Tags

, ,

Sosiopreneur, bisnis yang membangun pemberdayaan manusia dan lingkungan dengan bisnis adalah suatu keniscayaan. Bisnis dengan berbasis sosiopreneur ini sangat menarik, apalagi dalam pengembangan dan peningkatan bisnis.

Para sociopreneur muda menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus solusi bagi persoalan sosial dan ekonomi bangsa. Menyadari hal ini, Prestasi Junior Indonesia (PJI) bersama Citi Indonesia (Citibank) membina pelajar di 25 SMA/SMK di 5 kota di Indonesia sepanjang periode 2017-2018 untuk menjadi sociopreneur andal. Salah satu tim perusahaan siswa binaan PJI dan Citibank, Sagasco Student Company, akan mewakili Indonesia untuk bertanding di kompetisi kewirausahaan setingkat Asia Pasifik di Filipina pada Maret 2019 mendatang.

Foto 1

Pada dasarnya social entreprenurship (sociopreneur) adalah sebuah proses yang bertujuan menciptakan nilai sosial dengan cara menemukan solusi terhadap masalah-masalah sosial melalui inovasi yang melibatkan kombinasi sumber daya, peluang, dan kebutuhan sosial. Martin dan Novicevic (2010: 482) menyebutkan bahwa transformasi sosial berupa perubahan nilai sosial dapat dicapai jika social entrepreneur memenuhi beberapa kriteria, yaitu: (1) memiliki daya juang yang tinggi dan tinggal dalam lingkungan dampingan; (2) membantu masyarakat mendefinisikan masalah mereka; (3) memiliki kemampuan mengukur masalah-masalah tersebut dengan berbagai macam variasi metode pendekatan; (4) memiliki keterlibatan dengan masyarakat selama implementasi kegiatan; dan (5) memiliki kemampuan atau eksibilitas dalam menyesuaian dengan berbagai situasi.

Pendapat di atas selaras dengan Elvera N. Makki selaku Director, Country Head of Corporate Head of Corporate Affairs Citi Indonesia yang menyampaikan bahwa Citi Bank memiliki perhatian besar terhadap kesempatan besar terhadap kesempatan besar terhadap kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi generasi muda atau youth economic opportunies, bukan hanya bagi diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat sekitar. Lebih lanjut, Ibu Vera berujar, “Indikator kesuksesan sociopreneur bukan hanya diukur dari jumlah profit yang mampu dihasilkan, tapi lebih jauh, seberapa besar dampak sosial yang tercipta dari usaha yang dibangun. Melalui program kewirausaan muda ini, kami berupaya membentuk wirausaha sosial muda dengan karakter pebisnis andal yang mahir kewirasaan muda ini, kami berupaya membentuk wirausaha sosial muda dengan karakter pebisnis andal yang mahir dalam hal pengelolaan keuangan, serta memiliki orientasi dalam membantu penyelesaian masalah sosial yang tengah terjadi di lingkungan mereka.

Foto 2a

Dari paparan tersebut menunjukkan bahwa Citi Bank sangat konsen dalam sosio entrepreneurship atau kewirausahaan sosial yang meliputi menciptakan nilai sosial, wirausaha sosial, organisasi kewirausahaan sosial, orientasi pasar, dan inovasi sosial.  

Robert Gardiner selaku Management Advisor Prestasi Junior Indonesia  menjelaskan, bahwa generasi muda yang tengah mendominasi penduduk Indonesia perlu diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas potensi diri, khususnya kewirausahaan, guna mendorong produktivitas mereka. Bersama Citibank, Prestasi Junior Indonesia akan terus memberikan pembinaan kewirausahaan sosial kepada pelajar SMA dan
SMK di sejumlah kota di Indonesia. Upaya berkelanjutan ini dilakukan untuk mendorong generasi muda menjadi sociopreneur yang jeli melihat potensi lokal, tumbuh sukses secara individu, sekaligus memberikan dampak positif ekonomi kepada komunitas di sekitar mereka.

Hadir Endra Marsudi selaku Co-Founder & Chief Executive Officer Frame A Trip, dia memaparkan bisnisnya yang bermula dari hobi lelu membentuk komunitas, kemudian berkembang menjadi bisnis fotografer perjalanan. Bisnis yang unik, tetapi sudah menyebar hampir di seluruh Indonesia.

Foto 2b

Ada Siti Astrid Kusumawardhani selaku Vice President of Public Affairs GO-JEK Indonesia, yang dalam paparannya menyebutkan bahwa GOJEK lahir sebagai sosiopreneur yang turut membantu dan mengembangkan usaha atau bisnis para UKM. Di era digital sekarang, saya sendiri pengguna ojek online dan merasakan manfaat dari keberadaan aplikasi kendaraan umum berbasis online ini.

Penjabaran tersebut sebagai semangat membangun bisnis berbasis kemasyarakatan kepada lebih banyak generasi muda, sebuah diskusi bertajuk, Sociopreneur Talks: Social Enterprise Empowers People. Pada sesi ini, para narasumber akan berbagi pengalaman membangun bisnis dengan memanfaatkan potensi lokal, hingga sukses bersaing di tingkat internasional, dengan narasumber Robert Gardiner, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia, Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Sagasco Student Company, tim perusahaan siswa dari SMAN 3 Semarang, Endra Marsudi, Co-Founder & Chief Executive Officer Frame A Trip dan Siti Astrid Kusumawardhani, Vice President of Public Affairs GO-JEK Indonesia.

Citi Bank melalui membangun “Youth Sociopreneur Initiative”, para siswa dibina untuk mendirikan dan mengoperasikan sebuah perusahaan (SC-Student Company) di sekolah. Hal ini termasuk menciptakan ide produk, merencanakan strategi bisnis, melakukan penjualan produk, hingga likuidasi perusahaan. Selama periode program, para pelajar juga telah mendapatkan pendampingan bisnis secara intensif dari
mentor PJI dan karyawan Citibank yang tergabung dalam Citi Volunteers. Selain itu, program ini juga mendorong para siswa untuk menciptakan usaha yang bukan hanya memenuhi kebutuhan, tapi juga mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini.

Foto 3

Di kompetisi periode 2017-2018, Sagasco merupakan SC dari SMAN 3 Semarang yang berhasil mengalahkan 34 SMA dan SMK di tingkat nasional dan terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk berkompetisi di tingkat Asia Pasifik yang akan digelar di Filipina pada Maret 2019 mendatang. Pada kompetisi ini, mereka akan bersaing dengan SC dari 13 negara Asia Pasifik lainnya.

Fokus pada sociopreneurship sekaligus ecopreneurship, Sagasco SC memulai ide bisnis yang digerakkan atas kepedulian terhadap dampak negatif dari eceng gondok di area Rawa Pening yang mulai membahayakan keberlangsungan lingkungan serta mengganggu industri perikanan dan pariwisata daerah. Berkolaborasi dengan masyarakat dan pengrajin setempat, Sagasco SC sukses memproduksi Echoes – produk alas kaki berbahan dasar eceng gondok yang dipadukan dengan
motif batik khas Semarang. Menghasilkan produk berdaya guna yang ramah lingkungan dengan sematan nilai kebudayaan dan memiliki nilai jual baik.

“Kesempatan mewakili Indonesia di ajang kompetisi bisnis internasional menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang kami emban bersama. Tentunya, pencapaian ini dapat kami raih berkat bimbingan dan dukungan yang dberikan oleh Citibank Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia. Sagasco SC berharap, usaha yang kami rintis saat ini dapat terus berkembang dan menebar manfaat, serta mampu menginspirasi teman-teman wirausaha muda untuk berani memulai bisnis sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan sosial,” ungkap M. Zinedine Alam Ganjar, siswa SMAN 3 Semarang yang menjadi President Director Sagasco SC.

Alam Ganjar pun berharap pertumbuhan kewirausahaan sosial di tanah air, bukan hanya menjadi tren yang berlangsung sementara, tapi dapat terus berkembang dan menciptakan ekosistem bisnis yang mampu memberi dampak sosial nyata dan berkelanjutan. Kami percaya, kehadiran sociopreneur muda mampu menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi solusi bagi persoalan sosial dan ekonomi bangsa.

Dalam talkshow tersebut menunjukkan bahwa sosiopreneur itu, pertama, menciptakan nilai sosial, wirausaha sosial, organisasi Kewirausahaan sosial, orientasi pasar, dan inovasi sosial.  Maka, program “social agent” Sosiopreneur, Bisnis yang Membangun Pemberdayaan Manusia dan Lingkungan yang memberikan kontribusi pada perubahan sosial itu sendiri.

Advertisements