Tags

, ,

Tak ingin berlama dengan sejuta lelah, ketika menemukan tujuan untuk bercengkrama dengan alam dan berbincang dengan kawan akan budaya yang berbeda-beda di seluruh penjuru dunia. Tak lepas lelah memandang sekitar untuk melihat kembali ke dalam diri, menemukan jiwa yang tenang dalam berkehidupan. Itulah perjalanan, itulah kehidupan.

Menyibak air terjun di bawah kaki Gunung Rinjani, Lombok, sebelumnya belum pernah saya bayangkan akan langkah kaki sampai jaun non di timur Indonesia. Itulah perjalanan awal, itulah kehidupan awal menuju timur Indonesia.

Menghirup udara Tanah Datar yang segar, menatap air terjun Lembah Harau, Bukittinggi, Sumatera Barat belum ada dalam bayangan saya pada masa silam. Tetapi, itulah perjalanan awal ke barat Indonesia, itulah kehidupan saya ketika menginjak bumi Minangkabau.

Barat dan timur berada dalam lintang satu simetris Nusantara, maka tak terkira saya bangga menjelajah Nusantara. Saya teringat tulisan kisah perjalanan Bujangga Manik, yang menempuh perjalanan untuk menemukan makna kehidupan. Dalam tulisan perjalanannya, sekarang kita bisa mengetahui suasana dan nama daerah masa lalu, waktu Pakuan Pajajaran dengan Indonesia Jaman Now.

Tak terhingga ingin mencatatkan kisah-kisah perjalanan, ketika melangkahkan jalan, maka menemukan kisah dan risalah kehidupan. Beranjak dengan gerak, melangkah dengan daya kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sang raga melangkah, menelusuri setiap celah, hanya untuk mengajarkan jiwa akan ketenangan dalam setiap perjalanan kehidupan. Atas kehendak Yang Maha Kuasa, langkah raga pun sampai ke ujung timur samudranta, Papua, menginjak dan menghirup udara segar tanah intan yang berkilau indah.

Sekarang memasuki era digital, perjalanan bisa dengan mengunduh aplikasi, kemudian memesan tiket perjalanan pesawat untuk menuju ke setiap tempat yang diinginkan.

Bila Bujangga Manik menelusuri jejak Nusantara dengan langkah-langkahnya, maka di era modern bisakah langkah ini menelusuri bumi dengan menggunakan kendaraan, baik pesawat, kereta api, mobil, bis maupun motor? Ingin ku ungkap perjalananku dalam sebuah memoar cinta kepada-Mu, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seperti diri ini yang berjalan ke Candi Boko, melihat setiap relief, mengagumi setiap goresan yang tertera di dinding bebatuan. Itu aku dalam perjalanan, itu aku dalam kehidupan, melihat jejak budaya masa lalu, berada di masa kini, yang kemudian jejak diri pun akan berada pada batasan waktu, dulu, kini dan yang akan datang.

Semilir angin perbukitan Istana Ratu Boko membuatku terlelap di halaman istana, di atas bangku panjang, di bawah pohon rindang. Menghirup udara, yang apakah sama ketika masa lalu, atau berbeda dengan udara yang sedang aku rasa. Itulah perjalanan, itulah kehidupan.

Bak tak bosan memandang indahnya Danau Toba yang melingkari dan membentuk budaya di sekitarnya. Beningnya air Toba, seakan menarik pada tulisan akan titik-titik debu Toba yang menyelimuti bumi, menutup matahari dalam bermasa-masa. Itulah perjalanan, itulah kehidupan. Hanya Kuasa Tuhan, yang membuat saya dapat melihat langsung bening air Danau Toba dan budaya Batak.

Bila Tuhan mengijinkan, langkah ini belum usai. Kaki ini masih dalam perjalanan kehidupan. Semua atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Perjalanan sekarang ini bisa dipermudah dengan adanya berbagai aplikasi yang menawarkan kemudahan dalam perjalanan. Salah satunya Skyscanner, aplikasi yang memudahkan dalam mencari tiket pesawat, terutama tiket pesawat Garuda Indonesia dan tempat penginapan.

Aplikasi ini bisa diunduh lewat Android, kemudian bila ingin bepergian, bisa memesan tiket atau penginapan dengan hanya mengkliknya, maka akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Saya sendiri bila bepergian ke berbagai daerah tersebut lebih sering menggunakan Garuda Indonesia, perjalanan pun lebih nyaman dan aman.

Itulah perjalanan, itulah kehidupan. Era teknologi sekarang memudahkan kita dalam merencanakan bepergian. Hanya dengan smartphone, kita bisa memesan yang kita butuhkan. Selamat jalan-jalan, selamat bersenang-senang… 🙂

Advertisements