Hari Tanpa Tembakau, Ayo Cegah Penyakit Tanpa Menular

Mungkinkah Indonesia sehat tanpa tembakau? Suatu pertanyaan yang menggelitik pada peringatan Hari Tanpa Tembakau, ayo cegah penyakit tanpa menular. Tembakau merupakan tumbuhan yang menjadi bahan utama produksi rokok. Berdasarkan data dari Kemenkes RI, sehatnegeriku.kemkes.go.id., Indonesia merupakan negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia, yaitu pada urutan ketiga setelah China dan India.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rokok adalah pembunuh yang akrab di masyarakat. Tembakau menjadi penyebab terbesar kematian oleh penyakit yang dapat dicegah. Bahaya penggunaan tembakau mencakup penyakit yang terkait dengan jantung dan paru-paru seperti serangan jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan kanker (terutama kanker paru-paru, kanker laring, dan kanker pankreas). Penyakit gangguan reproduksi dan kehamilan juga dapat diakibatkan dari pengunaan tembakau. Perokok pasif meski tidak merokok, dapat mengalami kanker paruparu. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia.

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau. Peringatan yang dimulai sejak tahun 1988 atas kesepakatan anggota WHO, maka hari tanpa tembakau diperingati sebagai membangun kesadaran global akan bahaya penggunaan tembakau, menyebarluasnya kebiasaan merokok, dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Dalam rangkaian peringatan Hari Tanpa Tembakau, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular bersama WHO mengadakan Workshop Blogger Kesehatan pada tanggal 18-19 Juni 2019 sebagai peringatan Hari Tanpa Tembakau dengan bentuk sosialisasi edukasi kesehatan tanpa tembakau sekaligus campaign pencegahannya.

Cut Putri Arianie selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM) Kemenkes RI mengatakan bahwa saat ini kita berada pada masa transisi, yaitu transisi demografi usia, transisi teknologi dan transisi budaya & perilaku. Ketiga transisi ini memengaruhi pada penyakit tidak menular (PTM). Pada transisi teknologi seringkali teknologi menjadikan kita malas bergerak, sedangkan untuk transisi budaya atau perilaku ini lebih mengarah pada gaya hidup, termasuk dalam merokok. Merokok sebagai perilaku yang penyakit tidak menular (PTM).

Pencegahan Penyakit Tidak Menular Tanpa Tembakau

Pada hari pertama, Selasa, 18 Juni 2019, workshop Blogger Kesehatan berisi dengan materi yang bergizi dan bermanfaat. Hadir para narasumber dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes selaku ahli gizi dan Bagja Hidayat dari Tempo.

Dokter Theresia Sandra Diah Ratih, MHA dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular memaparkan tentang Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2TM). Saat ini, Penyakit Tanpa Menular (PTM) sebagai masalah kesehatan utama. Kenapa demikian?

  1. 7 dari 10 penyebab kematian itu dari PTM.
  2. Anggaran biaya pengobatan dari PTM sangat besar.
  3. PTM bukan penyakit degenerative, karena banyak usia muda yang sudah terkena PTM. Maka, ini dikarena gaya hidup.
  4. Hanya 30% penderita PTM yang terdeteksi, dan hanya 30% yang berobat. Sisanya terdiagnosa setelah terjadi serangan penyakit.

Berdasarkan data Kemenkes, bahwa perubahan beban penyakit ini terlihat bahwa pada tahun 1990, penyakit menular seperti ISPA, TB, Diare menjadi penyebab kematian dan kesakitan terbesar. Pada tahun 2010, PTM menjadi penyebab terbesar kematian dan kecacatan seperti penyakit stroke, kecelakaan, jantung, dan diabetes. Dengan demikian, maka penting adanya pencegahan penyakit tidak menular dalam pengendalian penyakit tidak menular. Oleh karena itu, program P2PTM tahun 2015-2019, yaitu prevalensi tekanan darah tinggi, mempertahankan prevalensi obesitas dan prevalensi merokok pada penduduk usia di atas 18 tahun.

Data dari Riskesdas 2007 & Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa 80% resiko PTM disebabkan oleh perilaku gaya hidup. Faktor resiko itu sebagai berikut:

  1. Kurang aktivitas fisik (26,1%).
  2. Kurang mengonsumsi buah dan sayur (93,5% di atas umur 10 tahun).
  3. (36,3% di atas usia 15 tahun dan perempuan 1,9% di atas umru 10 tahun).
  4. Mengonsumsi alcohol (4,6% di atas usia 10 tahun)
  5. Mengonsumsi gula lebih dari 50 gram/hari.
  6. Mengonsumsi garam lebih dari 2000 gram/hari.
  7. Mengonsumsi lemak lebih dari 67 gram/hari.
  8. Mengalami obesitas.

Gaya hidup sehat menjadi sangat penting dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dengan berperilaku CERDIK, yaitu cek kondisi kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktifitas fisik, diet dengan gizi seimbang, istirahat yang cukup, dan kelola stres. Lebih lanjut lagi, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes selaku ahli gizi menuturkan untuk pencegahan PTM dengan diet seimbang dan aktivitas fisik.

Diet seimbang ini kita harus memerhatikan asupan pola makan, terutama kandungan zat gizi. Zat gizi ini ada yang zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, lemak dan air. Zat gizi makro untuk menghasilkan energi, melalui sel lemak. Adapun zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral.

Dalam aktivitas fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti gerakan sehari-hari untuk meningkatkan pengeluaran energi. Adapun latihan fisik itu gerakan terstruktur dan terencana untuk meningkatkan pengeluaran energi dan status kebugaran. Ada juga olahraga gerakan terstruktur dan terencana untuk meningkatkan pengeluaran energi, status kebugaran, prestasi / kompetisi.

Kampanye Bahaya Tembakau dengan Story Telling

Bagja Hidayat dari Tempo memaparkan bahwa dalam mengajak atau mengedukasi masyarakat akan Bahasa tembakau pada kesehatan tubuh bias dilakukan dengan story telling. Bagja melihat pada sudut pandang penyajian dengan menceritakan keadaan dan perasaan orang terdekat dari orang yang terkena dampak rokok.

P2TM sendiri sudah membuat strategi pengendalian konsumsi tembakau dengan MPOWER, yaitu Monitor konsumsi produk tembakau dan pencegahannya, perlindungan dari paparan asap orang lain, optimalkan dukungan layanan berhenti merokok, waspadakan masyarakat akan bahaya konsumsi tembakau, eliminasi iklan, promosi dan sponsor produk tembakau dan raih kenaikan harga rokok melalui peningkatan cukai dan pajak rokok.

Perlindungan terhadap asap rokok melalui penerapan kawasan tanpa rokok dengan 100% bebas asap rokok yang ditandai dengan:

  1. Tidak ditemukan orang merokok di dalam gedung;
  2. Tidak ditemukan ruang merokok di dalam gedung;
  3. Tidak tercium bau rokok;
  4. Tidak ditemukan puntung rokok;
  5. Tidak ditemukan penjualan rokok;
  6. Tidak ditemukan asbak atau korek api;
  7. Tidak ditemukan iklan atau promosi rokok;
  8. Ada tanda dilarang merokok.

Hari Kedua, field trip ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON). Di sini dikupas seputar stroke dengan lengkap. Sangat penting dalam menjaga kesehatan dari merokok. Salah satu dampak dari resiko terpapar asap rokok bias mengakibatkan stroke. Stroke merupakan gangguan fungsi otak yang terjadi secara mendadak akibat adanya masalah pada pembuluh darah di otak. Dokter Ita Muharram, Sp.S dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional memaparkan mengenai stroke dengan detail. Ada dua tipe stroke, yaitu iskemik dan perdarahan atau hemoragik. Apa beda keduanya?

Stroke Iskemik merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi. Jenis stroke ini terbagi lagi menjadi 2 klasifikasi yakni stroke emboli dan stroke trombotik. Untuk stroke emboli, bekuan darah atau plak yang terbentuk di dalam jantung atau pembuluh darah arteri besar yang terangkut menuju ke otak. Sementara stroke trombotik yakni bekuan darah yang terbentuk di dalam pembuluh darah arteri yang mensuplai darah ke otak.

Stroke Hemoragik (Stroke Berdarah) adalah jenis stroke yang terbagi menjadi 2 klasifikasi, yakni pendarahan intraserebral dan pendarahan subarachnoid. Untuk pendarahan intraserebral terjadi saat pecahnya pembuluh darah lalu kemudian darah masuk kedalam jaringan yang menyebabkan sel-sel otak mati sehingga berdampak pada kerja otak yang mendadak berhenti. Pada keadaan ini, penyebab yang paling sering adalah tekanan darah tinggi. Sementara pendarahan subarachnoid terjadi ketika pecahnya pembuluh darah yang berdekatan dengan permukaan otak dan darah bocor diantara otak dan tulang tengkorak. Penyebabnya bisa berbeda-beda tetapi paling sering disebabkan oleh pecahnya aneurisma.

Lebih lanjut, dr. Ita menejelaskan tentang stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi saat arteri yang memasok darah ke otak tersumbat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh:

Adapun faktor risiko utama yang memicu stroke iskemik, yaitu:

  1. Usia – Risiko stroke meningkat setelah seseorang menginjak usia 55 tahun
  2. Diabetes
  3. Pola makan kaya kolesterol, natrium, gula, atau lemak trans atau jenuh
  4. Kadar kolesterol jahat yang tinggi atau kolesterol baik yang rendah
  5. Tekanan darah tinggi
  6. Riwayat serangan iskemik sesaat (transient ischemic attack) atau stroke ringan
  7. Obesitas atau kelebihan berat badan
  8. Gaya hidup pasif
  9. Merokok

Untuk mengenali gejala dan tanda-tanda stroke, maka ingat slogan SeGeRa Ke RS, yaitu:

  1. Senyum tidak simetris, tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba.
  2. Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba.
  3. Bicara pelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/tidak mengerti kata-kata/bicara tidak nyambung.
  4. Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh.
  5. Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba.
  6. Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Gangguan fungsi keseimbangan seperti berputar, gerakan sulit dikoordinasikan.

Waktu periode emas penanganan stroke. Periode emas in adalah waktu yang sangat berharga bagi dokter untuk menangani stroke. Waktunya yakni 4,5 jam sejak pertama kali muncul gejala dan sampai dilakukan penanganan stroke di rumah sakit. Penderita stroke setidaknya harus sudah tiba di rumah sakit kurang dari 2 jam. Proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal 2,5 jam.

Bila periode emas penanganan stroke ini terlambat atau sudah lebih dari 4,5 jam maka stroke akan menjadi lebih parah bahkan beresiko kematian atau kecacatan permanen. Kenali gejala dini stroke dan cari tahu bagaimana cara menanggulanginya agar keluarga tercinta tetap bisa berkumpul penuh kehangatan dalam keadaan sehat.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional

Direktur Pelayanan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S(K), MARS memaparkan bahwa Rumah Sakit Otak Nasional ini memiliki visi untuk menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional bidang otak dan system persarafan. Adapun misinya adalah mewujudkan pelayanan otak dan system persarafan bermutu tinggi dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Mewujudkan Pendidikan dan penelitian yang mampu memberikan kontribusi pada pemecahan masalah otak dan system persarafan di tingkat nasional dan internasional. Mewujudkan penapisan IPTEK di bidang ilmu kesehatan otak dan system persarafan. Mewujudkan kenyamanan dan kesejahteraan pegawai.

Rumah Sakit PON ini menjungjung nilai BRAIN, yaitu Benevolent yang senantiasa melayani pasien dengan tulus. Responsive yang selalu siap tanggap. Attentive yang memberi perhatian penuh terhadap pasien. Innovative yang mengikuti perkembangan ilmu. Dan noble yang sesuai dengan motto rumah sakit yang melayani dengan mulia.

Untuk mengenal lebih jauh tentang waspada penyakit stroke, kami berkunjung ke lantai 7unit stroke. Di sini kami bertemu pasien yang baru pertama mengalami stroke. Pasien yang sudah mulai membaik ini menceritakan awalnya kena stroke karen tidak teratur pada makanan. Ketika merasa pelo, dia langsung menghubungi teman dokternya yang langsung menganjurkan untuk langsung pergi ke IGD. Dengan mengikuti anjuran teman dokternya, alhamdulillah bapak ini sudah mulai membaik.

Selanjutnya ke lantai 5 yang menjadi area rawat inap bagi yang perawatan stroke. Ada ruang latihan, ruang rileksasi dan ruang hiburan. Di sini, pasien dan keluarga harus mengikuti serangkaian sesi latihan dan perawatan dalam penyebuhan stroke. Keluarga sebagai pendamping yang mana ketika pasien sudah diijinkan pulang ke rumah dapat melakukan perawatan sesuai yang dianjurkan oleh rumah sakit. Kami sempat mendengarkan cerita berbagi dari keluarga pasien yang ibunya sedang perawatan.

Kemudian berlanjut ke ruang Neurodiagnostik. Untuk mendiagnosis dan menentukan rangkaian pengobatan yang terbaik, dokter biasanya melakukan rangkaian tes diagnostic. Di sini ditemukan berbagai peralatan kesehatan canggih untuk mendiagnosa pasien, seperti Tomografi komputer (CT-scan) dan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) – Kedua tes pencitraan ini digunakan untuk mengamati otak, tengkorak, dan sumsum tulang. Tujuannya untuk memeriksa keparahan stroke. Tidak hanya mendiagnosis stroke iskemik, tes pencitraan ini dapat mendiagnosis stroke hemoragik dan masalah lain yang menyerang otak dan batang otak.

Demikianlah. Field trip ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan seputar kesehatan dan rumah sakit. Dalam pengembangan dan sosialisasi P2TM, hadir Nasrullah, ahli media social, yang mengupas tentang branding kesehatan di media social. Nasrullah yang sering disebut Kang Arul ini menyajikan tips dalam menggunakan media social, seperti memisahkan akun media social pribadi dengan bisnis, atau penggunaan kata kunci yang akan meningkatkan trending kesehatan.

Workshop yang berlangsung dua hari ini sangat bermanfaat. Peringata hari tanpa tembakau, ayo cegah penyakit tanpa menular, terutama dari paparan asap rokok. Untuk info P2PTM, bisa lihat di http://www.p2ptm.depkes.go.id, di Twitter dan Instagram dengan akun @p2ptmkemenkesRI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: