Tags

,

Keberlangsungan alam dan lingkungan tidak lepas dari peran kita sebagai makhluk penghuni bumi yang berakal. Manusia sebagai makhluk yang berbicara, telah diberi anugerah dan kesempatan untuk berada di bumi, maka terletak pada tangan kita apakah akan merusak dan menghancurkannya atau menjaga dan memeliharanya. Pilihan ada pada diri kita sendiri.

Selama dua hari, saya berkesempatan menelusuri dan mengikuti jejak CSR Aqua, menelusuri Aqua Lestari di Pasuruan. Apa yang saya temukan? Berikut beberapa temuan yang saya dapatkan selama perjalanan. Apa, ayoooo…

Jumat dan Sabtu kemaren, tepatnya tanggal 5 dan 6 Mei 2017, saya berkesempatan menelusuri jejak CSR Aqua Lestari di Pasuruan sekaligus turut andil di dalamnya menjadi mitra CSR Aqua Lestari sebagai blogger. Di Pasuruan, Aqua memiliki dua pabrik di dua derah, yaitu di Keboncandi, yang khusus untuk pabrik penghasil air aqua kemasan galon, dan di Pandaan, pabrik Aqua yang menghasilkan air Aqua berkemasan galon, botol ukuran 1500 ml, botol ukuran 600 ml, botol ukuran 300 ml dan Aqua cup gelas.

Batik Bina Lestari

Di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sekarang ini, memang dibutuhkan masyarakat yang kreatif dan inovatif. Aqua Keboncandi melakukan pemberdayaan masyarakat menuju ekonomi kreatif dengan melatih warga Dusun Sukun, Kampung Mendalan, Winangon dengan pelatihan membatik. Mereka dilatih dan diberi modal untuk usaha batik. Di sini menghasilkan batik tulis dan batik cap. Bukan hanya melatih membatik, ada pembekalan dalam perdagangannya. Dari hasil proses marketing, pengrajin Batik Mendalan yang diketuai oleh Ibu Fitria ini berhasil menjual banyak batik, di antaranya mendapatkan pemesanan batik dari sekolah-sekolah. Dengan mengambil daun sirih sebagai ciri khas motif dari Komunitas Batik Bina Lestari binaan Aqua Keboncandi ini, para perempuan dusun ini mengembangkan pengetahuannya kepada warga yang lain. Bu Fitria menuturkan bahwa dengan membatik, para perempuan bisa bekerja di rumah tanpa mesti meninggalkan anak.

Menanam Pohon di Bukit Cinta

Berada di Bromo untuk jalan-jalan, itu mah biasa. Tetapi, menanam pohon di kemiringan bukit, itu menjadi hal pertama dan luar biasa yang saya lakukan di Bromo. Bromo yang dikelilingi bukit ini ternyata sudah menggundul perbukitannya. Kerusakan hutan ini memang sangat memprihatinkan dan kita sendiri sudah merasakan efeknya dari kerusakan alam. Yups, seperti banjir bandang dan perubahan iklim yang tidak menentu.

Oleh karena itu, kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang dapat melakukannya. Di Bukit Cinta, penanaman pohon Aqua Lestari bersama para blogger dilakukan. Bersama mitra Aqua Lestari Keboncandi, menanam pohon di kemiringan bukit yang tinggi. Serem sih, tapi seru… Seperti adu nyali bagi yang takut ketinggian, alhamdulillah saya bisa masukin pohon ke lubang yang sudah ditandain dengan nama sendiri. Saya sendiri menanam pohon Tanjung Tujuh. Untuk penanaman pohon ini, lebih ditekankan pohon yang sesuai dengan habitat asli jenis pohon di daerah sini.

Bank Sampah untuk Pendidikan Usia Dini

Menanamkan kecintaan pada lingkungan dapat dilakukan sejak usia dini. Menarik bila menyimak yang dituturkan oleh Wiwin Ainun Mufarrokhah Spd. sebagai kepala sekolah TK Al Hidayah, Kepala sekolah. Edukasi lingkungan dengan Scalling ini sudah dilakukan sejak Bulan September 2015. Model Scalling (Sekolah Cerdas Lingkungan) akan diresmikan menjadi kurikulum sekolah. Demikian kata Apri, Direktur ISI (Investasi Sosial Indonesia). Scalling ini sudah diterapkan pada 10 Paud di Karangjati. Direfiliaksi ke kabupaten dalam kurikulum paud berbasis lingkungan.

Edukasi PAUD berbasis bank sampah ini dapat melatih anak untuk senantiasa menjaga kebersihan. Saya pun turut praktek dalam pengumpulan sampah yang dicatat oleh adik-adik PAUD. Ada 3 meja yang disediakan. Meja pertama untuk registrasi, meja kedua untuk penimbangan, dan meja ketiga untuk pemilahan jenis sampah. Sampah-sampah ini pun sebagian dikaryakan sendiri oleh para wali murid dan warga yang berminat pada kerajinan dengan tas atau cendera mata.

Pendidikan kesadaran lingkungan ini sangat menarik, karena seringkali terabaikan dalam penerapan disiplin dan menjaga lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya.

Biopori dan Sumur Resapan

Dalam menjaga lingkungan, bisa kita mulai dengan di lingkungan kita sendiri, yaitu rumah. Untuk mencegah banjir, biopori ini sangat bermanfaat sebagai lubang serapan air. Begitu pula dengan sumur serapan, sebagai tempat penampungan air di lingkungan sekitar.

Dusun Ledhug menjadi salah satu contoh pengembangan biopori dan sumur resapan. Di dusun ini hampir setiap rumah memiliki sumur resapan. Kami pun berkesempatan untuk membuat biopori, sehingga bisa mempraktekkannya langsung di rumah.

Dengan diprakarsai oleh Aqua, Dusun Ledhug menargetkan 1 rumah, 1 sumur resapan dan penerapan biopori. Saya sendiri melihat bahwa dusun yang asri ini berada pada dusun yang peduli lingkungan. Hal tersebut tidak lepas dari peran dan kerjasama aparat desa sebagai pengambil kebijakan dan keputusan, serta masyarakat yang melaksanakannya. Adapun perusahaan membantu terwujudnya pelaksanaan tersebut.

Pada tahapan menjaga lingkungan, Aqua Keboncandi memiliki Taman Kalbu (Kelestarian Air, Lingkungan dan Bumi). Di seputar Pabrik Aqua Keboncandi ada sungai Kalimoyo, sungai ini bersih dari sampah. Adapun pinggiran yang menjadi perbatasan pabrik, dibuat kalikatur kreatif tentang lingkungan, belum lagi dengan aneka tanaman. Bagi yang suka selfie atau welfie, tempatnya bisa instagramable, hehehehe…

CSR

Berkenaan dengan CSR, ada banyak pendapat para ahli tentang CSR, salah satunya Nurayana (2005) yang menyebutkan bahwa CSR adalah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis dan interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.

Pemerintah sendiri telah mengatur dalam pelaksanaan CSR, yaitu pada Peraturan Menteri  Negara BUMN No: Per-05/MBU/2007, menerangkan mengenai aturan  Program  Kemitraan  (PK), sebagaimana    dalam  Pasal  1  ayat  6 membahas  mengenai  bantuan  terhadap peningkatan  usaha  kecil,  dan  Program Bina Lingkungan  (BL)  diatur  dalam Pasal 1  ayat 7,  dimana  ruang  lingkup  BL diatur  dalam Pasal  11  ayat  (2)  huruf  e, meliputi  bantuan terhadap  korban bencana  alam,  pendidikan atau pelatihan, peningkatan  kesehatan, pengembangan sarana  dan  prasarana  umum, bantuan sarana  ibadah,  dan  bantuan pelestarian alam.

Kemudian, Undang-undang  No.40  Tahun 2007.  Dalam  pasal  74 ayat 1 diatur mengenai kewajiban Tanggungjawab sosial  dan  lingkungan   yang  menangani bidang atau berkaitan  dengan  SDA,  ayat 2 mengenai  perhitungan  biaya  dan  asas kepatutan  serta  kewajaran,  ayat  3 mengenai sanksi, dan ayat 4 mengenai aturan lanjutan.

Selanjutnya, Undang-Undang  No.25 Tahun 2007  tentang  Penanaman  Modal. Pasal 15 (b)  menyebutkan  bahwa  “Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan  tanggung  jawab  sosial perusahaan”.

Demikianlah, Aqua menjalankan CSR secara berkesinambungan dan berkelanjutan sesuai dengan peraturan dan undang-undang di atas. Ada banyak kerjasama dan kemitraaan yang telah dilakukan oleh Aqua dalam menjalankan tanggungjawab sosial perusahaannya, seperti dengan ISI, Organisasi Satu Daun, dan Badan Lingkungan Hidup dalam melestarikan lingkungan dan hutan.

Keberlangsungan suatu perusahaan, tidak lepas dari keberlangsungan interaksi komunikasi dengan lingkungan sekitar, baik masyarakat maupun alamnya. Begitu pula dengan PT. Danone Indonesia, perusahaan multinasional yang menjalankan tugas tanggungjawab sosial perusahaannya. 🙂

Advertisements