Kental Manis Bukan Susu

Di saat pandemi Covid-19 yang masih mengancam hingga sekarang, bukan hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga memengaruhi sosial ekonomi. Sebagaimana kita ketahui dari berbagai berita, bahwa pandemi telah membuat sekolah dilakukan secara online, perusahaan merumahkan karyawannya untuk bekerja di rumah, bisnis pun menjadi tersendat dan nyaris berhenti, perekonomian pun terus menurun. Di tengah berbagai himpitan ekonomi, kesehatan tetap menjadi yang utama, yang mana saat ini kesehatan menjadi peluang harapan hidup yang sangat tinggi. Di antaranya mengenai asupan gizi bagi anak, jangan sampai salah dalam memilih asupan makanan atau minuman, seperti kental manis, bahwa sesungguhnya kental manis itu bukan susu.

Menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup dan makan sehat dengan gizi yang seimbang, saat ini menjadi hal primer yang menjadi prioritas. Di antara pentingnya menjaga kesehatan, YAICI bekerjasama dengan PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU melakukan penelitian seputar kental manis.

Kental manis seringkali dianggap susu, bahkan sebelumnya bergulir iklan susu kental manis, padahal berdasarkan penjelasan BPOM, bahwa kental manis itu bukan susu. Menarik ketika kental manis yang secara komposisinya lebih mengandung glukosa banyak dikonsumsi oleh anak-anak. Padahal bila terlalu banyak konsumsi kental manis kurang bagus, karena kental manis memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi sehingga tidak dianjurkan untuk balita.

Balita merupakan tunas bangsa, generasi penerus yang melanjutkan estafet kehidupan, maka penting untuk calon-calon generasi emas ini dengan pemberian asupan gizi yang cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh anak. Banyak hal bisa diupayakan untuk membentuk imunitas anak, salah satunya adalah susu. Sebagaimana diketahui, susu memiliki banyak nutrisi bermanfaat yang juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Susu mengandung kalsium, protein, lemak, serta vitamin B1 dan C.  Selain itu, susu juga punya manfaat untuk menjaga tubuh kita agar selalu fit.

Jumat, 11 Desember 2020, YAICI bekerja sama dengan PP Aisyiyah dan Muslimat NU melakukan kerjasama penelitian seputar kental manis. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, SKM.MKM, Dosen Prod. Gizi, Fakultas Kedokteran dan  Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta mengingatkan pemberian susu untuk anak harus disesuaikan dengan kategori usia.

Melihat komposisi kental manis yang tidak sesuai dengan anak, maka dibutuhkan kesadaran orangtua dalam mengingatkan bahwa kental manis itu bukan susu. Pada dasanrya anak memang membutuhkan susu, dr. Tria menjelaskan bahwa untuk anak usia 0-6 bulan, berikan ASI ekslusif, karena zat gizi yang dibutuhakn anak usia 0-6 bulan pertama tersebut ada pada ASI. Setelah enam bulan, makanan pendamping ASI (MPASI) menjadi hal yang penting.

Selain ASI,  organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan anak untuk diberikan susu tambahan karena mengandung banyak zat gizi dan mikronutrient yang diperlukan dalam tumbuh kembang anak seperti fosfor dan kalsium. Namun, yang perlu diingat adalah tidak semua susu baik untuk dikonsumsi anak, salah satunya kental manis. Kental manis sebetulnya bukan susu, dilihat dari tabel kandungan gizi, kental manis memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi yaitu 55% per 100 gram.

Penelitian dilakukan pada tahun 2020 di 5 wilayah, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, NTT, Jawa Timur dan Maluku dengan total responden 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan atau 5 tahun. Dari penelitian ditemukan 28,96% dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan, dan sebanyak 16,97% ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Dari hasil penelitian juga ditemukan sumber kesalahan persepsi ibu, dimana sebanyak 48% ibu mengakui mengetahui  kental manis sebagai minuman untuk anak  adalah dari media, baik TV, majalah/ koran dan juga sosial media dan 16,5% mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan.

Hal yang menarik bahwa kategori usia yang paling banyak mengkonsumsi kental manis adalah usia 3 – 4 tahun sebanyak 26,1%, menyusul anak usia 2 – 3 tahun sebanyak 23,9%. Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia 1 – 2 tahun sebanyak 9,5%, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8% dan 6,9% anak usia 5 tahun mengkonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari. Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4% anak yang mengkonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, 26,7% berada pada kategori gizi kurang dan 35,2% adalah anak dengan gizi lebih.

Arif HIdayat selaku Ketua YAICI menyebutkan bahwa dari hasil penelitian tersebut menunjukan masih tingginya persentase ibu yang belum mengetahui penggunaan kental manis, terlihat bahwa memang informasi dan sosialisasi tentang produk kental manis ini belum merata, bahkan di ibukota sekalipun.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnuisa mengatakan bahwa media sangat memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat. Media memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang kental manis adalah susu. Sedangkan Erna Yulia Soefihara, selaku Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan bahwa ia dan kadernya di seluruh Indonesia mencoba untuk mengubah persepsi bahwa kental manis itu bukanlah susu yang bisa diminum untuk balita.

Demikialah, bahwa penelitian mengenai kental manis menunjukan bahwa iklan sangat memengaruhi masyarakat memilih kental manis untuk dikonsumsi. Semoga penelitian ini melahirkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi gizi yang seimbang sejak dini, atau balita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: