Ketika Posting Makanan di Masa Karantina

Sungguh hal yang menarik, ketika posting makanan di masa karantina menjadi ajang perdebatan yang lumayan lama di lini masa banyak yang menulis status tentang posting makanan. Saya sendiri kadang-kadang suka posting makanan, malah kalau iseng aspret (asal jepret) makanan aja saya posting di beberapa media sosial.

Awalnya tergelitik riuhnya teman lini masa mengenai postingan pendapat yang melarang posting makanan. Pun sebaliknya, postingan yang mendukung anjuran larangan posting makanan. Paradoks, dan sayu pun masuk di sana, mengomengatari postingan yang melarang posting makanan dan postingan yang komentar atas larangan tersebut. Lalu, apa bedanya saya dengan mereka? Ternyata sama, sama-sama komentar.

Telusur kasus, sudah ramai pendapat mengenai posting makanan di media sosial di saat karantina. Ini berasal dari anjuran untuk sebaiknya tidak posting di saat pendemik untuk menghormati yang tidak punya makanan. Tak lama bergulir postingan yang mempertanyakan larangan tersebut. Dan seperti biasa, sindir sampir mewarnai media masa tentang posting makanan.

Sudah agak mereda, ada publik pigur yang posting anjuran tidak posting makanan di saat pendemik, maka tak ayal lagi para netizen pun mengimentarinya. Dari beberapa yang lewat di lini masa, alasan posting makanan sebagai hiburan, melepas kejenuhan di rumah, dan mempertanyakan kenapa melarang posting makanan.

Menarik melihat banyak pesan bersliweran tentang makanan, ibarat di sebuah kampung sedang nongkrong di warung Facebook, maka pengunjungnya saling mengeluarkan pendapat. Ada yang terang-terang mempertanyakan dan memberi alasan, ada yang menyindir.

Saya jadi teringat kata McLuhan, kalau internet itu global village, ibarat sebuah desa yang di dalamnya ada warga, komunitas dan lain-lain. Dari jalan-jalan di global village, saya menemukan postingan yang menyetujui sang seleb dan mengaitkannya dengan hadis Rasulullah tentang membanyak sayur untuk dibagikan ke tetangga.

Saya pun tersadar, sebelumnya hanya ngamatin, bahwa tidak posting makanan sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak menyakiti yang tidak memiliki makanan. Saya pun paham bagi yang komentar buat yang larang, karena mereka pada dasarnya baik dan rajin sedekah, maka berbagi sudah mereka lakukan. Rata-rata menyebutkan posting makanan sebagai hiburan.

Dari pro kontra tersebut, saya melihatnya sebagai paradoks. Dua-duanya mengusung kebaikan. Keduanya bisa sama benarnya dengan referensi persepsi kebaikan dan penilaian. Pun termasuk tulisan ini, menjadi paradoks tergantung dari persepsi pembacanya, akan dimaknai kemana, atau hanya baca tanpa makna.

Hadis yang anjuran memperbanyak kuah sayur ini sebagai salah satu pesan Rasul pada Abu Dzar Al Ghifari. Ketika memasak sayur, perbanyak kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu. Anjuran untuk sedekah, dan menghormati tetangga yang sudah mencium wangi dari masakan kita.

Abu Dzar Al Ghifari dikenal dengan sifat zuhudnya, dan dia pun pernah dalam keterasingan di wilayah terpencil, tanpa tetangga. Bila karantina ini menjadi wadah membatasi diri dari interaksi, maka sesungguhnya mengajak untuk kontemplasi seperti Rasulullah yang setiap Bulan Ramadhan ke gua hiro untuk berkontemplasi. Sayang, sepertinya saya belum berada pada tahap mengasingkan diri dari interaksi sosial, tetapi meski sendiri di kosan aja, saya malah sibuk di global village, media sosial.

Saya melihat kasus tersebut menjadi hal yang paradoks. Semoga hari ini lebih dari hari kemaren, dan semoga Allah meridhoi dan merahmati kita semua. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: