Koperasi, Sokong Ekonomi Rakyat

Koperasi, sokong ekonomi rakyat bukanlah hal yang niscaya. Tak terasa sudah setengah tahun berlalu dari ditetapkan masa pandemi, hidup dan mati menjadi warna di tahun 2020. Namun demikian, optimis dan harapan masih tetap ada dalam menjalankan kehidupan lebih baik dan menjadi lebih baik. Salah satu usaha dalam menjalankan perekonomian adalah dengan koperasi, suatu sistem yang diusung oleh Muhammad Hatta, proklamator Republik Indonesia, sebagai sistem kekeluargaan dan gotongroyong.

Di masa pandemi ini, kekeluargaan dan gotongroyong menjadi hal penting dan relevan dalam menjalankan aktivitas perekonomian dan pembangunan. Maka, koperasi bisa menjadi peluang dalam mengembangkan bisnis sekaligus membangun kesejahteraan. Kok bisa? Apakah masih ada peluang?

Kamis, 13 Agustus 2020, telah berlangsung webinar seputar koperasi yang diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) dengan tema, Masihkah Koperasi Menjadi Andalan? Webinar ini menghadirkan para narasumber ahli dan praktisi koperasi, yaitu Rully Nuryanto selaku Deputi Bidang Kelembagaan Kementrian Koperasi, Ahmad Zabadi selaku Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi, Firdaus Putra selaku Executive Committee ICCI, Ceppy Y Mulyana selaku Ketua KSP Sahabat Mitra Sejati dan Sugeng Priyono selaku Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA). Hadir pula Bapak Teten Masduki selaku Menteri Koperasi dan UMKM RI sebagai pemantik webinar.

Sangat menarik ketika Pak Teten Masduki selaku Menteri KUKM RI menuturkan mengenai mengembangkan koperasi lebih baik dari korporasi. Yang mana menjadi tantangannya adalah korporasi berlari cepat, koperasi pelan. Ini menunjukan masih kecilnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan koperasi. Bila dilihat di sektor pangan, kelembagaan koperasi pangan masih terasa kecil.

Saat ini, koperasi masih didominasi simpan pinjam. Artinya, koperasi belum bergerak pada sektor real. Ini sangat penting, bahwa nanti ke depannya dalam pengembangan simpan pinjam harus membantu pada sektor real. Dalam koperasi Simpan Pinjam juga ada beberapa koperasi yang diawasi, yaitu koperasi yang gagal bayar. Itu karena koperasi mengumpulkan uang dari anggota untuk usaha besar, kemudian terkena krisis pandemi.

Untuk mendorong koperasi besar, maka koperasi menjadi unit usaha bagi investor. Bila sekarang yang menyimpan di koperasi tidak mendapat perlindungan, maka diperlukan pembenahan untuk investasi. Di sini kita juga harus konsen dalam mendorong koperasi di sektor real,yang mana mendapatkan sektor domestik, bukan hanya sektor perdagangan pada jalur distribusi.

Koperasi seharusnya menjadi rantai perpanjangan masyarakat. Tidak mudah membantu petani dan pengrajin, tetapi ini menjadi tantangan yang harus segera dipikirkan bersama. Sektor unggulan Indonesia, seperti kelautan, komoditi seperti sawit dan kakao.

Koperasi juga diharapkan menjadi kelembagaan UMKM, bekerjasama dengan simpan pinjaman untuk channeling pembiayaan yang membangun dalam pembiayaan untuk UMKM. Koperasi simpan pinjam berani memberi pinjaman ke sektor real, bukan hanya ke perdagangan. Pemerintah pun berencana untuk membangun koperasi pangan, terutama di wilayah perhutanan dan produk tani yang menjadi pilot project, membuat koperasi dari hulu ke hilir.

Dari tuturan Pak Teten Masduki di atas menunjukkan bahwa saat ini pemerintah sedang menggenjot koperasi untuk dapat berlari lebih kencang, dan diharapkan mengungguli korporasi. Bukan hanya itu, koperasi bisa menjadi channaeling dengan sektor real seperti pangan. Koperasi juga bisa menjadi media hulu dan hilir sektor unggulan, seperti kelautan dan perkebunan.

Menyambut dari tuturan Pak Teten Masduki di atas, Rully Nuryanto selaku Deputi Bidang Kelembagaan Kementrian Koperasi menjabarkan mengenai koperasi yang tertuang dalam UU 25 Tahun 1992, bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dari hal tersebut bahwa koperasi sebagai lembaga ekonomi, lembaga sosial dan lembaga pendidikan.

Di era digital sekarang ini, koperasi masih sangat relevan untuk dapat dikembangkan dan berlari kencang. Pak Rully menggambarkan bahwa secara IT, warga yang menggunakan IT masuk pada usia millenial dengan melihat pada karakternya banyak yang berkomunitas dan memilih hidup berkelanjutan. Dalam menggunakan IT, banyak dilakukan dengan sharing ekonomi.

Ahmad Jabadi selaku Ahmad Zabadi selaku Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi memaparkan bahwa ada 4 jenis koperasi, yaitu koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi pemasaran, koperasi jasa dan koperasi simpan pinjam. Secara keseluruhan ada 123.048 unit koperasi dengan yang memiliki NIK ada 35.761 di Indonesia pada tahun 2019. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa koperasi belum menjadi pilihan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi.

Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk terus berinovasi dalam pengembangan koperasi. Firdaus Putra selaku Executive Committee ICCI memaparkan inovasi dalam koperasi. Salah satunya dengan mengikuti perkembangan IT, yang mana koperasi menjadi bagian dalam pengembangan IT, seperti aplikasi atau platform sharing lainnya. Ada platform fotograpi, aplikasi UKM, dan platform lainnya yang pada dasarnya bisa menggunakan sistem koperasi.

Dalam penerapan koperasi, Ceppy Y Mulyana selaku Ketua KSP Sahabat Mitra Sejati menuturkan bahwa dalam menjalankan koperasi harus jelas dalam regulasinya, terutama dalam jaminan kredibilitasnya, seperti penyaluran pinjaman kepada anggota dilakukan secara prudent, mempermudah koperasi dalam mengenali anggota, dan memberikan rasa aman kepada anggota. Bukan hanya itu, KSP Sahabat Mitra Sejati pun melakukan kolaborasi dengan koperasi lain, perbankan dan pendamping usaha.

Ketika Sugeng Priyono selaku Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA) menuturkan bahwa koperasi yang dia kelola memilih segmen anggota koperasi perempuan semua, maka koperasi ini lahir sebagai bentuk pemberdayaan perempuan. Ada 732856 anggota dengan 313 cabang koperasi di 146 kabupaten dan 13 provinsi.

Dari tuturan para narasumber tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya koperasi, sokong ekonomi rakyat. Koperasi merupakan kegiatan ekonomi yang sangat dekat dengan rakyat, dapat menjadi penyokong kesejahteraan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Di era IT sekarang, koperasi pun dapat diterapkan pada budaya IT sehingga koperasi semakin maju dan berinovasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: