Sebuah Takdir, Menapaki Keikhlasan Kehendak Tuhan

Sungguh berasa berat menerima suatu kehilangan. Seseorang yang senantiasa hadir hampir setiap hari, kini pulang ke ilaihi rabbi.

Pagi itu masih merasa tidak percaya ketika mendapat kabar meninggalnya guru sekaligus teman, serta Bapak yang tiba-tiba. Saya tetap melangkah dan bersegera menuju ke rumah duka.

Air mata belum mengalir, karena pikiran dan hati masih menginginkannya ada. Menolak kepergiannya meski jenazahnya sudah ada di hadapan.

Dengan lirih dalam hati dan pikiran berujar, “Pak, bangun… Tidurnya jangan lama-lama.” Suatu keinginan dan pertentangan bahwa dirimu telah tiada.

Ketika saatnya dishalatkan dan dimakamkan, air mata deras mengalir, meratap kepergianmu. Dirimu pergi, tetapi aku merasa masih tetap ada.

Air mata tak dapat dibendung, karena kepergianmu, sungguh membuatku kehilangan. Kaki melangkah seakan tanpa arah, pikiran melayang pada saat-saat perjalanan yang tidak akan terlupakan.

Syak wasangka pun bergejolak, menangis dan merutuk diri yang sungguh tak berbakti. Banyak teguran yang terhantarkan sebelum dirimu meninggal, membuat diri ini semakin terpuruk dengan penyesalan.

Setiap lintasan kenangan datang, tangisan terus mendera. Yup, selama hampir tiga hari dalam kebingungan dan tangisan, padahal secara logika sudah diingatkan, bahwa ini sesungguhnya takdir Tuhan.

Perjalanan ini akan mudah bila Tuhan berkehendak untuk sembuh dan sehat sedia kala, tetapi takdir Tuhan memilihmu pulang. Bukanlah selama ini berkayakinan bahwa setiap langkah dan desah napas atas kehendak-Nya. Lalu, kenapa meratap atas kepergiannya?

Kadang juga terlintas berbagai pengandaian, andai ini dan itu, dan kembali melupakan semua atas takdir Tuhan. Saat itulah penderitaan atas kepergiannya terasa berat dan menyakitkan.

Kadang sadar semua takdir Tuhan. Teringat kisah Umar bin Khathab yang menolak dan marah kepada orang yang mengatakan Nabi telah meninggal. Oh, begini mungkin perasaan yang dirasa Umar ketika ditinggal Rasulullah.

Takdir, suatu ketetapan yang secara logika seperti mudah diterima, tetapi tatkala sedang dalam keadaan duka dan banyak prasangka, maka menetapi perjalanan takdir itu sangat terasa berat.

Dua minggu telah berlalu, tetapi dirimu masih terasa ada, Guru. Pikiran yang merayap mengantarkan kembali mengenang dan mengandai-andai. Maka, menerima kepulanganmu pun berasa menjadi buyar kembali.

Menetapi takdir, seperti menelusuri sang dada dan jiwa. Ikhlas itu menetapinya dengan sungguh-sungguh. Karena betapa mudah goyahnya diri untuk kembali mengandai-andai dan menolak takdir.

Kaki yang melangkah masih berasa goyah, tetapi hati, pikiran dan badan terus diajak bergerak, bergerak untuk menerima ketetapan takdir dan menjalankan keikhlasan. Dalam menetapi ikhlas, ikhlas itu berasa hidayah. Karena bila Tuhan sudah mencabut segala kegelisahan dan kegundahan, maka ikhlas akan menyertai. Maka, dalam doa dan gerak, menetapkan ikhlas dalam menjalankan takdir Tuhan, termasuk menerima kepulanganmu, Tuan.

Allhumaghfirlahu warhamhu wa’afuhi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wasi’ madkholahu. Amin. Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: