Sawahlunto Batasi Iklan Rokok Pengaruhi Generasi Milenial

Generasi muda sekarang sering disebut dengan generasi milenial. Generasi yang menjadi tulang punggung negara, penerus bangsa. Untuk hal demikian, menjaga kesehatan generasi muda menjadi tanggung jawab bersama agar tumbuh dan besar dengan sehat dan segar. Salah satunya sehat dari terpaan asap rokok, maka Sawahlunto batasi iklan rokok pengaruhi generasi milenial dengan menerbitkan Perwako Iklan Rokok Tahun 2017.

Rabu, 24 Juni 2020 telah berlangsung diskusi Ruang Publik Kantor Berita Radio (KBR) dengan narasumber Dedi Syahendry selaku Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (Dinsos PMD-PPA) Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Bersama dengan NAhla Jovial Nisa selaku Koordinator Advokasi Lentera Anak.

Dedi Syahendry memaparkan bagaimana proses lahirnya Perwako Rokok Tahun 2017. Dengan jelas Dedi menuturkan bawah inisiasi pembatasan iklan tanpa rokok ini sejak tahun 2012, yang saat itu telah terbit PP Tanpa Tembakau. Maka, pada tahun 2013, Kota Sawahlunto mencanangkan sebagai Kota Layak Anak. Untuk menjadi Kota Layak Anak, maka harus sehat anak-anaknya, termasuk dari terpaan asap rokok, maka tahun 2014 sudah dimulai pergerakan menghapus iklan rokok, yang pada tahun 2017 terbit peraturan walikota tentang rokok. Pada tahun 2018, Sawahlunto tidak menerima sponsor dalam bentuk apa pun pada kegiatannya.

Sumber foto: Tirto

Lebih lanjut lagi Dedi menjelaskan bahwa penerimaan secara finansial sekitar 32 juta, maka agar PAD tidak hilang, mencari dari sumber yang lain. Tidak heran bila Sawahlunto dinobatkan sebagai kota heritage UNESCO sebagai kota tanpa rokok.

Nahla selaku koordinator dari Lentera Anak menguatkan bahwa kebijakan Pemerintah Kota Sawahlunto dengan menyebutkan bahwa kebijakan Perwako tersebut telah melindungi anak-anak Sawahlunto.

Kebijakan pemerintah daerah mengenai iklan tanpa rokok ini merujuk pada PP Nomor 109 Tahun 2012 pada pasal 32, 33 dan 34. Disebutkan pada Pasal 32 sampai 34 bahwa dalam rangka memenuhi akses ketersediaan informasi dan edukasi kesehatan masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya menggunakan Produk Tembakau. Ketentuan lebih lanjut mengenai Iklan Produk Tembakau diatur dengan peraturan instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penyiaran. Ketentuan lebih lanjut mengenai Iklan Produk Tembakau di media luar ruang diatur oleh Pemerintah Daerah.

Dengan demikian, pemerintah daerah, temasuk pemerintah kota dapat membuat aturan mengenai pembatasan rokok. Pada Perwako Nomor 17 Tahun 2017 disebutkan pada Pasal 3, bahwa ruang lingkup kawasan tanpa rokok meliputi; fasilitas pelayanan kesehatan, tepat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lainnya yang ditetapkan. Untuk sanksinya tertuang pada pasal 16 dengan sanksi berupa peringatan tertulis, penghentian smentara kegiatan atau usaha dan atau pencabutan izin.

Perwako Sawahlunto sendiri tentunya tidak lepas dari rujukan PP Nomor 109 Tahun 2012, yang terdapat pada pasal 26 sampai 31. Pada pasal 26, disebutkan bahwa pemerintah melakukan pengendalian iklan produk tembakau. Pengandalian iklan produk tembakau dilakukan pada media cetak, media penyiaran, media teknologi informasi, dan/atau media luar ruang.

Perwako Sawahlunto bisa menjadi salah satu contoh dalam penerapan batasan iklan rokok. Saya pernah ke daerah Sumatera Barat, untuk Kota Sawahlunto sendiri hanya sempat lewat saja, belum sempat menikmati keindahannya.

Keberhasilan Kota Sawahlunto sebagai Kota Bebas Iklan Rokok sekaligus Kota Ramah Anak menunjukan keseriusan pemerintah Kita Sawahlunto dalam menjaga kesehatan anak-anak nagari sebagai generasi muda yang sehat dan cerdas.

Apalagi di saat pandemi sekarang yang menyerang tenggorokan dan paru, maka menghindari paparan asap rokok sangat penting. Saya sendiri lebih baik menghindari orang yang merokok, dan kebetulan di rumah kami tidak ada yang merokok. Hanya saat di luar, harus siap masker untuk menghindari asap rokok.

Penerapan Perwako Nomor 17 Tahun 2017 menjadi pengejawantahan aplikasi pada PP Nomor 109 Tahun 2012, yang pada Pasal 27 membahas mengenai pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dilakukan sebagai berikut:

a. Mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari total durasi iklan dan/atau 15% (lima belas persen) dari total luas iklan;

b. Mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam Iklan Produk Tembakau;
c. Tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk Rokok atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek Produk Tembakau;
d. Tidak mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah Rokok;
e. Tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan;
f. Tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan;
g. Tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok;
h. Tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
i. Tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
j. Tidak menggunakan tokoh kartun sebagai model iklan; dan
k. Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pada pasal 28 meyebutkan bawa iklan produk tembakau di media cetak
wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak diletakkan di sampul depan dan/atau belakang media cetak, atau halaman depan surat kabar;
b. Tidak diletakkan berdekatan dengan iklan makanan dan minuman;
c. Luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
d. Tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan perempuan.

Pada Pasal 29 menjelaskan mengenai waktu tayang iklan, yaitu iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat. Dan pada Pasal 30, disebutkan bahwa iklan di media teknologi informasi harus memenuhi ketentuan situs
merek dagang Produk Tembakau yang menerapkan verifikasi umur untuk membatasi akses hanya kepada orang berusia 18 (delapan belas) tahun ke atas.

Pasal 31 menjelaskan mengenai iklan di media luar ruang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak diletakkan di Kawasan Tanpa Rokok;
b. Tidak diletakkan di jalan utama atau protokol;
c. Harus diletakkan sejajar dengan bahu jalan dan tidak boleh memotong jalan atau melintang; dan
d. Tidak boleh melebihi ukuran 72 m2 (tujuh puluh dua meter persegi).

Demikianlah, pada dasarnya kebijakan PP Nomor 109 Tahun 2012 telah mengatur iklan rokok, dan Kota Sawahlunto meresponnya dengan kebijakan yang berupa Perwako Nomor 17 Tahun 2017, sehingga tidak heran bila Kota Sawahlunto menjadi Kota Layak Anak.

Iklan Rokok Pengaruhi Generasi Millenial

Tidak dapat dipungkiri bahwa merokok sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Suatu kebiasaan yang telah menjadi gaya hidup, sehingga terasa sulit untuk dilepaskannya. Padahal, orang yang terpapar asap rokok dapat mengakibatkan PPOK, yaitu Penyakit Paru Obstruktif Kronis, suatu penyakit peradangan paru.

Gejalanya diawali dengan sesak napas, mengi dan batuk berlendir. Penyakit ini merupakan penyakit paru jangka panjang. Dan bisa berkembang menjadi penyakit jantung dan paru-paru. Semakin lama merokok, maka semakin meningkatkan resiko terjangkit PPOK.

Untuk menghindari kebiasaan merokok ini, terutama bagi generasi milenial, pemerintah Indonesia membuat peraturan pemerintah berupa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Mengenai peraturan batasan iklan ini terdapat pada pasal 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, dan 34.

Nahla menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian UHAMKA mengenai iklan rokok Tahun 2007 menyebutkan bahwa iklan rokok memengaruhi generasi muda. Kebijakan peraturan pembatasan iklan rokok ini sangat membantu dalam melindungi anak-anak.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menyebutkan bahwa sebanyak 18,3 persen remaja usia 15-19 tahun menjadi perokok aktif, sedangkan pada kelompok anak usia 10-14 tahun mencapai 1,4 persen. Hal ini menunjukan bahwa masih banyakanya perokok aktif pada anak-anak.

Iklan menjadi salah satu hal yang memengaruhi anak muda, karena brand image iklan rokok membangun keberanian dan kreatif. Brand image inilah yang dapat memengaruhi generasi milenial untuk tergoda merokok. Dengan adanya Perwako Nomor 17 Tahun 2017, Sawahlunto Batasi Iklan Rokok Pengaruhi Generasi Milenial.

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini https://m.kbr.id/intermezzo/05-2020/yuk__ikuti_lomba_blog__putusinaja__berhadiah_total_21_juta/103163.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: