Tags

,

Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini, keahlian atau skill menjadi modal dalam persaingan kerja. Di dalam dunia pasar bebas MEA, Indonesia akan dibanjiri oleh tenaga kerja dan pelaku usaha dari negara asing di kawasan ASEAN, maka persaingan tenaga kerja akan sangat ketat. Tanpa SDM yang terampil, mumpuni dan professional yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, maka kita hanya menjadi tenaga kerja kasar. Oleh karena itu, Samsung Tech Institute dukung vokasi industri di 20 SMK Jawa Timur.

Dalam menciptakan SDM yang terampil, mumpuni dan professional, tidak terlepas dari pendidikan yang berkualitas. Tanpa pendidikan yang berkualitas, harapan hanya akan menjadi sebuah harapan, tanpa kenyataan. Samsung sebagai salah satu perusahan elektronik yang konsen pada dunia pendidikan, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan hadir dengan program Samsung Tech Institute sebagai program yang berkelanjutan.

Samsung Tech Institute

Selasa, 29 Agustus 2017, bertempat di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, telah berlangsung penandatanganan kerjasama Samsung dengan 20 SMK se-Jawa Timur pada program Samsung Tech Institute. Kerjasama ini menunjukkan bahwa program Samsung Tech Institute (STI) bersama 20 SMK di Jawa Timur.

Samsung Electronics Indonesia berkolaborasi dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur dan institusi pendidikan formal meluncurkan program Samsung Tech Institute di 20 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jawa Timur. Pada tahap ini, Samsung menjalankan dua format kolaborasi, yaitu STI Mandiri dan STI Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia.

STI Mandiri merupakan model bantuan mitra kerja Samsung. Pihak sekolah vokasi mengajukan untuk menerapkan kurikulum tertentu dari STI dengan sluruh fasilitas dan sarana belajar yang digunakan milik sekolah yang bersangkutan. Adapun STI Corporate Citizenship SEIN adalah kegiatan yang berjalan berdasarkan inisiatif langsung dari SEIN dengan menentukan sekolah vokasi yang ingin diajak untuk berkolaborasi melalui sleksi pemilihan yang ketat. Di sini, STI akan mengimplementasikan seluruh program dan kurikulum yang telah dikembang, yaitu Home Appliances (HA), Audio Visual (AV), HHP (Mobile Phone). Bukan hanya itu, para guru pun akan mendapatkan pelatihan, bantuan fasilitas dan sarana, kelas dan perangkat praktek.

Mr. Kang Hyun Lee (Vice Presiden Samsung)

Kang Hyun Lee sebagai Vice President Corporate Affairs PT. Samsung Electronics Indonesia memaparkan bahwa program Samsung Tech Indonesia memberikan pelatihan dasar elektronik yang bertujuan untuk memperkaya kurikulum di SMK dalam menciptakan lulusan yang semakin berkualitas sehingga dapat diserap langsung oleh industri. Dengan kemampuan tersebut, mereka bisa langsung kerja.

Bukan hanya itu, Kang Hyun Lee juga menyebutkan bahwa ini sebagai salah satu bentuk Samsung dalam mendukung program pemerintah dalam merealisasikan instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK serta program Kemenperin mengenai Pendidikan Vokasi Industri dalam rangka meningkatkan kualitas para lulusan SMK sehingga memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Vokasi Industri di SMK

Pendidikan vokasi atau kejuruan merupakan pendidikan yang menekankan pada keahlian praktikal, sehingga dibutuhkan untuk langsung terjun dalam praktek kerja. Untuk lebih lanjut lagi, Bambang Satrio Lelono sebagai Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementrian Tenaga kerja menjelaskan bahwa vokasi itu ada dua metode, yaitu pendidikan dan pelatihan. Keduanya tidak bisa digaabungkan tetapi tidak bisa dipisahkan, harus disinergikan. Kalau pendidikan vokasi untuk menjawab kebutuhan jangka panjang, maka pelatihan vokasi untuk memenuhi kebutuhan jarak pendek.

Mr. Kang Hyun Lee (Vice Presiden Samsung) dan Bambang Satrio Lelono (Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas)

Pada dasarnya, revitalisasi vokasi sudah sejak tahun 2007. Ada lima aspek dalam revatilisasi vokasi, yaitu program (program harus disusun berdasarkan kebutuhan industri), struktur (strukturnya harus diupgrade sesuai dengan kebutuhan), peralatan, manajemen dan jejaring.

Adapun dalam revitalisasi SMK dengan program Kemenperin tentang pendidikan vokasi industri, ada empat hal yang dilakukan, yaitu:

  1. Mendata lulusan SMK, baik berdasarkan daerah, kualifikasi dan kejuruan.
  2. Memfasilitasi siswa SMK untuk berlatih di BLK (Balai Latihan Kerja).
  3. Revitalisasi BLK.
  4. Percepatan SKK.

Gati Wibawaningsih (Dirjen IKM Kemenperindag) dan Saiful Raachman (Kadis Pendidikan Provinsi Jawa Timur)

Lebih lanjut lagi, Gati Wibawaningsih sebagai Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementrian Perindustrian memaparkan bahwa SMK dengan perindustrian sebagai sinergi kebutuhan dari industri dengan SDM industri.

Dalam pendidikan sendiri, Bapak Saiful Rahman sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menerangkan bahwa sejak tahun 2015, pendidikan di Jawa Timur fokus pada vokasi.

Dalam hal ini, Samsung menggandeng berbagai instansi dalam mengembangkan dan membangun SDM yang berkualitas. Program Samsung Tech Institute yang pada awalnya bernama Rumah Belajar Samsung mengadakan kerjasama dengan 20 SMK di Jawa Timur, yaitu SMK Al Huda Kediri, SMK Ma’arif Batu, SMK Muhammadiyah 1 Nganjuk, SMK Muhammadiyah 1 Surabaya, SMK Muhammadiyah 2 Genteng Banyuwangi, SMK Muhammadiyah 5 Babat Lamongan, SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang, SMK Negeri 1 Gempol, SMK Negeri 2 Malang, SMK PGRI 1 Nganjuk, SMK PGRI 1 Pasuruan, SMK Taruna Balen-Bojonegoro, SMK Turen Malang, SMK Islam 1 Blitar, SMK Negeri 1 Geger-Madiun, SMK Walisongo 2-Gempol, SMK Negeri 1 Bandung- Tulung Agung, SMK Negeri 1 Bendo-Magetan, SMK BP Subulul Huda Madiun dan SMK Negeri 1 Wonosari Madiun.

Dari ke-20 SMK tersebut, 19 SMK dengan sistem STI Mandiri dan 1 dengan STI Corporate Ciitizenship Samsung Electronics Indonesia, yaitu SMK Negeri 1 Wonosari Madiun. Pada saat itu, alhamdulillah, saya berkesempatan diskusi dengan Danu Setioko sebagai perwakilan koordinator program STI dari SMK Negeri 1 Wonosari Madiun.

SMK Negeri 1 Wonosari

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang memiliki banyak program keahlian, yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, permintaan masyarakat dan pasar. Peserta didik atau murid pun dapat memilih bidang keahlian yang diminatinya, maka kurikulum SMK dibuat agar peserta didik siap untuk langsung bekerja di dunia kerja.

Danu Setioko dan Puji Rahayu, SMK Negeri 1 Wonosari Madiun

Danu Setioko, guru Teknik Audio-Video sekaligus koordinator STI SMK Negeri Wonosari Madiun menceritakan bahwa sekolah mereka selama setahun mengajukan proposal program STI  dan survei.

Meski terlihat lelah, terlihat sumringah bahagia atas keberhasilannya mendapatkan program STI. Sekolah yang dipimpin oleh Puji Rahayu ini mendapatkan STI Corporate Citizenship SEIN, yang mana mendapat seluruh program dan kurikulum HHP, AV serta HA, pengadaan pelatihan guru, fasilitas dan sarana, kelas dan perangkat praktek.

Dengan memiliki murid sebanyak 1758, yang setiap tingkat angkatannya ada 17 kelas, SMK Negeri 1 Wonosari Madiun ini memiliki 8 kejuruan, yaitu Teknik Konstruksi Kayu, Teknik Instalasi Listrik, Teknik Audio Video, Teknik Pengelasan, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Multimedia, Teknik Jasa Boga, dan Teknik Tata Busana.

Dengan adanya program STI ini, telah meningkatkan brand image SMK Negeri 1 Wonosari Madiun dengan tahun ini aja animo masyarakat meningkat menjadi 40 atau 50 %. Demikian kata Danu Setioko, guru Teknik Audio-Video SMK Negeri 1 wonosari.

Demikianlah, menjadi manusia serba bisa memang luar biasa, tetapi menjadi orang yang memiliki keahlian khusus sangatlah istimewa. Spesialis keahliannya itulah yang akan menjadi ciri khas orang tersebut, meski dia pun bisa juga mengerjakan yang lainnya. Keistimewaan itu dapat dilihat pada fokusnya keahlian yang dimiliki. SMK sebagai salah satu sekolah yang sejak awal sudah memiliki fokus jurusan sesuai oleh keinginan dan cita-cita anak. Dan, Samsung Tech Institute dukung vokasi industri di 20 SMK Jawa Timur.

 

Advertisements