat Kuta pernah menjadi salah satu daerah yang menjadi ibukota negara Kerajaan Galuh, namun entah bagaimana berpindah, ada yang menyebutkan ke Kawali, yang sekarang disebut dengan Astana Gede Kawali.

Perjalanan ke sana memang sudah berlangsung lama sebelum pandemi, namun bila mengingatnya terasa baru kemaren melakukan perjalanan ke sana. Berwisata tanpa merusak lingkungan, bahkan menambahh imun ketenangan dan kenyamanan. Kampung ini berada di lembah, yang di kelilingi perbukitan. Kampung ini berada di daerah Tambaksari, yang memiliki museum fosil purbakala Tambaksari. Perjalanan ke sana akan melewati pesawahan dan perkebunan dari jalan raya nasional. Kita pun akan melewati Tambaksari, jadi bisa sekalian berkunjung ke museumnya.

Sepanjang jalan kita akan dimanjakan oleh pemandangan alam yang indah dan menawan. Sawah dan ladang terhampar dalam gerigi bukit yang indah. Kampung adat ini masih memiliki tradisi rumah adat Sunda, berupa rumah bilik. Di sini kita bisa memikmati panorama alam dan arsitektur bangunan rumah lama.

Lestarikan Adat dan Alam

Warga masyarakat Kampung Adat Kuta Ciamis masih melestarikan budaya adat. Setiap hal tidak lepas dari pamali, dari mulai membangun rumah, beraktivitas bepergian, dan bekerja, mereka memiliki aturan dan larangan yang sudah menjadi keseharian budaya mereka.

Bukan hanya dalam bangunan rumah, tetapi dalam bersosialisasi dan berkesenian, mereka memiliki ciri khas tersendiri yang sangat tradisi dan masih dijalankan sampai sekarang. Tidak heran bila berada di sana terasa nyaman, sejuk dan tenang karena suasana dan lingkungan yang membuat kita bisa menikmati alam. Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan.

Selain bentangan sawah, dalam beraktivitas, mereka memiliki perkebunan kopi dan aren. Tentunya, perkebunan ini berada di luar area leuweung gede. Kopi dan aren dapat mudah ditemukan di sepanjang kampung yang memang setiap rumah terdapat area kebun yang mendukung aktivitas ekonomi mereka. Untuk meningkatkan hasil perkebunan dan pertanian warga, dibutuhkan pelatihan dalam mengembangkan hasil tani dan kebun itu dapat diolah dan didistribusikan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi warga dan sebagai diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan.

9 thoughts on “Lestarikan Alam ala Kampung Adat Kuta Ciamis

Add yours

  1. Mamah mertuaku almh nih orang Ciamis. Kampung yang asri dengan suasana pedesaan yang masih natural. Kata ‘pamali’ ternyata udah sejak doeloe ada ya. Kita mesti berhati2 ketika akan mengerjakan sesuatu atau berkata2 karena konon akan ada akibatnya 🙂 Bersih sekali rumah2 adat di sana. Enak lihatnya.

    Like

  2. Kalau di suku Jawa, pamali disebutnya ora ilok. Kurang lebih sama, sesuatu yang enggak boleh dilakukan/dikatakan/dipikirkan di tempat-tempat tertentu atau waktu tertentu atau status orsng tersebut.

    Like

  3. Wilayah jawa barat itu emang ya, selalu punya karakteristik wisata hijau yang “Bikin seger mata”. Apalagi area Ciamis. Akutuh membayangkan kalau ada disitu pagi-pagi bakal ngehirup udara yang segerrrr banget. Dingin bgt gak sih kak?

    Like

  4. kata pamali juga ada di tempatku, teh. Kadang meski orang2 menganggap pamali itu adalah larangan yg mistis tapi menurutku itu bagus banget untuk diresapi, karena apa yang dipamalikan itu memang nggak layak untuk dilakukan ya..

    Like

  5. Orang tua kita sejak jaman dahulu sangat menjunjung tinggi apa yg telah diwariskan nenek moyangnya. Termasuk menjaga sesuatu yg dianggap keramat. Konon ‘pamali’ itu sebagai tuah agar orang tidak sembarang berbuat hal yg tidak semestinya. Jika dilanggar maka akan berakibat buruk pd yg melakukannya.

    Like

  6. Di daerahku di Ternate juga ada istilah yang maknanya sama kayak ‘pamali’, namanya boboso. Hal ini juga sering diingatkan sama orang-orang tua di sini.

    Btw, itu pemandangannya masih alami dan asri banget ya ampun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: