Membangun Generasi Emas Bebas Stunting Sejak Dini

Membangun generasi emas bebas stunting sejak dini sangatlah penting. Nutrisi Keluarga beserta PP Aisyiyah mengadakan webinar yang mengupas tentang siap menjadi ibu pencetak generasi emas bebas stunting, yang diadakan pada hari Selasa, 27 Juni 2020, dengan narasumber Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS selaku dokter anak, Dr. Tria Astika Endah permatasari, SKM, M.Kes selaku PP Aisyiyah, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. selaku Psikolog Anak & Remaja, dan Ratu Anandita selaku Presenter/ Parenting Influencer.

Dengan dimoderatori oleh Maman Suherman, atau sering disebut Kang Maman ini sangat menarik dan memberi banyak masukan dan wawasan seputar nutrisi bagi perempuan dan anak. Banyak hal yang sering terabaikan padahal itu penting. Saya pun melihat bahwa menjaga kesehatan dengan pola makan dan hidup sehat ini harus dibangun sejak dini. Maka, tidak heran kalau ada istilah ummahatul ghad (ibu masa depan) pada remaja perempuan.

Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS selaku dokter anak menyebutkan bahwa calon ibu dalam pola makannya harus memiliki gizi lengkap seimbang, yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin dan air. Bagi ibu hamil, hal yang harus diperhatikan pada 1000 hari pertama pertumbuhan janin.

Dengan gamblang dr. Rachmat menuturkan bahwa kecerdesan sesorang sangat ditentukan 1000 Hari Pertama Kehidupan, dengan 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir. Maka, periode kehidupan anak 1000 Hari Pertama Kehidupan disebut dengan rentang waktu Golden Periode, Window oportunity.

Janin pada masa pertumbuhan 270 hari dalam kandungan memerlukan asam folat, tablet besi, vitamin D3, D6, dan DHA gizi lengkap seimbang, yaitu protein, KH, lemak, vitamin, mineral, air dan O2. Ibu hamil juga haru rajin melakukan pemeriksaan selama hamil, minimal 4 kali, yang disebut K1, K2, K3, K4 yang terakhir oleh tenaga kesehatan, seperti bidan, dokter anak, atau spesialis kandungan.

Pemenuhan nutrisi dan gizi pada janin dan bayi ini sangat penting, jangan sampai anak stunting. Karena dampak stunting itu sendiri adalah mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, berisiko PTM penyakit pola makan, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, mengakibatkan kerugian ekonomi dan postur tubuh tak maksimal saat dewasa.

Oleh karena itu, pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan anak, harus terpenuhi nutri dan gizinya. Pada saat itu menjadi pertumbuhan multiple intelejensi majemuk, yaitu saatnya perkembangan kecerdasan perilaku dan lainnya. Lebih lanjut, dokter Rachmat menyebutkan bahwa secara motorik kasar pada usia 3 bulan bisa angkat leher, 6 bulan bisa duduk, 9 bulan bisa berdiri dan 12 bulan bisa jalan. Untuk motorik halusnya dengan pegang APE, yaitu pada usia 6 bulan janin pada pendengaran, bicara bahasa pada usia 9 bulan sampai 36 bulan, reflek motorik, lalu tepuk tangan.

Untuk mengetahui kondisi bayi dengan buku KIA yang digunakan
untuk memantau pertumbuhan. Adapun untuk memantaui perkembangan bayi dengan buku SDITKA, yaitu untuk mengetahui digunakan untuk motoris kasar, motoris halus, melihat, mendengar, bicara dan sosial.

ASI sangat penting bagi bayi umur 0 sampai dengan 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, baru ditambah tambahan ASI dari 6 bulan sampai 2 tahun. ASI ini memiliki fungsi sebagai sumber tenaga, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Untuk susu tambahan ini bisa adapted started formula, follow up formula, complete formula, dan spesial formula.

Dari atas menunjukan bahwa susu tambahan bagi anak sebaiknya menggunakan susu formula. Adapun dengan adanya susu kental manis, dokter Rahmat tidak menganjurkan anak-anak mengkonsumsi susu kental manis (SKM), karena ternyata SKM itu bukan susu untuk anak, tidak mengandung susu, 2% mengandung glukosa. Oleh karena itu, SKM tidak dianjurkan diberikan pada anak dan remaja.

Dilanjutkan dengan dokter Tria Astika Endah permatasari, SKM, M.Kes dari PP Aisyiyah yang menekankan untuk mencegah stunting dengan pola asuh yang berupa gizi dan psikologis, asupan makan berupa isi piringku gizi seimbang, serta PHBS berupa akses air bersih, cuci tangan pakai sabun, dan jamban keluarga.

Agar anak terhindar dari stunting di antaranya dengan memerhatikan pengolahan pangan dengan tepat. Dokter Tria menyebutkan prinsip pengolahan makan, dengan:

  1. Select, memilih. Memastikan bahan pangan segar, bekualitas, bebas segala bentuk cemaran.
  2. clean, bersih. Membersihkan bahan pangan dan peralatan pengolahan pangan.
  3. Separate, memisahkan. Memisahkan bahan pangan nabati dan hewani. Begitu pula dalam membersihkannya dan peralatan yang digunakan dalam pengolahannya.
  4. cook, memasak. Memasak dengan tepat sesuai dengan kondisi dan usia anak.
  5. Chill. Menyimpan bahan pangan dalam pendingin dan mengatur suhu penyimpanannya.

Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. selaku Psikolog Anak & Remaja menuturkan situasi psikologis perempuan, dari mulai remaja putri sebagai ibu masa depan dalam menjaga mental agar selalu bahagia. Ratu Anandita selaku Presenter/ Parenting Influencer juga berbagi pengalaman ketika melahirkan di saat pandemik yang pada dasarnya menjelang lahiran harus memiliki persiapan, dari mulai pakaian dan cemilan ketika tiba-tiba waktu lahirannya tiba. Bukan hanya itu, peran suami sangat membantu secara psikologis kepada istri dalam mengasuh anak.

Dengan demikian, dalam mengasuh anak dan keberhasilan pengasuhan dengan sehat membutuhkan kerjasama tim, karena membangun generasi emas bebas stunting sejak dini tidak lepas dari kerjasama suami dan istri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: