Megan (Prolog)

Awan tebal masih menggelayut pada langit gelap di tengah siang selepas turun air hujan. Tidak ada yang menyangka bahwa setiap turun hujan, Megan selalu menatapnya tanpa kedipan. Di antara rinai hujan, butiran air menyimpan harapan.

Megantara Jayadiningrat, perempuan yang sudah separuh sata menatap langit, terdengar hembusan napasnya yang terdengar berat.

“Sudah waktunya aku melangkah, tidak terpaku pada duka perkataan orang,” lirihnya. “Aku mungkin seperti dikatakannya, bukan perempuan baik yang memiliki hati suci bersih, tapi haruskah aku terpaku dengan kata-kata tersebut?” Wajahnya menengadah ke langit gelap, “Aku memang salah, tapi aku harus tetap melangkah, Tuhan Maha Pengampun dan Pengasih bukan?”

Air matanya mengalir, “Aku bertaubat, tapi bagaimana kalau aku kembali berbuat salah? Dan dikatakan bahwa aku orang yang bandel, tidak berubah dan tidak ada peningkatan iman?”

Hembusan napas Megantara seakan ingin melepas segala kegalauannya, “Yups, aku harus berubah dan bertindak. Maafkan aku, tidak menghubungi selama seminggu atau sebulan menjadi pilihanku. Namun aku akan tetap membantu mengobati dan mendoakanmu. Ini bukan pilihan, tapi ini yang menjadi alternatif pilihan. Oh, Tuhan, mohon petunjuk-Mu.”

Kicau burung di halaman rumah menyadarkan Megantara, dia masuk ke dalam rumah, dan memilih berbaring karena lelah pikiran.

“Cikradana, jangan lelah untuk menemaninya, ingatlah kisah Ayub, yang mendapat kesakitan padahal dia memiliki kesaktian,” Sapa sang kakek yang hadir di antara dua bayang-bayang.

“Iya Kakek, aku akan menaati kata kakek. Tapi kenapa dia selalu mengatakan keburukanku, Kek… Padahal aku tidak ada niat buruk atau menyakiti, hanya mengungkapkan pendapat, Kek.. Apakah sebegitu buruknya lisan dan tanganku, Kek?”

“Kadang orang merasa tahu padahal tidak tahu. Menilai padahal tidak memiliki penilaian. Ingatlah, jangan terlalu memikirkannya, fokuslah pada Tuhan-Mu, bukan dia atau mereka.”

“Tapi dia mengetahui niat dan isi hatiku, Kek?”

“Benarkah?” Tanya sang kakek, “Kalau mengetahui, tidak ada kata-kata atau tulisan yang seperti itu. Sesungguhnya ketika menilai, maka yang dinilai hanya kulit luarnya, sensor rasa pun itu hanya lapisan keduanya, dan yang disebutkan itu berada pada lapisan kedua.”

“Saya belum paham Kek, memang ada berapa lapisan untuk mengetahui isi hati dan niat rasa?” Sela Megantara.

“Hmmm… Ada tujuh lapisan, dan seringkali manusia terjebak pada lapisan pertama dan kedua. Lapisan kedua inilah yang membuat orang menjadi tahu padahal tidak tahu. Namun 7 lapisan itu pun, pada dasarnya hanya Tuhan Yang Maha Tahu,” kata Kakek sambil tersenyum.

“Apakah ada sampai ke lapisan ketujuh, Kek?” Tanya Megantara penasaran.

“Ada, tetapi hanya sedikit makhluk saja,” Sang Kakek mengusap kepala cucunya. “Sudah ya, jangan lagi bersedih atau menangis, itu adalah sebuah ujian perjalanan hidup, baik bagimu atau baginya.”

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian burung, membangunkan Megantara dalam lelapnya mimpi siang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: