Tags

, ,

Kemajuan teknologi seakan mengajak berlarian dalam penerapan teknologi pada semua lini kehidupan. Salah satunya dalam hal pendidikan, teknologi mendorong pengembangan model pengajaran kepada anak lebih nyaman, sederhana dan kekinian. Digital financial for children; yuk, cerdas finansial sejak dini sebagai model pengajaran keuangan dari kecil dengan berbasis teknologi.

Jakarta, 15 Februari 2018, Citi Indonesia, melalui payung kegiatan kemasyarakatannya Citi Peka (Peduli dan BerKarya), bersama Prestasi Junior Indonesia mengadakan kegiatan Citi Parenting Talkshow bertema Cerdas Finansial Sejak Dini kepada orang tua siswa SDN Ragunan 12 Jakarta Selatan. Para orangtua diajak untuk menyadari pentingnya mengenalkan serta mengajarkan cara mengelola keuangan sejak dini kepada anak-anak mereka.

Saya sangat senang berkesempatan mengikuti kegiatan ini, sehingga dengan jelas saya lebih memahami makna penting akan keuangan. Uang adalah alat tukar, bukan nilai hidup. Penjelasan secara gamblang ini dipaparkan oleh Roslina Verauli selaku Psikolog Anak & Keluarga. Dalam hal ini, Roslina menekankan pentingnya memahami makna hidup, apakah dalam menjalankan sesuatu berdasarkan kebutuhan atau keinginan.

Yups, hal ini seringkali menjebak kita, wa bil khusus saya. Roslina dengan referensi teori Abraham Maslow yang mengurut pada tingkat kebutuhan menjadi tahapan dalam pemaknaan perjalanan hidup berdasarkan kebutuhan atau keinginan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, saya pun melihat diri dengan cermin teori tersebut dalam memenuhi kebutuhan atau keinginan. Meskipun saya belum menikah dan punya anak, tetapi saya calon ibu dan istri yang mengelola keuangan keluarga, insya Allah. Maka, saya pun harus dapat menerapkan dan memahami hal tersebut pada diri sendiri. Ketika menggunakan sesuatu atau membelinya, apakah karena kebutuhan atau keinginan?

Sebagai evaluasi, saya pernah terjebak dengan keinginan selalu singgah ke restoran atau cafe padahal uang pas-pasan. Untuk makan, sebetulnya saya tidak mesti menjabani resto atau cafe setiap lapar, tapi bisa masak sendiri atau beli ke warteg bila hanya memenuhi kebutujan untuk menghilangkan kelaparan. Kalau sesekali mungkin bisa, tetapi tiap minggu pergi ke resto atau café, oh sungguh menyedot uang saya dan habis cepat.

Dulu, dengan pendapatan keuangan yang sama, saya bisa menyimpan uang dan sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Berbeda ketika saya sering main ke resto, uang yang disimpan saya gunakan untuk jajan. Begitu pula ketika belanja, biasanya hanya sesekali saja, ternyata berbelanja bisa nyandu, pernah belanja kerudung dan pakaian setiap kali singgah ke mall. Setelah melihat keuangan yang cepat habis, maka saya baru menyadarinya. Dari sana, saya belajar mengelola keuangan.

Secara jujur, dalam mengelola keuangan ini masih membutuhkan banyak belajar, apalagi dalam literasi keuangan. Tidak heran bila berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa kondisi literasi keuangan masyarakat Indonesia menunjukkan hanya 29 dari setiap 100 penduduk Indonesia yang memiliki pengetahuan memadai tentang keuangan dan perbankan.

Survei yang menarik sehingga saya lebih semangat untuk belajar literasi keuangan. Ketika Citi Peka yang bekerjasama dengan Prestasi Junior Indonesia menyajikan kegiatan literasi keuangan pada anak berbasis digital, maka di sana terdapat peran aktif dari seluruh pihak untuk mendukung terwujudnya peningkatan pemahaman masyarakat dalam mengoptimalkan uang untuk kegiatan yang produktif dan menggunakan berbagai produk serta layanan perbankan.

Hal tersebut seiring dengan harapan Citi Indonesia pada anak-anak, kelak anak-anak tersebut menjadi generasi masa depan yang cerdas dalam membuat keputusan finansial. Lebih lanjut lagi, Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia memaparkan bahwa literasi keuangan pada anak bukan hanya pengenalan uang saja, namun mencakup pengetahuan akan konsep pengelolaan keuangan secara bijak serta kemampuan untuk dapat mengontrol pengeluaran dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Penyelenggaraan program edukasi keuangan kepada anak-anak dan orangtua ini merupakan wujud nyata komitmen Citi Indonesia untuk terus meningkatkan pengetahuan serta kemampuan pengelolaan keuangan masyarakat Indonesia. Tidak berlebihan bila melalui pendanaan dari Citi Foundation, penyelenggaraan kegiatan ini masuk tahun kedua dalam rangkaian program edukasi “Digital Financial Literacy for Children” yang diimplementasikan sejak Oktober 2017.

Program ini melibatkan 2.947 siswa dari 12 sekolah dasar di 5 (lima) kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang dan Denpasar. Dengan memberikan edukasi bagi anak-anak dan orang tua sekaligus, Citi Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia tidak hanya ingin meningkatkan pengetahuan keuangan kepada anak tetapi juga mengajak orangtua untuk membentuk budaya pengelolaan keuangan yang sehat di rumah.

Sebagai mitra dalam program ini, Robert Gardiner, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia menuturkan bahwa anak-anak harus diberikan pemahaman bahwa orangtua perlu bekerja atau berwirausaha untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan mereka. Saat mendapatkan uang saku, mereka harus menyisihkan uang terlebih dahulu untuk ditabung lalu kemudian dibelanjakan dan tak lupa disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Kegiatan yang dihadiri oleh Bapak Thamrin dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Ibu Lis Badriah selaku Kepala Sekolah SDN Ragunan 12 sangat seru dan menarik. Apalagi dengan narasumber Psikolog Anak, Roslina Verauli, M.Psi yang sangat interaktif membuat suasan semakin hidup dengan curhatan para orangtua murid akan pengelolaan keuangan mereka pada anak dan cara mengaturnya.

Di era digital sekarang ini, tingginya perkembangan gadget pada dunia anak yang membuat anak-anak menghabiskan waktu yang cukup lama dalam sehari untuk bermain gadget. Verauli memaparkan bahwa mendidik anak untuk mengelola uang dapat melalui berbagai cara, salah satunya pada saat sang anak sedang asik bermain gadget, kita dapat menyelipkan waktu untuk memberi pemahaman terkait menabung melalui digitalisasi. Seperti ikut membantu anak mencari tahu perbedaan profit ketika menabung melalui bank, lalu belajar menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung agar mereka mampu membeli sesuatu yang dibutuhkan di kemudian hari. Hal ini akan membentuk kebiasaan positif anak untuk menggunakan uang secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, literasi keuangan dengan pembentukan budaya pengelolaan keuangan yang sehat diharapkan dapat terbantu dan diterapkan oleh orangtua melalui digitalisasi. Pemahaman pengelolaan keuangan ini dapat diselipkan pada waktu anak bermain gadget. Program edukasi Digital Financial Literacy for Children, yuk cerdas keuangan sejak dini sebagai pondasi yang membangun dasar pemahaman mengenai keuangan. Anak-anak dan orangtua pun memiliki gambaran dan pengetahuan yang utuh tentang manfaat keuangan sehingga mereka dapat menjadi generasi yang mampu menggerakkan industri keuangan Indonesia menjadi lebih maju.

Advertisements