Hati menjadi tumpuan dalam perjalanan kehidupan, menjadi sentra dari setiap langkah perjalanan. Namun, meskipun hati menjadi organ tubuh yang penting, seringkali malah mengabaikannya secara fisik. Oleh karena itu, yuk deteksi dini hepatitis…

Jumat, 27 Juli 2018, saya berkesempatan mendapatkan paparan tentang deteksi dini hati. Bertempat di Gedung Kementrian Kesehatan dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendakian Penyakit Menular Langsung, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI dan Dr. dr. Andri Sanitroso, SpPD-KEGH Sekretaris Jendral PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) memaparkan secara lengkap tentang hati.

Ibu Wiendra memaparkan bahwa penyakit hati atau hepatitis merupakan permasalahan kesehatan serius. Penyakit hepatitis ini adalah penyakit kronis, malah disebutnya sebagai silent killer. Wow, sungguh sangat mengerikan…

Indonesia sendiri sudah melakukan upaya pengendalian Hepatitis B sejak tahun 2014. Dengan pilot project Deteksi Dini Hepatitis B pada ibu hamil di Provinsi DKI Jakarta, dan pada tahun berikut dikembangkan ke perovinsi lainnya dan pada tahun 2018 dilaksanakan secara nasional.

Berdasarkan paparan Ibu Wiendra, Indonesia telah berhasil capaian pengendaluan hepatitis (2016 – Juni 2018), dengan capaian:

1. Sosialisasi faktor resiko penyakit hepatitis di 24 provinsi.

2. Melakukan imunisasi rutin hepatotis B pada baui di 34 provibsi dengan capaian 93,5 %.

3. Deteksi dini hepatitis B sudah dilakukan di 34 provinsi dan 244 kab/kota.

4. Telah dilakukan deteksi dini hepatitis sebanyak 742.767 ibu hamil dan berhasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancaman penularan vertikal dari ibunya.

Capaian tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam deteksi dini hepatitis. Memeringati hari hepatitis sedunia ke-9 tahun 2018, Kementrian Kesehatan pun melaksanakan kegiatan peringatan yang puncak dilaksanakan tanggal 31 Juli 2018 di Rusunawa Rawabebek, Pulogebang, Jakarta Timur.

Apa Itu Hepatitis?

Apa itu hepatitis? Seringkali mendengar penyakit tersebut, tetapi masih kurang tahu atau malah tidak tahu gejala dan pencegahannya. Bahkan, efeknya pun masih belum begitu diketahui.

Tertegun ketika Mbak Dewi blogger memaparkan kisah sepupunya yang meninggal secara mendadak, padahal secara gaya hidup, sepupunya yang masih remaja tersebut memiliki gaya hidup sehat dan pola makan yang aman. Tentunya hal tersebut menjadi pukulan tersendiri, karena gejala penyakit tidak terlihat. Dengan vonis sakit, si anak meninggal.

Saya membayangkan kesedihan keluarganya, karena penyakitnya tidak terdeteksi sebelumnya. Tidak berlebihan bila hepatitis B, disebut sebagai penyakit yang silent killer. Ibu Wiendra menekankan bahwa bila sudah terkena penyakit hepatitis B, maka keakutannya lebih dari HIV Aids. Astaghfirullah, semoga kita semua dijauhkan dari penyakit tersebut dan berbagai penyakit lainnya. Amiin

Lalu, apa itu hepatitis?

Dr. dr Andri Sanityoso

pun secara gamblang memaparkannya bahwa hepatitis itu peradangan hati. Penyakit ini diakibatkan adanya virus. Ada tiga jenis hepatitis, yaitu Hapatitis A, B, C, D, E. Hepatitis tersebut berbeda dan tidak saling berkiatan, karena diakibatkan oleh virus yang berbeda, tetapi berada di organ tubuh yang sama, yaitu hati. A dan C sudah dapat dihilangkan virus, sehingga kesembuhannya pun insya Allah sangat memungkinkan. Dengan intensif pengobatan secara teratur 6 sampai 9 bulan.

Hepatitis ini terjadi karena adanya virus, yang disebabkan karena obat-obatan, perlemakan, alkohol, nyamuk malaria. Adapun penularannya ibarata siklus dengan urutan, pada pembawa virus A/E – membuang kotoran sembarangan atau tidak higienis – menyentuh makanan atau benda – disentuh, dimakan – terinfeksi sakit akut – sembuh atau pembawa.

Adapun penularan hepatitis melalui kontak cairan tubuh, seperti:

1. Ibu ke anak (perinatal).

2. Anak ke anak atau dari dewasa ke anak.

3. Transfusi dadah dan organ yang tidak diskrining.

4. Penggunaan jarum yang tidak aman.

5. Hubungan seksual yang tidak aman.

6. Kontak dengan darah.

Kementrian Kesehatan pun menyebutkan bahwa 1 dari 10 penduduk Indonesia memungkinkan mengidap hepatitis B. Tetapi sebagian besar tidak menyadari sampai muncul komplikasi. Maka, program pemerintah deteksi dini hepatitis pada ibu hamil sangat penting, warga pun hendaknya mengikuti apa yang diprogramkan oleh Kementrian Kesehatan. Dengan target tahun 2030 hilangnya hepatitis dari muka bumi, yuk, deteksi dini hepatitis….

Advertisements