Ketika seseorang sudah tidak menyukai sesuatu atau membencinya, seringkali mengucapkan atau menuliskannya sebagai cara melepas rasa tersebut.

Mengungkapkan rasa ketika emosi memang jarang yang bijaksana, seringkali lebih pada penghinaan dan merendahkan yang dibenci. Tak jarang malah muncul caci maki dengan segala istilah yang terdengar kata-kata yang menunjukkan kekotoran akan hal tersebut.

Melepaskan emosi memang tak menjadi masalah, begitu pula dengan yang menerimanya atau istilahnya lemper (lemparan perasaan). Menjadi lemparan perasaan sendiri memang dibutuhkan orang yang kuat, karena harus mendengar kata-kata caci maki meskipun tak selalu kata-kata itu yang keluar.

Tak dapat dipungkiri, menerima lemparan dengan kata-kata kotor dan caci maki membuat trauma tersendiri. Yups, kata-kata kebencian itu ternyata dapat membekas nyata pada relung jiwa, sehingga menusuk pada dasar rasa yang memegang kendali jiwa.

Ketika emosi kebencian terekspresikan dengan umpatan dan hinaan, maka itu sesungguhnya cerminan diri yang berujar. Namun demikian, saat luapan emosi tak dapat terkendali, bagi yang berlaku dengan perjalanan spiritual atau agama, di sinilah jalan mengaplikasikannya. Begitu pun yang menjadi lemparan perasaan, di sinilah peran agama yang harus tersaji, melepaskan lemparan kebencian tersebut kepada ilahi Rabbi, karena kita tidak tahu baik dan buruknya dari cerita tersebut terhadap seseorang atau sesuatu.

Ketika mempertanyakan rasa-rasa dari jiwa-jiwa, serta pertemuan dengan mereka, tak luput dari suka atau tidak, berbekas atau tidak, maka menjadi titian diri untuk mengerti dan memahami emosi sendiri dan kehendak Tuhan Semesta Alam.

Pertemuan dengan jiwa-jiwa yang meluapkan segala rasa dan emosi, itu semua atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak mesti menyalahkan orang tersebut dengan karakternya, karena hal tersebutlah diri dipertemukan untuk belajar dan memahami jiwa dalam laksana menjalankan kehendak Yang Maha Kuasa.

Larik rasa yang membekas dari cerita yang meronta, larungkan dalam cinta dan luapan kasih sayang-Nya. Itu wajah yang hadir untuk menjadi pelajaran dan hikmah, karena yang memutuskan benar dan salah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lalu bagaimana dengan diri? Yups, diri yang berlaku sebagai hamba Allah, dia akan menjalankan dan mengikuti semua kehendak dari Allah SWT. Begitu pula dalam pertemuan jiwa-jiwa, maka itu yang menjadi kehendak dari Allah SWT.

Hal yang sering terlupakan adalah penerimaan diri sebagai hamba Allah. Ketika kita sudah menjalankan diri sebagai hamba Allah, maka segala hidup dan mati menjadi kuasanya. Niat dan ibadah hanya untuk-Nya.

Ketika masih memiliki rasa atau trauma atas lemparan perasaan orang lain, sesungguhnya diri kita yang memiliki penyakit. Masih terjebak dengan ego diri dan penilaian. Ketika masih melangkah dalam penilaian, maka masih tersesat dalam baik dan buruk, salah dan benar, maka aku pun hadir dalam keegoisan jiwa yang berdiri sebagai penilai. Padahal sesungguhnya, Allah Yang Maha Mengetahui niat dan hati orang tersebut. Kita hanya melihat cuplikannya saja, maka tak layak memberi penilaian seakan mengetahui seluruh sistem jiwa dan kehidupannya.

Pada dasarnya, persepsi penilaian baik dan buruk bisa menjadi gambaran kita, maka larang jalan memang ada. Berada dihadapkan pada hal yang demikian, bagaimana jiwa dan emosi kita? Bila masih trauma, maka masih membekas emosi yang menyelimuti terpaut pada diri orang tersebut. Masih ada keterlibatan emosi yang menjadi rasa bahwa jiwa belum melepas ketidaknyamanan. Inilah realita, maka sekelumit kisah kebencian jangan tertuang sembarang, karena berada pada irama yang menyengat dalam jiwa diri. Sebagai pelajaran hakiki, bahwa jiwa itu hanya lewat dalam lintasan sapuan diri untuk menghadap ilahi Rabbi. Menerima diri sebagai hamba Allah yang menerima segala kehendak-Nya.

Advertisements