Tags

Ketika dalam sebuah perjalanan kehidupan, kita sering kali tidak tahu bakal dihadapkan pada situasi apa pun. Ada beberapa hal yang menjadi bagian pada sistem dengan berbagai keadaan yang terjadi, salah satunya sakit. Tiada seorang pun yang menginginkan sakit, namun sakit kadang menghampiri tanpa permisi. Salah satu sakit yang jarang tersadari adalah gangguan ginjal, termasuk waspada gangguan ginjal pada anak.

Ginjal adalah salah satu organ penting dalam tubuh manusia, selain jantung, otak dan hati. Fungsi ginjal sangat vital, yaitu meliputi detoksifikasi darah; membantu tubuh untuk menyaring limbah dan membuangnya melalui urin; menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah; serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah. Hal ini menunjukkan bahwa ginjal memiliki fungsi penting dalam tubuh kita sehingga dapat mengalami gangguan yang menyebabkannya tidak berjalan dengan normal. Oleh karena itu, gangguan ginjal sangat berbahaya karena berkaitan erat dengan kinerja organ-organ vital lainnya.

Gangguan ginjal diketahui umumnya menyerang orang dewasa, namun tak jarang gangguan ginjal juga menyerang anak. Gangguan ginjal pada anak ini ada karena bawaan sejak lahir dan ada yang didapat setelah lahir. Gangguan ginjal bawaan sejak lahir umumnya ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih. Sedangkan gangguan ginjal yang didapat setelah lahir biasanya ditandai dengan infeksi saluran kemih dan radang ginjal akibat berbagai proses yang bukan infeksi.

Selasa, 13 November 2018, saya mengikuti talkshow yang memaparkan tentang gangguan ginjal pada anak. Hadir sebagai narasumber dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K) selaku UKK Nefrologi IDAI, Unit kerja kelompok dan dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI.

Dengan gamblang Bu Eka memaparkan gangguan ginjal pada anak. Ada dua jenis gangguan ginjal, yaitu gangguan ginjal akut dan kronik. Gangguan ginjal akut merujuk pada kondisi ginjal anak mengalami kerusakan fungsi secara mendadak. Penyebabnya adalah penyumbatan sistem penyaringan ginjal oleh sel darah merah yang hancur, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, cidera atau operasi. Sedangkan gangguan ginjal kronik adalah kondisi penurunan fungsi ginjal anak secara bertahap selama kurun waktu tiga bulan atau lebih. Anak dengan gangguan ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi penyaringan kotoran, kontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Akibatnya zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna akan tetap tinggal dan mengendap dalam tubuh anak sehingga lambat laun membahayakan kondisi kesehatannya.

Saya yang mendengar paparan dr. Eka sangat kaget, karena berdasarkan data global, prevalensi gagal ginjal tertinggi terjadi di kawasan Asia, yaitu 51-329 jiwa per 1 juta populasi anak; Eropa 55-75 jiwa per 1 juta populasi anak; dan Amerika Latin 42.5 jiwa per 1 juta populasi anak. Sementara itu, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan pada 2017 terdapat 212 anak dari 19 RS di Indonesia yang mengalami gangguan ginjal dan menjalani cuci darah.

Menurut dr. Eka, gangguan ginjal tidak dapat hilang dengan tindakan pengobatan dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu. Jika gejala gangguan ginjal pada anak tidak terdeteksi sejak dini dan tidak ditangani segera, maka pada saat dewasa kondisinya akan mengarah pada gagal ginjal yang perlu diobati dengan metode transplantasi ginjal atau perawatan penyaringan darah.

Lebih lanjut lagi, bahwa keumuman tanda dan gejala gangguan ginjal adalah mual dan muntah, hilangnya napsu makan, perasaan lemah dan lesu, sesak napas, sakit perut, masalah mulut, dan frekuensi buang air kecil meningkat terutama di malam hari. Termasuk juga mati rasa, kesemutan, terbakar kaki panas dan tangan, kram otot dan kejang otot, gangguan tidur, kulit gatal, menurunnya ketajaman mental, tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol, nyeri pada dada karena penumpukkan cairan di sekitar jantung, pembengkakkan pada pergelangan kaki dan tangan.

Hal tersebut membuat saya teringat akan diri sendiri. Dari kecil saya termasuk yang jarang minum. Orangtua saya selalu menyediakan dan membawakan air minum bila saya pergi ke sekolah. Apalagi pernah mendengar di kampung tetangga ada yang meninggal karena dehidrasi, maka Mama selalu menyiapkan minuman. Setelah dewasa baru menyadari bahwa pentingnya air minum dan bahayanya dehidrasi.

Bukan hanya itu, gangguan ginjal erat kaitannya dengan suatu penyakit atau kondisi merusak fungsi ginjal. Penyakit dan kondisi kesehatan tersebut meliputi hipertensi atau tekanan darah tinggi, peradangan pada ginjal, gangguan ginjal polikistik, diabetes tipe-1 dan tipe-2, penggunaan obat-obatan tertentu dan sebagainya.

Pencegahan Gangguan Ginjal

dr. Eka juga menjelaskan bahwa pencegahan gangguan ginjal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Menangani penyakit yang mendasar. Jika anak memiliki kondisi kesehatan jangka panjang yang menjadi penyebab gangguan ginjal, seperti diabetes dan hipertensi, maka orang tua harus memastikan kondisi kesehatan tersebut terkontrol, baik dengan menjalani gaya hidup sehat maupun konsumsi obat-obatan teratur.
  2. Menghindari merokok. Merokok meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke, yang dikaitkan dengan risiko gangguan ginjal yang lebih tinggi.
  3. Diet sehat. Mengonsumsi gizi seimbang dan konsumsi air putih secukupnya setiap hari dapat menurunkan risiko gangguan ginjal dengan mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol dalam tubuh.
  4. Melakukan aktivitas fisik secara rutin. Aktivitas fisik dapat menjaga tekanan darah tetap stabil dan menurunkan risiko gangguan ginjal.

Viara, Anak Tegar dan Ceria

Namanya Viara Hikmatun Nisa, usianya 14 tahun. Ibunya bernama Inwaningsih dan bapaknya bernama A. Syaihul Hady. Dengan senyuman Viara menceritakan tentang dirinya. Viara memiliki hobi menggambar.


Syaihul Hadi yang memiliki hobi menulis, dia memaparkan awal kesakitannya Viara. Sungguh tabah dan kuat gadis cilik ceria ini dalam menghadapi sakitnya. Saya pun tak bersama bergenang air mata ketika mendengar tuturan Pak Syaihul Hadi. Yups, kuatnya Viara tidak lepas dari kuat dan tegarnya orangtua Viara.
Bermula dari usus buntu, kemudian menghadapai banyak operasi usus, lalu ditemukan lupus dan gangguan ginjal. Gadis cilik ini senantiasa tersenyum ketika berdiskusi. Namun ketika mendengar ulang paparan dari ayahnya seputar sakitnya, terlihat matanya berkaca-kaca.

Hidup, bukan hanya diberikan, tetapi dipertahankan dan menjadi motivasi dalam mencapainya. Saya melihatnya dari Viara, betapa kuat motivasi hidupnya, sehingga setiap proses keadaannya menjadi lebih kuat dan tegar. Melihat foto-foto yang disajikannya membuat saya terkagum dengan kekuatan dan motivasi hidup Viara yang sangat kuat.

Subhanallah, semua atas kehendak Allah Swt. Sakit yang dia rasakan sejak umur 7 tahun, dan sempat koma 50 hari, seakan setiap detik atau waktu merupakan anugerah atas rahmat Allah yang masih mengijinkan melangkah hingga detik ini. Pelajaran yang membuat saya memilikirkan diri dan waktu, bahwa pada hakikatnya hidup adalah atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Semua perjalanan atas kehendak-Nya, kita sebagai makhluk tiada memiliki kuasa, bahkan atas diri kita, semua atas kehendak Allah Swt.

Ketegaran Viara mengajarkan kepada kita untuk menyadari dan waspada gangguan ginjal pada anak. Gangguan ginjal pada anak beresiko dengan membutuhkan biaya pengobatan yang besar, terancam mengalami tumbuh kembang yang terhambat, berkendala dengan proses belajar di sekolah yang berakibat pada menurunnya prestasi, merasa rendah diri, dan yang paling membahayakan adalah risiko kematian dini. Oleh karena itu, sangat penting bagi para orangtua dan masyarakat luas untuk mengenali faktor risiko dan gejala gangguan ginjal pada anak. Respon orangtua dan masyarakat terhadap gangguan ginjal akan sangat memengaruhi keberlangsungan hidup anak.

Gerakan Ayo Minum Air (AMIR)

Selanjutnya, dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI juga memaparkan bahwa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya gangguan ginjal pada anak, Kementerian Kesehatan RI mengadakan serangkaian kegiatan promotif dan preventif meliputi sosialisasi dan diseminasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak; serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR).

Saya pun memahami tindakan ibu yang selalu memberi minum dan membekali saya minum air putih sejak kecil. Keenganan saya untuk minum membuat orangtua saya khawatir, sehingga sejak kecil saya selalu disediakan air minum oleh ibu. Tentunya waktu kecil saya tidak menyadari bahwa itu bagian dari preventif kesehatan bagi diri saya.

Himbauan Kementerian Kesehatan RI untuk dapat berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian untuk waspada gangguan ginjal pada anak merupakan suatu hal yang sangat membantu dalam memberi pengetahuan dan wawasan pada masyarakat untuk menjaga kesehatan, terutama dalam pola makan dan minum.

Advertisements