Selendang Kedasih

Perjalanan Kedasih. Dia tinggal dengan bibinya di sudut perbatasan ibukota. Mangkunegara kertagama adalah ayahnya, hanya saja Kedasih dengan bibinya untuk menarik diri dari hiruk pikuk kekejaman ibukota.

“Mengapa kau tinggal di pinggir kota, itu pun numpang dengan bibi yang pengelana?” Tanya ayahnya suatu ketika mempertanyakan kepergian anaknya.

“Aku ingin di desa, tinggal dengan bibi yang akan berkelana, karena di sana aku akan menemukan cinta.” Jawab Kedasih tegas.

“Cinta,” sang ayah menarik napas sejenak, dimana kau akan mencarinya, sedangkan pandangan mata ada batasnya? Tidakkah kau memilih melihat diri sendiri, maka di sana kau akan menemukan cinta.” Jawab sang ayah

“Cinta pada diri sendiri?” Tanya Kedasih.

“Bukan, tetapi menemukan makna cinta,” jawab sang ayah.

“Tidak, betapa aku tidak mendapatkannya setelah diriku melakukan itu, mencari cinta di antara belantara kota,” kata Kedasih sambil melepas napas yang tertahan.

“Anakku, bila seutas tali yang ayahmu berikan, maukah kau memegangnya sampai kau menemukan tujuan yang kau cari?” Tanya sang ayah.

“Iya Ayah, saya akan memegangnya. Saya anggap sebagai pusaka pemberian Ayah,” kata Kedasih semangat.

“Ah, anakku… Kau membuat ayah terharu. Sesungguhnya ini hanya sebuah selendang, tetapi yang terpenting adalah pesan untuk senantiasa engkau mengingat Tuhan, temukan cinta-Nya dan genggam erat dalam sanubarimu jangan kau lepaskan.”

Kertagama berdiri, “Aku akan mengambil selendannya,” kemudian dia berjalan ke arah kamar. Tidak berselang beberapa waktu, dia kembali sambil membawa selendang biru yang terlipat rapi dalam genggamannya. “Ini milik ibuku, terimalah,” sambil memberikan selendang tersebut.

“Terima kasih Ayah, saya akan menyimpannya dengan rapi,” kata Kedasih sambil menelusuri kain selendang yang dia pegang.

“Jangan kau simpan anakku, tapi pakailah dalam keseharianmu.”

“Nanti cepat rusak, Ayah, kalau sering dipakai, kan sayang…” rajuk Kedasih.

Ayahnya tersenyum, “Tidak anakku, selendang itu untuk kau gunakan dalam seharianmu, sebagaimana perjalananmu menemukan cinta. Temukan cinta itu, lalu kau genggam jangan kau lepaskan. Dengan cinta itu, maka kau akan menemukan kebahagiaan.”

“Apakah tanpa cinta, berarti tidak bahagia, Ayah?” Tanya Kedasih penasaran.

“Cinta dan bahagia itu setali dalam ikatan, keduanya saling berkaitan. Dalam menemukan cinta, ibarat menemukan permata, tidak kepas dari dinding-dinding yang menutup keindahannya. Jangan pula terjebak, kilau permata dengan gemerlap batu, karena di sanalah dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman dalam mengelupaskan setiap dinding batu pada permata. Begitu pula cinta. Cinta itu murni, kemurnian itu ada dengan dirimu dapat membedakan mana emosi, ego dan cinta. Untuk itu, tak perlu berlari ke lorong waktu, atau pindah ke ujung negeri, karena cinta itu dapat kau ketahui dengan mengenal dirimu sendiri,” tutur Kertagama dengan lembutnya.

Begitulah perjalanan, begitulah kehidupan. Kedasih dengan membawa perbekalan secukupnya dan selendang yang tidak lupa ia sematkan, ia berpamit pada ayah, ibu dan adiknya. Ia akan pergi untuk mencari cinta sejati.

#Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: