Sesungguhnya semua seperti sebuah kisah dalam relung yang tak berbayang dan bertuan. Ada sebuah jeda dalam sebuah peristiwa. Saya tidak menyangka bila perjalanan pulang ke kos dengan jalan kaki akan membuat warna dengan penjambretan handphone yang sedang saya pegang.

Matahari sudah lama pulang ke peraduan, memasuki jam 9 pada rata jam tangan yang saya gunakan. Seperti biasa pulang dengan jalan kaki, lalu sibuk dengan aktivitas menggunakan handphone sehingga tidak mendengar motor yang lewat, sehingga menjadi terkesima ketika mereka mengambil handphone dengan tiba-tiba. Yups, istilahnya mah dijambret.

images

Ketika suatu hal yang menjadi permasalahan pada setiap rentetan keadaann adalah penyesalan akan adanya peristiwa tersebut. Saya pun menjadi menyesal ketika handphone hilang dengan pertanyaan kenapa memegang hape di pinggir jalan. Saya berteriak, tapi nggak ada yang mendengar karena sedang sepi.

Saya pun langsung balik kantor nyari komputer untuk mengubah password, dan memang kalau lihat dari jejaknya berada di seputar sana. Sebagai yang biasa menggunakan handphone dengan aktivitas kerjaan, maka kehilangan handphone menjadi hal yang membuat saya tidak bisa berkerja. Untuk itu, dibutuhkan handphone baru, padahal biaya untuk ganti handphone tidak ada.

Saya pun mencari alternatif bembiayaan lain untuk mendapatkan handphone baru, seperti kredit atau pinjaman. Saya pun mencari toko online yang menyediakan pinjaman kilat. Pinjaman kilat secara online bagi saya sangat membantu ketika sedang dalam kebutuhan mendesak.

Betul, ketika handphone hilang dijambret orang, saya tidak bisa menjalankan aktivitas pekerjaan saya di media sosial. Bahkan, untuk transportasi yang biasa menggunakan handphone, saya harus bertahan tanpa handphone. Setelah saya renungkan, memang harus bisa membedakan handphone untuk bekerja atau hiburan. Saya sampai berpikir, apakah kita memanfaatkan teknologi atau teknologi telah mengubah saya menjadi orang yang bergantung padanya. Ini baru handphone saja, belum yang lainnya.

Dengan demikian, suatu pembelajaran untuk berpikir lebih mudah dalam menghargai yang kita miliki sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai berlebihan dalam menggunakan teknologi, karena memang kita masih dapat mengerjakan lainnya dengan manual atau konvensional.

Alhamdulillah, dengan pinjaman kilat tersebut saya mendapatkan hape baru dan dapat kembali beraktivitas. Dari kejadian di atas, saya pun berpikir ingin memiliki simpanan yang dapat diambil setiap saat atau bisa juga berupa investasi. Untuk investasi ini, saya pun mencarinya secara online, dan menemukannya di Reksadana Tokopedia. Selain mudah dan praktis, transaksi online dapat meringkasnya dalam satu genggaman handphone.

Di era digital sekarang ini, ada beberapa hal yang menjadi keinginan sehingga hal tersebut dapat dengan peminjaman atau investasi dengan mudah melalui elektronik atau teknologi. Dalam hal ini, Bank Indonesia juga menjawab tantangan kemudahan dan ketersediaan layanan keuangan di seluruh wilayah Inodnesia.

Bank Indonesia sendiri telah melakukan kajian awal dan uji coba branchless banking yang diluncurkan pada Mei 2013. Uji coba dimaksud dilakukan oleh 5 bank dan 2 telco pada 5 provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Selatan). Tujuan dari uji coba dimaksudkan adalah untuk mencari apakah terdapat buying need dari masyarakat dan provider, bentuk model bisnis, dan pengaturan yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Branchless banking ini terutama dilakukan dengan memanfaatkan tingginya penggunaan telepon genggam, serta kerjasama dengan unit lokal atau agen.

Maka, Tokopedia melayani layanan keuangan digital hadir dalam pemenuhan keinginan. Dalam hal ini tetap harus ada beberapa kegiatan yang menjadi beberapa keinginan dengan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa kita dalam menggunakan teknologi dengan sebaik-sebaiknya.

Bisa juga baca: https://www.tokopedia.com/pinjaman-online/

https://www.tokopedia.com/reksa-dana/

Advertisements