Media Sosial dan Doa yang Mengancam

Media sosial dan doa yang mengancam sedang viral dan opini publik menjelang Pilpres, April 2019. Sebelum tersiar doa yang mengancam di media sosial oleh salah seorang selebritis politik dan mantan artis, saya tertegun dengan tertangkapnya pesan doa yang mengancam ke pekerja instansi tertentu dari teman friendlist FB. Mendoakan rahmat sekaligus melaknat.

Suatu doa yang paradoks, dan saya sendiri merasa miris karena di instansi itu ada teman serta sahabat yang saya kenal akan kebaikan, kerja keras dan keramahan mereka. Membuka Twitter, di feed terbaca retweet seorang tokoh yang memposting doa yang tersebar di FB. Sungguh mudah suatu doa dan laknat bersinggungan dalam kehendak yang tak berkesudahan.

Sejak adanya media sosial, berbicara politik tidak lagi di warung kopi sambil ngopi dan makan pisang goreng, tetapi telah beralih ke media sosial sebagai alat komunikasi yang mengungkapkan keinginan atau pendapat sendiri, bisa dengan menampakkan diri atau alias.

Media sosial sebagai media
yang menawarkan digitisation, convergence, interactiviy, dan development of network terkait pembuatan pesan dan
penyampaian pesannya. Kemampuanya menawarkan interaktifitas ini memungkinkan pengguna dari media sosial memiliki pilihan informasi apa yang dikonsumsi, sekaligus mengendalikan
keluaran informasi yang dihasilkan serta melakukan pilihan-pilihan yang
diinginkannya.

Flew (2002: 11-22) menyebutkan bahwa kemampuan menawarkan suatu interactivity inilah yang merupakan konsep sentral dari
pemahaman tentang media sosial atau sering disebut new media.

Seiring dengan hal tersebut, maka muncullah virtual reality,
komunitas virtual, dan identitas virtual. Fenomena ini muncul karena media sosial memungkinkan
penggunanya untuk menggunakan
ruang seluas-luasnya di media sosial,
memperluas jaringan seluas-luasnya,
dan menunjukkan identitas yang lain
dengan yang dimiliki pengguna tersebut di dunia nyata.

Marshall Mcluhan, menyebut media sosial sebagai global village, yang mana setiap orang bisa berkomunikasi dan mengirim pesan, terlepas itu dengan identitas sendiri atau anonim. Adapun mengenai pesan itu sendiri, Mcluhan menyatakan konsep the medium is the message. Hal ini karena medium membentuk dan mengontrol skala dan dan bentuk asosiasi serta tindakan manusia. Pada buku Understanding Media, McLuhan mengatakan bahwa pesan adalah perubahan dari skala, kecepatan atau pola dimana dengan adanya penemuan baru atau inovasi diperkenalkan kepada urusan manusia. Medium juga sebagai kepanjangan dari diri kita atau any extension of ourself.

Oleh karena itu, tidak berlebihan melihat fenomena pesan yang tersebar di media sosial, termasuk doa yang mengancam. Setiap orang atau akun bisa mengungkapkan pendapatnya sendiri, terlepas nantinya dimanfaatkan dalam urusan kepentingan politik.

Saya sendiri sebagai pengguna media sosial, kadang terbawa oleh isi pesan, termasuk tulisan ini menanggapi pesan-pesan dari akun media sosial lain, telusin ini pun bisa sebagai salah satu tulisan opini publik tentang politik.

Ada banyak pesan yang besebaran. Selaras dengan pendapat McLuhan, ketika kita mengkoneksikan handphone dengan internet, maka pesan pun bermunculan. Coba kalau koneksi internetnya mati atau kuota internet habis, pesan yang terbatas hanya sms dan telepon. Apalagi kalau tidak ada pulsa, bahkan tidak ada simcard, maka tidak ada pesan yang masuk.

Ketika membuka internet, maka banyak pesan yang masuk, baik yang kita butuhkan ataupun tidak. Termasuk doa yang mengancam, sebetulnya saya tidak membutuhkan pesan tersebut. Anggap saja sebagai noise atau gangguan, tetapi ternyata noise itu lebih menyita perhatian daripada informasi lainnya yang dibutuhkan. Kalau begini, tidak berlebihan bila pesan diolah menjadi iklan. Ada istilah softselling dan hardselling, maka pesan yang saya kutip di atas menjadi softselling politik melalui WOM, atau word of mouth communication, yaitu komunikasi dari mulut ke mulut.

Komunikasi WOM yang dikemukakan oleh Kotler & Keller (2007), menyebutkan bahwa Word of Mouth Communication (WOM) merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal.

Bila merujuk pada pendapat Kotler di atas, maka pesan pada media sosial dapat memengaruhi satu dengan lainnya pengguna media sosial, sehingga bisa menggerakan sosial online, tetapi bisa juga menggerakkan ke arah offline. Oleh karena itu, dalam menerima pesan, sebagai filternya adalah kita sendiri dengan prinsip chek and rechek atau tabayun, baik dengan melihat data primer dan sekunder yang berkaitan dengan pesan tersebut.

Saya sendiri ketika mendapat pesan doa di atas, yang terlintas adalah teman, sahabat atau saudara yang bekerja di lingkup instansi tersebut. Saya mengenal mereka dengan baik sebagai orang yang rajin dan bertanggung jawab. Adapun isi pesan antara rahmat dan laknat sebagai suatu paradoks. Ini seperti kita pemegang keputusan atas hal tersebut, rahmat dan laknat.

Dalam doa sendiri, yang saya ketahui selalu dengan kebaikan-kebaikan. Maka, rahmat sebagai suatu kebaikan. Adapun kata laknat, yang saya ketahui diasosiasikan dengan kutukan. Memang sering saya mendengar cerita-cerita kutukan, tetapi dalam sepengetahuan saya, saya belum menemukan Rasulullah melaknat, yang temukan hadis tentang orang yang mendoakan orang lain sesungguhnya dia mendoakan dirinya sendiri.

Media sosial dan doa yang mengancam ibarat cerminan. Tulisan ini sebagai refleksi diri dalam menulis pesan, bahwa seperti anjuran guru, berkatalah yang baik, jujur dan benar, atau lebih baik diam. Maka, dalam membuat pesan pun demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: