Perapalan hidup tidak terukur oleh waktu. Ketika sang jiwa menyepi dengan membawa diri sebagai makhluk bumi yang memiliki hati nurani dan akal budi. Sungguh perjalanan Putri belum sampai di sini, dia harus menempuh ratusan kilometer untuk bertemu sang bunda di ujung senja. Menepi fiksi dalam raga diri.

Seindah senyuman mentari pagi yang membawa kehangatan, Putri Rinjani membawa pedang dan selendangnya untuk mencari ibunda yang telah meninggalkannya di istana seorang diri.

“Ibu ingin bertepi, Putri… Dia ingin melihat diri, bukan hanya fiksi,” kata Sang Ayah sebagai seorang raja yang tinggal istri berkelana.

“Kenapa mesti meninggalkanku seorang diri, Ayah?” Tanya Rinjani menghela napas sedih.

“Karena ibumu seorang putri dan pengelana, Putri…” jawab sang ayah tak pasti.

“Kalau ingin menemukan jati diri, kenapa tidak membawaku sebagai bagian dari individu belahan diri, Ayah? Bercermin pada dinding hanya melihat bayangan bila di saat terang, namun tak nampak bilang gelap menjelang. Namun diriku ini bagian dari perjalanan hidupnya, kenapa ditinggal sendiri, Ayahanda?”

Raja terdiam, dia ingin menceritakan tentang Sawitri, Ibunda Rinjani yang memilih pergi. Hanya saja khawatir putri semata wayangnya salah persepsi akan ibundanya yang pergi memilih menjadi paku negeri daripada hidup di istana bersama dirinya dan putri.

“Suatu saat akan Ayah ceritakan semuanya, Putri…” sambil menghela napas. “Namun, jangan kau lelah mencintai ibumu, karena dia ada untuk perjalanan kehidupanmu, kita dan negerinya.”

“Ayah, saya tidak mengerti yang Ayah katakan, namun cintaku tak akan hilang untuk ibunda yang pergi menghilang. Saya hanya ingin beradu diskusi tentang diri yang lehir bukan sebagai individu, tetapi berada dalam rangkaian alam semesta ini.”

“Putri, sesungguhnya hidup bukan hanya hanya melihat laku diri pada gambaran orang lain, tetapi lebih pada melihat diri sendiri. Mengamati jiwa dalam setiap gerak raga. Melihat rasa yang hadir di antara berbagai gejolak yang menerpa. Ingatlah cinta yang menjadi dasar pada setiap keadaan.”

“Apakah menepi menjadi bagian untuk melihat diri?” Tanya Sang Putri.

“Iya, karena keadaan yang menggiring untuk melihat diri. Keheningan membantu pandangan untuk melihat perjalanan jiwa, maka jangan heran bila banyak yang memilih menjadi pertapa dan tinggal di ujung samudra. Itu demi jiwa, melihat ketenangan jiwa tanpa beradu dengan berbagai energi jiwa-jiwa yang datang melanda.”

Sang putri diam. Entah merenungi atau tidak mengerti perkataan ayahnya yang semakin menjadikannya dalam memberi pemahaman kebermaknaan hidup di bumi.

Advertisements