Apakah teman-teman masih ada yang suka makan gorengan? Kalau saya sih iya, masih suka makan gorengan. Hampir tiap hari malah makan makanan yang bergoreng. Tak dapat dihindari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari tidak lepas dari minyak goreng. Adapun jenis minyak goreng yang sekarang kita ketahui banyak yang berbahan baku kelapa sawit. Maka, dibutuhkan ISPO kelapa sawit, sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan.

Kelapa sawit adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Minyak sawit menjadi salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia. Minyak yang murah, mudah diproduksi dan sangat stabil digunakan untuk berbagai variasi makanan, kosmetik, produk kebersihan dan bisa juga digunakan sebagai sumber biofuel atau biodiesel. 


Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit. Pohon kelapa sawit membutuhkan  suhu hangat, sinar matahari dan curah hujan tinggi  untuk memaksimalkan hasilnya.  Berdasarkan data Index Mundi, ekspektasi produksi minyak kelapa sawit tahun 2014, Indonesia pada urutan pertama.

Bisnis minyak sawit di Indonesia menguntungkan karena 1) margin laba yang besar, sementara komoditi mudah diproduksi. 2) permintaan internasional yang besar dan terus berkembang seiring kenaikan jumlah penduduk global.

Pada tahun 2011, Indonesia mendirikan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing global dari minyak sawit Indonesia dan mengaturnya dalam aturan-aturan ramah lingkungan yang lebih ketat. Semua produsen minyak sawit di Indonesia didorong untuk mendapatkan sertifikasi ISPO.
Pemerintah Indonesia juga menargetkan untuk meningkatkan perkembangan kelapa sawit di industri hilir. Selama ini Indonesia berfokus pada ekspor minyak sawit mentah, tetapi telah mengubah prioritasnya untuk mengolah produk-produk kelapa sawit agar memiliki nilai jual yang tinggi. 

Ide pemerintah yang perlu diapresiasi untuk kemajuan perkebunan industri kelapa sawit. Karena bagaimana pun, Indonesia masih terlalu bergantung pada CPO dibandingkan produk-produk minyak sawit olahan.

Beberapa hari lalu di group WA bersliweran berita bahwa secara resmi Parlemen Uni Eropa menghentikan penggunaan CPO, karena dianggap tidak ramah lingkungan dan menjadi penyebab utama deforestasi atau kerusakan hutan. 
Hal ini tentunya menjadi titik acuan kita untuk lebih meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pengelolaan kelapa sawit. Pada pengembangan industri perkebunan kelapa sawit, pemerintah mendorong pengembangan industri kelapa sawit dan berkomitmen untuk melestarikan lingkungan hidup.

Pemerintah Indonesia dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 11 tahun 2015 telah menetapkan ISPO. Bagi perusahaan. Perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan, pengelolaan hasil perkebunan kelapa sawit harus mengajukan sertifikat ISPO, paling lambat 2 tahun setelah surat izin keluar. 

Untuk itu, ISPO sebagai bukti keseriusan pemerintah Indonesia dalam memerhatikan lingkungan dan mendorong kemajuan industri perkebunan kelapa sawit untuk lebih baik.

Rabu, 12 April 2017, telah digelar konferensi internasional pertama ISPO. Bertempat di JCC Jakarta, konferensi internasional digelar sekaligus pemberian sertifikat ISPO pada 40 perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dari angka tersebut, 38 perusahaan dan 2 kelompok perkebunan milik petani yang terdiri dari petani plasma dan mandiri. 

Konferensi Internasional ini disertai dengan pameran industri perkebunan sawit dan pendukungnya, mulai dari penelitian,pembibitan, pemupukan, penyiraman dan yang lainnya. Bapak Bambang, Dirjen Perkebunan Kementrian Pertanian memaparkan, bahwa dengan adanya ISPO sebagai pembuktian kepada pasar dunia bahwa produksi kelapa sawit Indonesia telah menerapkan sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan dan menjadi pembuktian bahwa segala tuduhan yang dilontarkan oleh NGO tidaklah benar. 

Menyimak dari data mediaperkebunan, bila dikalkulasikan, sudah 266 perkebunan kelapa sawit yang sudah menerima sertifikat ISPO. Maka, terasa berlebihan bila Uni Eropa menghentikan CPO kelapa sawit dengan alasan lingkungan. Sesungguhnya, tak ada yang ingin menghancurkan lingkungan dan tanah airnya sendiri. Pemerintah Indonesia senantiasa melindungi dan merawat tanah air dengan ketat dan berkomitmen kuat yang tertera pada UUD 45. Namun demikian, keputusan Uni Eropa menjadi pemicu bagi industri perkebunan Indonesia untuk lebih baik dan maju lagi. Semangaaaat 🙂

Advertisements