Bicara diri, maka saya memandangnya suatu proses dalam melihat diri. Ada banyak kajian, terutama psikologi yang mengusung konsep diri. Namun di sini saya akan mengupas diri dalam konsep nafs atau jiwa, karena pertama kali tertarik mengenai diri ketika menemukan hadis tentang jiwa. Maka, saya pun menemukan 5 fakta tentang diri yang terkaitannya dengan konsep nafs atau jiwa dalan Islam.

Yups, saya melihat bahwa mengenal diri, menuju jalan Tuhan. Itu yang saya pahami ketika mulai berproses untuk mengenal diri. Seiring perjalanan, ada banyak hal tentang diri yang menjadi bahan renungan dan evaluasi.

Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu.” (Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya). (Hadis Rasulullah Saw)

Hadis yang menjadi titik awal untuk mengenal diri sendiri. Tidak mudah untuk menyibak diri, karena ibarat bawang merah, yang setiap lapisan demi lapisan tersingkap keberadaan diri.

Bermula dengan pemaknaan nafs atau jiwa, dari sana saya pun teringat akan ayat yang mengupas nafs muthmainnah, yang berarti jiwa-jiwa yang tenang. Saya berpikir, bahwa pemaknaan jiwa ini sangat luas, bahkan dari nafs terserap dalam bahasa Indonesia menjadi nafsu.

Sekilas hampir sama maknanya, namun sesungguhnya sangat jauh berbeda. Nafs bermakna jiwa, sedangkan nafsu dalam bahasa Indonesia (KBBI) berarti 1) keinginan (kecendrungan dorongan) hati yang kuat; 2) dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik, hawa nafsu; 3) selera; gairah atau keinginan; 4) panas hati; marah; meradang.

Dari pengertian di atas terlihat bahwa nafsu dalam bahasa Indonesia merupakan rasa atau bagian dari jiwa. Setiap tindakan manusia tidak terlepas dari dorongan nafs-nya yang mempunyai kekuatan penggerak, yang berlainan
antara satu dengan yang lainnya.

Dalam hal ini saya menyibak tentang 5 fakta tentang diri yang tarik menarik dan memengaruhi, yaitu:

1. Nafs Ammarah bi al-Su’, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan
dengan nafs yang cenderung kepada keburukan. Pemaknaan jiwa ini tifak berlebihan bila dikaitkan dengan arti nafsu pada KBBI, yang sering mengarah pada perilaku negatif.

Tiada seorang pun mampu membuang sifat kejahatab dalam dirinya melainkan dengan izin dan hidayah Allah Swt. Nafs ini terlihat dengan tanda-tandanya seperti bakhil, iri atau dusta. Sifat buruk ini ada pada bagian diri kita, hanya tinggal bagaimana kita dalam menanggulanginya. Oleh karena itu, kita hendaknya memohon petunjuk Allah Swt agar sifat-sifat tersebut dijauhkan dan beristighfar bila terbersit pikiran yang buruk.

Mudahkah untuk menghindari hal tersebut? Tentu tidak. Inilah fakta diri yang harus saya terima ketika terbersit pikiran buruk, maka mengembalikannya kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi jalan petunjuk bagi kita.

2. Nafs Lawwāmah, memiliki arti jiwa yang menyesali. Jiwa ini sadar akan ketidaksempurnaan diri. Walau bagaimanapun, jiwa yang dalam tahap ini dan iman yang senantiasa berubah-ubah, seperti mengingat Allah kemudian lalai. Hal demikianlah fakta yang saya sadari dalam diri.

Sering diri ini menyesali diri dan labil, sering berbolak-balik dan berubah, ingat Allah dan dalam waktu yang tidak lama kembali lalai, datang dan pergi, cinta dan benci, senang dan marah, serta taat dan bermaksiat. Sungguh diri akan dibawa kemana bila selalu dalam jiwa seperti ini. Astaghfirullahal’adzim, mohon ampun atas diri yang masih bolak balik dalam menaati-Mu, ya Rabb. Ampuni hamba… 🙏

3. Nafs Sawwalah, yaitu nafs yang telah dapat membedakan mana yang lebih baik dan mana yang buruk, tetapi lebih memilih yang buruk dan belum mampu memilih yang baik, bahkan memcampuradukkan antara yang baik dan yang buruk. Hal ini membuat saya berpikir ibarat mengetahui sesuatu itu buruk, tetapi tetap menjalankannya. Na’dzubillahimindzalik.

Jangan sampai demikian terulang kembali. Sungguh diri ini harus senantiasa bertaubat setiap saat sepanjang hari. Allah berfirman: “Dan
janganlah kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil,
dan janganlah kamu sembunnyikan yang haq itu, sedangkan kamu
mengetahui.”(QS. Al-Baqarah [2]: 42).

Lagi pula, akan terasa berat bagi orang yang berilmu tetapi masih melakukan hal negatif. Hamba mohon maaf, bila pengetahuan hamba telah menutup kesadaran hamba pada-Mu, ya Rabb… Berilah hamba jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkai Ridhoi. Amiiin

4. Nafs Mulhimah, yaitu jiwa (nafs) yang memperoleh ilham dari Allah. Jiwa yang diilhamkan (ke jalan kebaikan). lham dari tuhan melalui
bisikan, berupa ide atau gagasan yang baik untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini bisa berbentuk intuisi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mengikuti intuisi telah membantu dalam keselamatan diri. Intuisi ini berasal dari Allah, alhamdulillah. Maka, patutlah kita bersyukur dengan ilham dan intuisi yang telah Allah berikan.

5. Nafs Muṭmainnah, yaitu nafs yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik sehingga jiwa menjadi tenteram, bersikap baik dapat, dapat menolak pebuatan jahat dan keji serta dapat menjauhkan diri
dari godaan manusia, syetan, jin, maupun iblis, dan dapat mendorong
untuk melakukan kebajikan dan memcegah kejahatan.

Tiada seorang pun yang ingin memiliki jiwa muthmainnah. Oleh karena itu, saya mengungkan 5 fakta tentang diri. Hal ini menjadi renungan dan perjalanan saya sendiri, ternyata dari tahapan-tahapan tersebut sebagai proses dalam mengenal diri. Wallahu’alam

Advertisements