Lip Service dalam Dasa Muka (Bagian 1)

Tidak jauh dari Megantara, sebuah buku yang bertema komunikasi tergeletak tanpa dibaca. Pagi ini Megantara kembali gelisah karena perdebatan yang berujung penilaian, bahwa dirinya lip service.Seperti ada yang menonjok pada Ulu hatinya, Megantara diam terbengong menatap dinding tak berwarna. Sekali lagi penilaian pun jatuh pada dirinya.“Tuhan, apakah benar segala ucapan saya sekarang menjadi basa basi?” Tangannya meraih boneka lumba-lumbanya lalu memeluknya. “Aku merasa sudah hati-hati dalam bicara dan menulis, terkadang malah iri pada orang yang bisa bicara semaunya. Ternyata tidak, ucapan dan tulisanku sudah dianggap menjadi pisau tajam.”Semakin erat Megantara memeluk lumba-lumbanya, terlihat pesan masuk yang menekankan bahwa dia manusia yang keji, karena belajar bertahun-tahun tidak ada penambahan, dan tidak menjadi lebih baik.Kembali Megantara merunduk dan menangis, bahwa ternyata perjalanan hidupnya berasa sia-sia. Dia menangis sejadi-jadinya.Petir menggelegar, berkasan sinar kilat terlihat jelas. Tis…tis…suara rintik air menjadi derasnya air hujan. Megantara menangis di antara petir dan halilintar hingga tertidur di bawah derasnya suara air hujan.***”Ketika aku datang kenapa engkau diam?””Maafkan hamba, Tuan.” Tangan menyatu di depan dada, “Hamba menunggu titah, Tuan.””Baik, kesewenang-wenangan yang dialami terjadi belum mampu raganya menahan beban. Ucapan atau tulisan itu tak seindah pada kisah-kisah yang kami tuturkan.””Baik, Pangeran.””Dasa muka masih melekat, maka ketika kupaksa lepas, merintih dan menanyakan segala hal, padahal sudah diberi dasar untuk dijadikan pegangan, ternyata hanya mampu dibaca, tanpa dicerna dan dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.””Baik, Gusti.””Hal yang menjadi cermin lip service dasa muka, jika terpenuhi keinginannya Kami ada, jika tidak kami pun menjadi setan. Sungguh ironis, padahal kabar yang diberikan untuk realisasi membutuhkan keyakinan, bukan nafsu dan ketakutan. Apakah aku setan?””Hamba tak berani menjawab, Gusti.””Sudahlah, pragmen ini cukup sekian, dasa muka silakan menggunakan muka siapa yang akan digunakan, Kami pun tak ingin campur tangan.”***”Bacalah kitab pelan-pelan, jadikanlah untuk dirimu seorang, bukan dia atau mereka. Biarkan pesan itu menguatkanmu, dasa muka harus dilepaskan setiap tahap, dalam melepaskannya, mintalah petunjuk Tuhan, bukan kami atau mereka.”Tok… Tok… Tok… Suara pintu pelan kemudian nyari masuk di antara sadar dan tidak. Kelopak mata Megantara terbuka, suara ketuk pintu terdengar jelas diiringi lirih yang memanggil namanya, “Megan… Megan… Megan…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: