Trip Sunda Kelapa, Titik Nol Batavia dan Acaraki

Dalam sebuah perjalanan, lautan menjadi bagian dalam mengarungi setiap detaknya. Pelabuhan Sunda Kelapa, salah satu denyut nadi perdagangan pada jaman Pajajaran, kemudian VOC. Pelabuhan Sunda Kelapa membawa spirit kerja, perdagangan dan alur bolak balik persinggahan. Di sini banyak kisah dan cerita perjuangan dan perjalanan dalam menempuh hidupnya. Trip Sunda Kelapa, Titik Nol Batavia dan Acaraki menjadi jejak dalam perjalanan saya bersama Komunitas Indonesia Sosial Blogpreneur dengan Aqua Lestari dan Nexcare Indonesia.

Kamis, 26 September 2019, selepas shalat Subuh, saya langsung bergegas ke Stasiun KRL, naik kereta arah Kota. Memilih pagi sekali agar terhindar dari kepadatan penumpang yang berangkat kerja, maka saya memilih subuh-subuh berangkat meski KRL sudah penuh tetapi tidak terlalu padat.

Setelah perjalanan 1 jam lebih, saya ngecash handphone sambil nunggu teman-teman lainnya. Stasiun Kota yang orang jaman dulu mengenal Beos ini memiliki arsitektur klasik kolonial Belanda, meski menunggu lama saya berasa tetap betah tinggal di sana. Setelah kumpul, kami berangkat ke dekat cafe Acaraki untuk melanjutkan perjalanan ke Sunda Kelapa.

Dengan menggunakan masker Nexcare Indonesia saya memulai perjalanan menuju Sunda Kelapa. Dipandu oleh Ka Ira Latief tour guide Jakarta Foodtraveler, saya menambah pengetahuan seputar Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sini banyak kapal kayu yang membawa barang-barang ke seluruh penjuru Indonesia, termasuk ke Papua. Kapal-kapal kayu ini terlihat klasih namun sangat mahal harganya bisa 1 atau milyar, bisik Ka Ira.

Kapal-kapal kayu ini bermodel pinishi, kapal khas Indonesia yang menjadikan kita terkenal sebagai negara maritim dan penjelajah lautan. Saya teringat dengan beberapa kisah penjelajah Nusantara yang bisa sampai ke Madagaskar. Belum lagi dengan para penjelajah yang membedah lautan.

Pelabuhan Sunda Kelapa yang saya tahu sudah ada sejak jaman Pajajaran, di sini sebagai salah satu sentra bisnis antar bangsa dengan Pajajaran. Terbayang bagaimana hilir mudiknya arus perjalanan dagang antara warga dengan para pendatang. Pelabuhan ini menjadi tujuan dari alur aliran sungai dari berbagai daerah. Saya pernah mendengar bagaimana jaman dulu transportasi sering dilakukan lewat jalur air. Perjalanan dengan menelusuri sungai-sungai menuju hilir, alias Pelabuhan Sunda Kelapa. Oleh karena itu, menjadi pekerjaan rumah bersama untuk turut menjaga air dan aliran sungai sehingga sungai menjadi aliran air yang bersih dan jernih.

Aktivitas Sunda Kelapa ini diteruskan oleh VOC, kongsi dagang yang sengat besar di dunia sehingga pada perjalanannya mereka menguasai tanah air Nusantara, bukan hanya sumber daya alamnya saja. VOC membangun berbagai benteng dan mengadakan perluasan dengan rekalamasi yang sekarang menjadi pelabuhan Sunda Kelapa, itu hasil dari reklamasi pada jaman Belanda.

Matahari yang mulai meninggi, lumayan menebar banyak debu. Untungnya kami menggunakan masker Nexcare, berikut manfaat dari masker Nexcare:

  • Masker sehari-hari dengan 3 lapis filter yang melindungi saat sakit. Ada Daily Kids Mask, Daily Mask, dan Daily Hijab Mask.
  • Masker Ekstra, dengan 3 lapis filter dan tambahan lapisan filter karbon aktif, melindungi dari polusi dan bau tidak sedap. Seperti Nexcare™ Ekstra Carbon Mask.
  • Respirator KN95 Air Pollution & Haze, dengan filter Elektrostatis, melindungi dari asap dan polusi tinggi. 95% efektif menyaring partikel berukuran hingga 2.5 mikron.

Selanjutnya menuju mercusuar. Kami diajak ke Mercusuar Syahbandar berdekatan dengan Museum Bahari. Di Mercusuar yang mirip menara pitsa karena kemiringannya sangat terlihat, terdapat prasasti titik nol Batavia. Dengan bertuliskan bahasa Tiongkok, disebutkan di sana sebagai Titik Nol Batavia yang menjadi titik acuan awal wilayah Batavia.

Saya di sini istirahat dulu sebentar sambil melepas haus dengan minum Aqua. Dengan selalu membawa air minum, yang diusahakan sehari minum air putih 8 gelas sangat penting untuk menjaga kesehatan. Air minum Aqua akan selalu menjadi pilihan, dimana Aqua merupakan merek dari Danone yang merupakan perusahaan multinternasional yang memproduksi berbagai jenis makanan dan minuman.

Berlanjut ke Museum Bahari, di sini tersimpan kisah kekayaan Nusantara yang terkumpul di sini. Istilahnya, pada masa VOC, museum Bahari sekarang dulunya gudang rempah-rampah senusantara yang akan diangkut ke luar negeri oleh VOC. Kekayaan sumber daya alam Indonesia terkumpul di sini, kemudia secara bertahap diangkut oleh VOC.

Mendengar paparan Ka Ira, saya pun teringat dengan nama-nama pertanian dan perkebunan di seputar Kota Tua, seperti ada nama jalan cengkeh. Tentunya, jalan-jalan tersebut dulunya ngudang-gudang penyimpanan sebelum dikumpulkan di Museum Bahari dan diangkut melalui kapal oleh VOC.

Museum Bahari ini juga terdapat para penjelajah lautan dunia, salah satu yang hadir adalah patung Malahayati, perempuan pertama dunia yang menjelajah lautan dan berperang di laut melawan para penjajah. Perempuan asal Aceh ini memimpin para inang atau janda-janda perang dalam berjuang melawan para penjajah.

Konsep pahlawan tanpa batasan gender, laki-laki ataupun perempuan bisa tampil dalam membela kehormatan diri, kehormatan keluarga dan kehormatan tanah air dari para penjajah yang merudapaksa dan mengekploitasi kekayaan Nusantara.

Ada kisah manis dan pahitnya, itulah perjalanan, itulah kehidupan. Seperti Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai tempat persinggahan, maka pada hakikatnya dunia ini pun sebagai persinggahan dalam menjalankan aktivitas, baik atau buruk, semua tergantung dari niat yang terimplementasi pada aktivitas sehari-hari.

Salah satu yang menjadi implementasi sekarang ini dengan melestarikan budaya dan tradisi Nusantara berupa minum jamu. Sajian jamu yang kreatif dan inovasi bisa kita temui di Acaraki, salah satu cafe yang berada di kawasan Kota Tua, belakang Museum Fatahillah, yang khusus menyajikan varian jamu tradisional Nusantara.

Istilah Acaraki sendiri berasal dari Bahasa sansakerta, yang berarti peracik jamu. Acaraki sebagai sosok peracik jamu bukan sembarang peracik, ibarat barista tetapi dalam racikan penuh dengan semangat spiritual. Dengan demikian, jamu lahir bukan hanya sebagai minuman kesehatan, tetapi sebagai tradisi yang penuh filosofi dan kebermaknaan dalam kehidupan.

Di sini, kami diajari cara membuat jamu dan cara pembuatan jamu khas Acaraki. Demikianlah, budaya bukan hanya jejak, tetapi yang membentuk kita saat ini, dan menjadi benteng untuk perkembangan budaya yang akan datang. Selamat jalan-jalan dan berakhir pekan… 🙂

5 thoughts on “Trip Sunda Kelapa, Titik Nol Batavia dan Acaraki

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: