Perang, puncak kelemahan manusia sekaligus puncak kekuasaan nafsu pada diri manusia. (Asmaraman Kho Ping Hoo)

Penggalan kalimat di atas menjadi salah satu bagian paragraf dari novel yang berjudul, Kidung Senja di Mataram. Novel yang menceritakan kisah seorang perempuan yang berjuang untuk keluarga (Bapaknya) dan tanah airnya.

Saya membaca kisah ini dari book googleplay. Walau masih terdapat banyak typo, tapi saya masih memahaminya. Alurnya memiliki berbagai cerita yang merujuk ke jalur cerita perang saudara di Kerajaan Mataram Islam. Ada beberapa bagian yang plashback, dan isinya banyak muatan tulisan pemaknaan diri dan kehidupan.

Dengan berlatar sejarah Kerajaan Mataram Islam, pada masa Sultan Hanyakrawati, yang bernama asli Raden Mas Jolang. Kisah ini mengangkat peristiwa perang saudara sekaligus mempertahankan kekuasaan Mataram Islam di Ponorogo dan ingin membebaskan diri Ponorogo dari Mataram Islam, padahal kedua pemimpin kerajaan ini masih sodara kakak beradik.

Penggambaran makna kekuasaan, Kho Ping Hoo memaparkannya dengan jelas dan jernih, bahwa kekuasaan merupakan puncak yang diperebutkan oleh manusia di dunia ini, karena kekuasaan menjadi sumber segala kesenangan lahir batin. Kekuasaan menjadi pintu lebar bagi penonjolan diri, kekayaan, kehormatan, dan kemuliaan.

Kekuasaan mendatangkan perasaan bangga diri karena menang dan merasa menang. Kekuasaan menuntut mereka yang berada di bawah. Karena itu amat menyenangkan dan menjadi rebutan. Bukan hanya kekuasaan bagi mereka yang menjadi pemimpin dan penguasa pemerintahan, tetapi juga kekuasaan ini dirasakan sebagai sumber kesenangan bagi pemimpin kelompok, pemimpin masyarakat, pemimpin perkumpulan sampai pemimpin keluarga. Kekuasaan yang selalu mendatangkan kemenangan dan kesenangan. Perebutan inilah yang menimbulkan sengketa, bentrokan, bahkan perang. Naudzubillahimin dzalik.

Gambaran perebutan kekuasaan ini tak lekang oleh zaman, sekarang memasuki tahun masa mendekati pemilihan umum, pengambilan simpati masyarakat dilakukan dengan berbagai cara. Apalagi di era digital sekarang, media sosial telah menjadi media opini publik, siapa pun bisa mengungkap opininya, baik dengan akun asli maupun palsu. Namun, penggiringan opini keberpihakan ini terus bergulir bak bola salju yang mengkristal, kemudian menghantam siapa saja.

Kho Ping Hoo pun berbicara tentang perang. Dia menuturkan bahwa perang, betapa mengerikan. Dalam perang, nafsu sepenuhnya menguasai manusia. Tidak ada lagi prikemanusiaan. Yang ada hanya nafsu untuk menang dengan cara dan jalan apa pun juga. Yang curang dianggap cerdik, yang kejam dianggap gagah perkasa.

Segala cara ditempuh, kelicikan, kekejaman, pembunuhan, siksaan, kecurangan apa saja ditempuh asal menang. Bahkan, nama Tuhan diperebutkan oleh kedua belah pihak yang berperang, seolah Tuhan hendak ditarik oleh kedua pihak, diperebutkan agar membantu mereka masing-masing.

Suatu penjabaran yang menarik dalam melihat perebutan kekuasaan. Nafsu menjadi ulasan menarik yang dipaparkan bahwa manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa nafsu. Melalui panca indera kita menikmati kehidupan, dan nafsulah yang mendatangkan kenikmatan itu. Namun, sekali nafsu berkuasa dan kita mengikutinya, maka kita akan dipaksa melakukan apa saja untuk mengikuti kenikmatan itu. Nafsu menjadi hal penting sekaligus berbahaya bagi kita. Maka, kembalikan nafsu pada fungsinya semula, yaitu sebagai alat.

Lebih lanjut lagi, Kho Ping Hoo menjelaskan bagaimana kita menyikapi nafsu, bahwa kita tidak berbuat apa-apa, karena apa pun yang kita buat ada nafsu. Maka, jangan berbuat apa-apa. Tidak berbuat apa-apa bukan berarti acuh atau tidak peduli, tidak apa-apa agar kekuasaan Tuhan yang berbuat, yang bekerja. Kita menyerah saja dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketawakalan dengan bekal iman kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Nafsu adalah ciptaan Tuhan, maka Sang Pencipta yang dapat mengatur sehingga nafsu akan kembali ke tempat semula sebagai abdi bagi kita.

Judul Buku: Kidung Senja di Mataram

Penulis: Asmaraman Kho Ping Hoo

Cerita silat ini menghadirkan tokoh Mawarsih, seorang perempuan cantik, saleh, ramah, pintar dan jago silat. Dia menyamar menjadi laki-laki untuk membebaskan ayahnya yang di penjara oleh kerajaan musuh. Dalam penyelamatan ayahnya, ada sosok misterius yang selalu menolongnya ketika dalam bahaya.

Yups, cerita silat yang penuh intrik, romantisme, spirit dan inspirasi ini berpadu dengan cerita pengkhianatan, kepalsuan, rayuan, iri dan dendam. Semua menjadi pendukung dan saling berkaitan dalam memahami makna kehidupan dan mengenal diri sebagai manusia seutuhnya.

Advertisements