Memintal benang dalam jahitan pouch harapan bak merangkai kesabaran dan ketelitian. Jemari yang bergerak mengikuti jelujur garis hitam, menjadi pola beragam keinginan. Setiap gerak tangan seakan menjadi suatu kekuatan dalam menggapai semua yang ada dalam setiap rutinitas dengan memaku setiap helaianya pada kain yang menyatu dengan bahan lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali memiliki banyak keinginan, mulai yang menurut kita sederhana sampai yang mustahil. Hal tersebut seringkali berkejaran dalam pikiran, maka untuk merealisasikannya tidak lepas pada diri kita dalam mengelola keinginan-keinginan tersebut untuk menjadi kenyataan.

Saya menyimpan berbagai keinginan tersebut dalam sebuah dompet yang menyimpan semua harapan. Dompet ini secara praktis bisa kita bawa kemana-mana sebagai tempat menyimpan segala transaksi, karena di dalam dompet bukan hanya terdapat uang, tetapi ada kartu identitas, kartu bank, kartu BPJS, dan lain-lain.

Selasa, 27 Februari 2018, saya berkesempatan mengikuti pelatihan menjahit kain perca dengan mengolahnya mnejadi dompet besar, atau pouch. Pagi yang cerah membawa perjalanan sangat menyenangkan di antara gerak semua orang yang melangkah mengikuti keinginan dan harapannya. Semua menjadi bagian dengan terus membawa pada liku perjalanan, termasuk pada rangkaian yang dibuat sesuai gerak dengan segala tujuan.

Bertempat di Gedung Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), saya mengikuti sessi pengayaan lifeskill berupa menjahit. Kegiatan kerajinan tangan ini atas kerjasama antara Alfamart dengan LazisNU dalam pemberdayaan masyarakat. Alfamart merupakan perusahaan retail yang menjual produk/dagangan kebutuhan rumah tangga, termasuk produk kebutuhan sehari-hari yang menggunakan system swalayan (konsumen mengambil barang/produk sendiri tanpa ada pramuniaga yang melayani).

Saat ini, tentunya hampir semua warga Indonesia mengetahui Alfamart. Dalam kiprah bisnisnya, Alfamart bekerjasama dengan LazisNU (Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Nahdhatul Ulama) melaksanakan berbagai kegiatan yang kali ini tentang pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan kain perca.

Kain perca, merupakan kain sisa guntingan yang berasal dari pembuatan pakaian, kerajinan atau berasal dari produk tekstil lainnya. Kain perca ini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam kerajinan, di anataranya dompet atau pouch.

Dengan dipandu oleh Susi Sukaesih, guru yang aktif dalam kegiatan wirausaha. Dalam kiprah wirausahanya, Susi Sukaesih ini memiliki sekolah kejuruan kreatif seperti pakaian atau komputer. Para siswa/siswi ini secara beasiswa mendapatkan sekaligus mempraktekkan ilmunya, dengan hasil karya dijual untuk menyelesaikan sekolah mereka.

Setiap bentang benang menjadi tali dalam mengikat suatu keinginan dan harapan, begitu pula dengan para siswa yang belajar sekaligus bekerja untuk menjadi lebih baik dan lebih berguna dalam berkehidupan. Seuntai benang dapat dibentuk berbagai keinginan, mulai dari pakaian, tas atau dompet.

Untuk membuat pouch dipersiapkan kain perca, gunting, benang, jarum, resleting dan karton. Karton ini untuk membuat pola pouch, setalah dibuat garis, kemudian diterapkan pada kain. Saya sendiri sudah mendapatkan kain perca dan peralatan lainnya. Dengan dibantu oleh beberapa siswinya, Susi Sukaesih yang kami mengenalnya dengan Suzi Icus ini mengarahkan kami membuat ouch dari kain perca.

Langkah pertama setellah tersedia dua kain, satu untuk di luar, satu lagi untuk puringnya, resleting dan jarum serta benangnya. Kedua potongan kain tersebut sudah dibentuk pola dengan menempel pada karton yang sudah dibuat pola garisnya.

Saya menjahit dengan tangan sesuai dengan garis yang sudah dipola, dengan resleting di antara kain puring dan kain luarnya. Lumayan bikin tangan pegal bagi yang tidak terbiasa mnejahit dengan tangan. Apalagi kalau soal kerapihan, duh, sepertinya saya harus banyak latihan menjahit. Meskipun sudah ada garis polanya, tetap pabaliut garijul menjahitnya, alias zigzag nggak rapi hehehe…

Saya kemudian menambah jahitan dari arah luarnya dekat resleting untuk memperkuat jahitan. Setelah itu menambah kain bagus dan kain puring untuk dijahit bersamaan. Untuk detailnya, setiap alur jahitan mengikuti pola yang sudah digariskan pada kain untuk dijahit.

Salah satu program CSR Alfamart yang dilaksanakan dengan mengadakan Program Pemberdayaan Masyarakat ini bekerjasama dengan komunitas-komunitas dan atau LSM.

Alhamdulillah, setelah tertusuk beberapa kali, akhirnya saya dapat menyelesaikan menjahit pouch. Satu pouch saja membuat makan saya serasa nikmat. Dari sini saya banyak belajar kesabaran, ketelitian, kerapian dan keindahan. Pouch dengan buatan sendiri menjadi harapan, bahwa sebuah pouch menjadi harapan bagi si pembuatnya. Pouch harapan yang akan menemani perjalanan lebih berwarna dan indah.

Advertisements