Dreams, Pameran Seni Hadirkan Semangat Retro 111 Tahun Polychromos

Mimpi adalah harapan. Sebuah keinginan yang berharap didapatkan dalam usaha dan kerja keras. Mimpi ibarat bayang, namun dari sana terdapat usaha dalam menjalankan apa yang diinginkan. Mimpi pun dapat tertuang dalam warna dan goresan, seperti lukisan yang mencerminkan suasana rasa dan pikiran. Faber castell menggelar dreams, pameran seni hadirkan semangat retro 111 Tahun Polychromos.

Sabtu, 29 Juni 2019, Faber Castell menggelar pameran seni sekaligus memperingati ulang tahun Polychoromos yang ke-111. Dengan tema “Dreams,” pameran ini berlangsung dari tanggal 29 Juni – 3 Juli 2019. Pameran yang menghadrikan tiga senias muda yang bergerak dalam lukisan berdasarkan mimpi. Mereka itu adalah Adrie Basuki, Anto Nugroho dan Angga Yuniar Santoso.

Adrie Basuki merupakan seorang illustrator dan fashion desaigner yang menemukan hobi lain dengan melukis profil wajah. Setiap guratannya sangat menarik, saya melihatnya dalam setiap lukisan ingin menggambarkan diri lewat seraut wajah yang dilukiskan.

Profil wajah ini mengingatkan akan gambaran hati dan pikiran, yang biasanya secara langsung tercerminkan pada wajah atau muka. Meski itu bukan patokan dan kesimpulan akan suasana atau pikiran, tetapi dengan wajah kita dapat mengetahui apa yang harus disampaikan terhadap orang tersebut.

Adrie Basuki menggunakan Polychromos sejak kembali berkegiatan melukis di tahun 2015. Dia bereksplorasi mulai dari cat air, akrilik, pastel, hingga menemukan pensil warna Polychromos dari Faber Castell. Adrie bercerita bahwa menemukan Polychromos ibarat menemukan pasangan hidup, dia menemukan pensil warna dengan kelembutan sekaligus kekuatan warna luar biasa yang selama ini dia sulit mendapatkan gabungan hal tersebut.

Ketika melihat lukisan Adrie yang obyeknya profil perempuan, garis-garis warnanya sangat jelas menggambarkannya dengan detail. Dalam soal warna, Adrie mengungkapkan bahwa eksperimen warna menjadikan pengalaman yang menyenangkan ketika menggabungkan beberapa warna menjadi satu warna yang baru. Objek lukisannya perempuan, maka mencari warna kulit yang tepat merupakan tantangan dan Polychoromos memiliki koleksi warna skintone yang mampu membuat efek yang sangat baik.

Anto Nugroho, seorang sineas perfilman yang menyajikan lukisannya penuh warna. Setiap tarikan garisnya menjadi khas tersendiri akan identitas karyanya. Anto Nugroho dengan ceria menyajikan warna cerita akan kisah yang ingin dia hantarkan. Dia mengatakan bahwa semua pasti bermimpi. Semua orang pernah bermimpi. Mimpi itu seperti doa, maka mimpi selalu diucapkan. Mimpi adalah keinginan.

Anto merawat mimpi, dia menyebutkan bahwa untuk agar mimpi tidak rusak atau hilang, maka mimpi terus disimpan, dijaga sepenuh hati dan dirawat penuh pengharapan. Hal tersebut bertujuan agar mendapatkan mimpi terindah, mimpi yang penuh warna, dan mimpi yang dapat membawa perubahan. Maka, karya-karya Anto mengusung perubahan menjadi bangsa lebih baik, maju dan sejahtera.

Angga Yuniar, sosok yang sangat konsen dengan seni lukis. Dia mengejawantahkan idenya bukan hanya melalui barisan garis, tetapi membidang dalam sebuah bidak kayu yang menyajikan keindahan dari lukisan yang dia tuangkan.

Karya seni yang dipamerkannya merupakan kumpulan mimpi. Sebuah kumpulan mimpi dalam tidur mengenai harapan kecil bawah sadar dalam bersinggungan dengan realitas keseharian yang dialami sebelum mendapat rekaman mimpi tersebut. Mimpi dalam tidur menjadi basic Angga dalam mengimajinasikan karyanya. Dari mimpinya setiap hari, dia mengambil cutout mimpi dan mencatat idiom bentuk untuk kemudian dirangkai kembali menjadi sebuah narasi baru dalam lukisan di atas panel kayu.

Angga pun bercerita ketika pertama kali menggunakan Polichoromos, dia pakai pen/ballpoin Polychoromos untuk membuat drawing di atas panel kayu, pigmenn warna yang dikeluarkannya sangat kuat.

Para generasi muda ini menampilkan kreatifitas lain dari keseharian dan rutinitas pekerjaannya. Mereka mengeksplorasi ide lewat guratan garis Polychromos, yang kehadirannya sudah 111 tahun. Lebih tua dari usia manusia keumumannya, namun ini menunjukkan keunggulannya sebagai pensil yang berkualitas baik dan awet.

Yandriman Halim selaku Managing Director PT Faber Castell Internasional Indonesia memaparkan bahwa setiap karya di pameran ini memiliki pesan dan gayanya sendiri. Lebih lanjut, Yandriman menyebutkan bahwa pameran seni ini dreams atau mimpi. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan menjadi gerbangn pembuka bagi para seniman muda berbakat Indonesia meraih prestasi ke penjuru negeri, alias bisa terjun dalam kancah internasional.

Happy Salma selaku selebritis membuka Dreams, pameran seni hadirkan semangat retro 111 Tahun Polychromos. Pameran seni ini sangat indah. Polychromos dalam perayaannya ke-111 hadir dengan konsep retro, berupa matahari terbit, simbol dari sebuah era baru yang ternyata sesuai dengan desain awal sejak diperkenalkan pertama kali oleh Count Alexander Faber Castell tahun 1908. Seperti mimpiku pada negeri tercinta Indonesia, mimpi menuju perubahan yang baik, lebih maju, lebih aman dan sejahtera. Amiii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: