Sawit Indonesia, menjadi salah satu perkebunan yang sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Tak dapat dipungkiri, dalam perkembangannya, industri sawit Indonesia mengalami berbagai problematika. Seperti saat ini, kelapa sawit Indonesia sedang terjegal dengan peraturan Eropa sehingga pemesaran kelapa sawit Indonesia menjadi sangat terbatas pasarnya. Belum lagi dengan isu lingkungan dan hutan yang menjadi PR besar bagi petani, industri dan pemerintah. Namun, hal tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri dan motivasi bagi industri sawit Indonesia untuk terus maju. Lalu, bagaimana sawit berkelanjutan, membangun produktivitas dengan inovasi dan teknologi terkini?

Rabu, 17 Mei 2017, Media Perkebunan bekerjasama dengan Kementrain Pertanian mengadakan seminar nasional, yang bertema, Inovasi dan Teknologi Terkini dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Sawit secara Berkelanjutan. Hadir para narasumber dari para ahli dan peneliti yang kompeten pada bidangnya. Para peserta yang terdiri dari para industri sawit pun sangat antusias menyimak para narasumber.

Pada paparan awal, Haryono, Ketua Komisi Teknis Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional menjelaskan tentang sawit dan pertanian berkelanjutan. Berkelanjutan itu mengandung ecological health, economic health dan social health. Untuk mencapai keberlanjutan tersebut, bukan hanya pada orangnya untuk mendapatkan ketiga unsur tersebut, tetapi berkelanjutan bagi manusia, bumi, dan keuntungan. Maka, untuk mencapak keberlanjutan tersebut, di era digital sekarang ini membutuhkan keilmuwan, inovasi, dan jaringan, sehingga mendapat pengakuan secara ilmiah dan mengenal dampaknya. Dalam hal ini, Pak Haryono menekankan untuk open science dan open inovation. Ini penting untuk keberlangsungan sawit berkelanjutan.

Sawit Influ

Lebih lanjut lagi, Dwi Asmono, Director of Research & Development Sampoerna Agro Tbk. menjelaskan bahwa dalam produktivitas ada Germplasm, areal cond, environment practice dan human resources.

Adapun Tony Liwang, dari Smart Tbk, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki dua tanaman unggulan, yaitu pada dan kelapa sawit. Dalam budidaya padi dan kelapa sawit memiliki kesamaan. Sedangkan secara genetik, kelapa sawit memiliki kekerabatan terdekat dengan kurma.

Sawit & Kurma

Mengapa pohon kelapa sawit merupakan ohon yang paling produktif menghasilkan minyak? Yups, lebih lanjut Tony Lewang menjalaskan bahwa Genom kelapa sawit terdiri dari 16 pasang kromosom >1.71 giga pasang basa. Untuk mengetahui percepatan seleksi bahan tanam, maka dibutuhkan riset, salah satunya riset bioteknologi yang berfungsi untuk membantu seleksi pada fase awal pertumbuhan, mengembangkan maraka molekuler untuk karakter target, memperbaiki sifat melalui transformasi genetik.

Selanjutnya, Razak Purba sebagai Pemulia Kelapa sawit menuturkan bahwa untuk sawit berkelanjutan sangat penting untuk disosialisasikan pada para petani sawit. Karena pada umumnya, pekebun kecil dikenal dengan kebunnya yang kurang terawat, tanaman mengalami defisiensi hara, penggunaan bahan tanaman ilegitim dan penanaman di areal yang kurang sustable, seperti gambut, pasang surut dan sebagainya.

Adapun dalam program pemuliaan kelapa sawit dengan menciptakan keragaman genetik, di antaranya dengan eksplorasi sumber keragaman baru, tuka menukar sumber daya genetik, membeli advanced genetic materials. Lalu, seleksi karakter yang diinginkan dari berbagai populasi, stabilisasi karakter yang diinginkan dan perbanyakannya varietas komersial, termasuk pengujian lokasi dan reproduksi tertua terpilih dengan selfing maupun rekombinasi.

Semakin menarik penjelasan dari Tatang H Soerawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), bahwa Pohon sawit adalah pohon pengahsil minyak-lemak pangan yang paling produktif di dunia; sekarang 5-6 ton/ha/tahun. Kontribusi minyak sawit adalah 40 % dari produksi minyak-lemak pangan dunia dari lahan perkebunan hanya sebesar 6 % dari total lahan yang digunakan dunia untuk memproduksi minyak-lemak pangan. Pohon sawit pun menghasilkan 2 jenis minyak : CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit mentah) dan CPKO (Crude Palm Kernel Oil, Minyak inti-sawit mentah). CPO berkomposisi asam-asam lemak jenuh dan tak jenuh seimbang (palmitat-oleat), baik untuk produksi green diesel maupun bensin nabati. CPKO adalah minyak laurat, sangat cocok untuk produksi bioavtur.

Indonesia adalah penghasil/produsen minyak sawit terbesar di dunia: 31 juta ton/tahun CPO, ekivalen dengan 600.000 barel/hari (minimum 360.000 barel/hari di antaranya kita ekspor mentah!); produksinya juga akan terus meningkat via intensifikasi dan extensifikasi. 

Indonesia sendiri pemimpin biodiesel. Biodiesel sawit memiliki mutu terbaik dibanding dibanding biodiesel-biodiesel kedelai, kanola, bunga matahari dll. Keunggulan : angka setan cukup tinggi, kestabilan oksidatif relatif tinggi (tapi masih kalah agak jauh dari solar). Kelemahan : titik beku/kabut relatif tinggi. Melalui penelitian dan pengembangan harus ditingkatkan mutunya menjadi biodiesel berperforma tinggi.

Nuri Andarwulan, Seafast Center IPB, memaparkan bahwa harus ada kerjasama antara pemerintah dengan industri dan peneliti. Demikianlah, seperti yang dikatakan Nuri, bahwa untuk kelapa sawit berkelanjutan, membangun produktivitas dengan inovasi dan teknologi terkini membutuhkan kerjasama semua pihak, dari pemerintah, peneliti, industri, petani dan masyarakatnya sendiri.

 

Advertisements