Ada istilah jangan sampai masuk (tigebrus: b. Sunda) di lubang yang sama. Ketika suatu peristiwa terus berulang-ulang, sesungguhnya ada hikmah dan pelajaran yang harus dipelajari sehingga bisa lulus dari rangkaian peristiwa tersebut.

Bila membaca sejarah, ada motif dan metode yang sama dalam penggalangan kekuasaan. Opini publik yang dibentuk mengarah ke bentuk propaganda. Isi kontennya pun sama sampai sering tampil disclaimer atau peringatan tidak mengandung SARA, hanya saja objeknya berbeda.

Pernah membaca sejarah bahwa pada masa khalifah, opini publik dan propaganda kekuasaan bertarung di masjid-masjid dengan para penceramah beradu tokoh politiknya yang mereka itu pafa sahabat Nabi. Hal tersebut ibarat cermin saat ini, sesungguhnya ini ujian dalam menyikapi kasus dengan pola yang sama.

Cerna semua berita. Kembalikan semuanya sebagai informasi dan tidak mesti ditelan bulat-bulat. Biarkan tahu bulat yang eksis dengan tahu bulat digoreng dadakan gurih-guruh enyoy. Kita mah ketika membaca atau mendengar berita, apalagi ada ayat atau hadisnya, mending endapkan dulu, kaji dan telaah dalam kesadaran ilahi, apa yang kita respon ini bermanfaat atau mengandung perpecahan. Apakah respon kita dari berita atau info tersebut hadir karena Allah atau ego?

Tahu bulat memang enak rasanya, seperti bakso bulat yang menjadi makanan kesukaan. Tetapi apakah ketika makannya harus langsung lep tanpa dikunyah?

Ada yang bilang sejarah berulang dengan konteks yang berbeda. Bila demikian, maka kesadaran hidup akan lebih tinggi, pemaknaan hidup sebagai rahmat akan sangat terasa. Tidak ada pengakuan pembenaran yang membatu dan penafian perbedaan pemikiran yang mendendam.

Setelah Nabi meninggal, konflik politik pada umat Islam sangat terasa sampai adanya perang Shifin. Suatu perjalanan yang mengajarkan tentang diri, bahwa sesungguhnya kedamaian dan welas asih itu sangat penting.

Abu Dzar diasingkan sampai meninggal dalam keterasingan, itu dilakukan oleh sahabat karena perbedaan politik. Maka, perbedaan politik bukanlah harga mati, isu yang muncul harus dicerna karena mungkin saja isu yang terjadi sekarang ini sudah bergulir sejak ratusan tahun lalu dengan konteks yang berbeda pula. Wallahu’alam

Yuk, beristighfar…

Advertisements