Anak Ayam (Syair)

Jangan menangis, ada Allah yang menyertai. Ketika semua orang pergi, bahkan orang yang dipercaya menjadi beda dan memilih untuk menghina, anggap saja sebagai kritikan. Dia ada untuk mengingatkan, tetapi jangan terlalu dipikirkan karena Tuhan ada beserta dengan jejak kehidupan dalam tarikan napas.

Ketulusan manusia itu terbebas dari penilaian, karena penilaian yang memisahkan sudut kasih sayang. Tidak disangka semua menjadi butiran-butiran debu dalam kilang waktu yang cukup lama. Sesuatu yang menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia itu berubah sesuai dengan keadaan, bukan dengan hatinya.

Sebutir telur yang telah menetes menjadi anak ayam, telah dibuang dengan alasan sering mematuk dan berlarian. Menjadi anak ayam bukanlah tidak memiliki aturan, tetapi dia butuh pengarahan, bukan hanya cambukan dan penyebutan buruk pada anak ayam terus-terusan.

Anak ayam menatap induk yang telak merawatnya ketika masih dalam bentuk telor, kini hanya saling menyakiti hanya untuk menunjukkan eksistensi diri.

Anak ayam melangkah dan ingin berlalu dari perjalanan yang sudah seperti tidak lagi menerimanya sebagai anak ayam. Anak ayam berterima kasih karena sudah memberi bantuan selama menjadi telur, dia pun bertekad membantunya sehingga ketika beban jasa menjadi terlepas.

Anak ayam tidak berharap untuk berada di lingkungan yang sudah tidak menginginkannya lagi, maka menjadi hal terbaik melepaskan, terima kasih Tuan…

One thought on “Anak Ayam (Syair)

Add yours

Leave a Reply to peralatanbakery Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: