Mengenang Pak Sutopo, Sebuah Catatan Waspada akan Perokok Pasif

Tertegun ketika membaca berita meninggalnya Pak Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sosok yang menjadi garda depan dalam memberi informasi tentang kebencanaan telah meninggal dalam perjuangannya melawan penyakit kanker paru stadium IVB. Beliau meninggal ketika sedang berobat di Guangzhou, Cina. Dalam mengenang Pak Sutopo, sebuah catatan waspada akan perokok pasif penting rasanya untuk menjadi titik tolak dalam mengingat untuk awas diri agar terhindar dari paparan asap rokok.

Pak Sutopo meninggal dunia pada hari Minggu, 07 Juli 2019, pukul 02.00 waktu Guangzhou atau pukul 01.00 WIB. Kabar duka tersebut diinfokan oleh akun twitter Direktorat PRB. Betapa sedih membaca beritanya, hampir semua lini masa di media sosial mengucapkan turut berduka cita kepada Pak Topo.

Mengenang Pak Sutopo, Sosok Terdepan Pemberi Informasi Bencana

Saya mengenal profil beliau dari media sosial. Beliau mengabarkan informasi bencana dan penanggulangannya, salah satunya lewat media sosial twitter. Pada bio akun twitternya tertulis, “Penyintas kanker paru-paru stadium 4B. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Berjuang untuk sembuh dari kanker, tetap sabar, ikhtiar, semangat dan berdoa.”

Pada akun twitternya, beliau membagi informasi peta prakiraan cuaca dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional pada tanggal 15 Juni. Info letusan Gunung Sinabung pada tanggal 9 Juni. Dalam sakitmu, Pak… Engkau tetap memerhatikan lingkungan dan alam.

Pak Sutopo, yang bernama lengkap Sutopo Purwo Nugroho lahir di Boyolali pada 7 Oktober 1969. Beliau anak pertama dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. Usia yang relatif masih muda menjelang umur 50 tahun. Namun, sakit yang dideritanya telah mengantarkannya kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Perjalanan pendidikan beliau, sejak SD, SMP, hingga SMA bersekolah di Boyolali, kemudian melanjutkan kuliah ke Universitas Gajah Mada jurusan Geografi dan meraih gelar sarjana pada tahun 1993 dengan predikat lulusan terbaik. Lalu berlanjut S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor. Pengetahuan dan ilmunya sangat luas, bahkan beliau pernah direkomendasikan menjadi profesor di LIPI.

Dalam jenjang karirnya, Pak Sutopo mulai bekerja di instansi pemerintah sejak tahun 1994 di Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT) sebagai pegawai di bidang penyemaian awan, kemudian didaulat untuk membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga bekerja penuh untuk lembaga tersebut. Pada tahun 2010, dia dipercaya sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di tahun yang sama pada bulan November, Sutopo kemudian didapuk sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB hingga saat ini.

Namun, sekitar awal 2018 beliau didiagnosa sakit kanker paru stadium 4B. Berdasarkan berbagai sumber, beliau merasa kaget dengan penyakitnya, karena selama ini dia tidak merokok dan di keluarganya pun tidak ada yang merokok. Pun dalam gaya hidupnya, beliau termasuk dalam gaya hidup dan pola makan sehat. Setelah ditelusuri, ternyata lingkungan kerjanya yang masih banyak perokok aktif, sehingga beliau terpapar menjadi perokok pasif.

Sakit paru merupakan penyakit tidak menular, yang salah satunya penyebabnya disebabkan oleh asap rokok. Pada unggahan di instagramnya 16 Februari 2018, Pak Sutopo menyebutkan kalau dirinya menjadi perokok pasif yang menyebabkan kanker paru-paru bersarang di badannya.

Berjuang Melawan Sakit

Kesakitan yang dideritanya, tak menghalangi kinerja dan profesionalismenya dalam bekerja. Ini dapat dilihat pada informasi yang dibagikannya di media sosial seputar alam dan kewaspadaan terhadap bencana.
Sakit yang diderita akibat penyakitnya dengan mengalami skoliosis pada tulang belakang. Semakin hari tulang belakangnya semakin bengkok. Untuk menahan semakin bengkok dan antisipasi patah tulang, beliau harus menggunakan korset setiap hari. Bengkok tulang ini akibat dorongan dari massa kanker, sehingga mengalami nyeri dan sulit tidur. Hal itu pun mengakibatkan kegelisahan pada hatinya.

Sungguh sedih ketika mengetahui penderitaan akibat sakitnya. Betapa beliau sabar dan tabah dalam menjalankannya, serta masih tetap berusaha berobat untuk kesembuhannya. Beliau melawan sakit dengan terus berobat. Berbagai cara dilakukan Sutopo untuk sembuh. Pak Sutopo sering menjalani CT Scan, PET Scan, Bone Scan, MRI, kemoterapi, rontgen dan lainnya. Hampir setiap minggu Sutopo harus diambil cairan dari paru-parunya. Setidaknya sebanyak 1-1,5 liter cairan akan tersedot dari paru-parunya. Keberangkatannya ke Guangzhou tercatat sejak 15 Juni 2019, sebagai usaha pengobatan dalam melawan penyakitnya.

Sangat berat derita yang beliau alami. Meski demikian, beliau tetap menjalankan pekerjaannya dengan profesional. Cuitannya di twitter selalu dinanti dalam memberi kabar informasi seputar penanggulangan bencana di Indonesia.

Waspada akan Perokok Pasif

Badan Kesehatan PBB, WHO menyebutkan dalam laporannya bahwa penyebab kematian yang mengancam masyarakat dunia disebabkan oleh produk tembakau. Di Indonesia, merokok adalah bentuk utama penggunaan tembakau. Riskesdas mencatat dalam laporannya bahwa prevelensi merokok secara nasional sebesar 29%.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyaknya perokok aktif yang membuat perokok pasif yang terpapar sakit. Melihat video Pak Sutopo yang menjelaskan sakit paru dan penyebabnya, dikarenakan lingkungan kerjanya banyak yang perokok. Pak Sutopo sendiri tidak merokok, lingkungan keluarganya pun tidak. Maka, ketika divonis terkena sakit kanker paru stadium 4B, Pak Sutopo kaget karena beliau tidak merokok. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey tahun 2011 menyebutkan dalam laporannya bahwa 51,3% atau (14,6 juta) pada orang dewasa terpapar asap tembakau di tempat kerja.

Lingkungan yang memiliki kebiasaan perokok aktif menjadi hal yang diwaspadai, karena paparan asap rokok mereka lebih memengaruhi para perokok pasif. Bila melihat catatan laporan hasil penelitian Riskesdas berdasarkan demografi, menunjukkan bahwa semakin tinggi pendapatan semakin banyak pula mengonsumsi rokok dan tembakau, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin meningkat pula jumlah konsumsi rokok dan tembakau, baik pada laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan status bekerja, konsumsi rokok dan tembakau banyak pada mereka yang bekerja baik pada laki-laki maupun perempuan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi, pendidikan dan pekerjaan sangat memengaruhi seseorang dalam merokok. Dari tuturan Pak Sutopo menunjukkan bahwa lingkungan kerjanya yang membuat dia terkena paparan asap rokok.
Para pakar kesehatan menjelaskan bahwa perokok pasif lebih bahaya karena karena terpapar asap rokok secara langsung. Kandungan rokok seperti senyawa kimia berbahaya seperti sianida, tar, arsenik, benzene, dan berbagai senyawa berbahaya lainnya yang dihirup langsung oleh perokok pasif. Oleh karena itu, perokok pasif juga berpotensi mendapatkan penyakit-penyakit mengerikan seperti asma atau kanker paru-paru. Belum lagi dengan potensi berisiko mendapatkan serangan jantung atau stroke secara mendadak karena darah yang terpapar kandungan asap rokok cenderung menjadi lebih kental dan memicu penyumbatan pada pembuluh darah http:www.pptm.kemkes.go.id.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mengatur aturan mengenai bebas asap rokok untuk area publik. Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 menyebutkan bahwa yang termasuk Kawasan Tanpa Rokok adalah fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan Ayat 1. Selain itu, disebutkan bahwa pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya Ayat 2.

Berdasarkan hal di atas, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Bidang Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM) membuat strategi pengendalian konsumsi tembakau dengan MPOWER, yaitu Monitor konsumsi produk tembakau dan pencegahannya, perlindungan dari paparan asap orang lain, optimalkan dukungan layanan berhenti merokok, waspadakan masyarakat akan bahaya konsumsi tembakau, eliminasi iklan, promosi dan sponsor produk tembakau dan raih kenaikan harga rokok melalui peningkatan cukai dan pajak rokok.

Keenam poin yang terakronimkan dalam MPOWER sebagai strategi dalam mengurangi perokok. Pemerintah juga telah menetapkan penerapan perlindungan terhadap asap rokok melalui penerapan kawasan tanpa rokok dengan 100% bebas asap rokok yang ditandai dengan:

  1. Tidak ditemukan orang merokok di dalam gedung;
  2. Tidak ditemukan ruang merokok di dalam gedung;
  3. Tidak tercium bau rokok;
  4. Tidak ditemukan puntung rokok;
  5. Tidak ditemukan penjualan rokok;
  6. Tidak ditemukan asbak atau korek api;
  7. Tidak ditemukan iklan atau promosi rokok;
  8. Ada tanda dilarang merokok.

Poin-poin tersebut sangat penting, karena bagaimana pun, lingkungan sehat sangat penting dan sebagai bagian dari gerakan masyarakar hidup sehat (GERMAS).

Dengan demikian, dalam pengendalian penyakit tidak menular dalam waspada akan perokok pasif, maka hal-hal berikut:

1. Menghindari area merokok dan menggunakan masker ketika berada di ruang publik yang banyak perokok.

2. Gaya hidup sehat, seperti pola makan sehat dan seimbang.

3. Bergerak dengan menggerakan tubuh, baik dengan aktifitas fisik maupun latihan fisik.

Pesan Pak Sutopo, “Stop Merokok”

Video yang memaparkan tentang kondisi kesehatannya akibat menjadi perokok pasif, Pak Sutopo berpesan untuk stop merokok atau berhenti merokok. Pesan beliau sebagai berikut:

“Buat generasi muda, terutama untuk anak-anak, jangan merokok. Tidak akan ada yang akan menilai dia akan kelihatan gagah kalau merokok seperti iklan-iklan. Itu menyesatkan. Stoplah rokok. Ingat bukan Anda, tapi untuk keluarga Anda; istri Anda, suami Anda, anak-anak Anda dan sebagainya.”

Lebih lengkapnya bisa dilihat di ttps://web.facebook.com/suaratanparokok/videos/2495800113793081/?t=4.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Bidang Pengendalian Penyakit Tidak Menular mengusung GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) sebagai cara untuk membangun masyarakat sehat.

Sungguh perjalanan hidup yang mengajarkan untuk terus berusaha dan berikhtiar, lalu bersabar dan bertawakal pada takdir Tuhan. Semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahan Pak Sutopo dan memberi rahmat dan memuliakan beliau. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu wakrim nujulahu. Amiiin.

Tulisan ini sebagai mengenang Pak Sutopo, sebuah catatan waspada akan perokok pasif. Sebagaimana kutipannya beliau, “Hidup itu bukan panjang-pendeknya usia. Tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain.” (Sutopo Purwo Nugroho)

Referensi:

CNN

Tempo

Tribunnews

Detik

Kemenkes

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: