Sesungguhnya setiap permasalahan, bukan berasal dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Pikiran yang membawa pada suasana berbeda dengan hal-hal yang sudah tertera, maka hal tersebut seakan menjada durjana pada jiwa yang menuju pada perjalanan yang bertuan.

Sungguh berat ketila rasa itu hanya sebuah pikiran yang bolak balik dengan segala aktivitas yang menjadi acuan. Di sana ada berbagai hal yang menjadi teman rasa tak bertuan.

Aku berada pada padu, ketika menatap cermin melihat bayang-bayang orang lain yang telah merampas kesenanganku. Benarkah itu aku? Bukankah itu hanya terselubung waktu dan deru…

Ah, tahukah kamu itu assa’ah? Suatu paduan antara realitas, kehendak dan ketetapan. 

Jika aku menyeru, betapa pikiranku melayang tentang keadilan, kerjasama dan kebijaksanaan?

Sedangkan aku menatap cermin bahwa itu fatamorgana?

Benarkah itu?

Tidak, setarik nafs dalam hirup dan hembus menjadi dua hal yang menuntut pada suatu keadaan yang menjadi cerminan bahwa jiwa itu masih mencari jalan pulang. 

Seumpama larung, maka menghirup nafs penuh sesak dengan barisan gambar yang menari dengan tatapan penuh penghinaan. Itukah kamu? Bukan… Aku kembali bertemu dengan ragam rasa, tapi tak ingin aku bercongkol dalam gundah yang menjadi pembenaran bahwa aku dalam kebenaran tanpa tau apa yang menjadi al haq dalam genggaman.

Lihat rembulan dan matahari, hadir dengan pergiliran yang menjadi saksi perjalanan, bukti adanya makhluk dan khalik.

Lihat, raga yang mengecil dan mengembang sebagai perjalanan adanya keberadaan bahwa hidup berada pada perpaduan hal tersebut. Jangan pernah menjadi hal yang menjadi beban ada, ketika keberadaan itu memang tiada.

Apa yang dikehendaki raga dan jiwa? Sesungguhnya hal itu berada pada satu titik rasa. Yups, rasa yang tenggelam tanpa disadari, dan mengetahuinya bahwa itu berada pada rasa iri. 

Berlari-lari kian kemari mencari pembenar akan keprihatinan diri, lalu muncul sejuta emosi dengan gundah gulana tak bertepi, itu berada pada rangkaian yang tak dimengerti tapi hadir dalam diri. 

Menelusuri jejak itu dan menemukannya bukan untuk penghakiman rasa, maka serahkan pada Yang Maha Kuasa. Tuhan Maha Kasih Sayang dan Penerima Segala Taubat.

Iri, itu duri dalam setiap perjalanan laku diri, seakan penentu arah dari langkah pembelok dari niat suci yang telah ditetapkan.

Ibarat jalan bercabang setelah start dengan keikhlasan, menemukan cabang yang mirip dan bersinggungan, tetapi arahnya sudah berbeda tujuan.

Ah, itulah rasa, pengelana pada jiwa-jiwa yang bertuan. Menemukan hal yang memang sudah ada pada dinding yang menjadi jalan tak bertepi dengan suatu keadaan yang berbeda. 

Sendainya semua menjadi hal yang sama dan tak lekang, maka lihat itu dalam berdurinya waktu di tepi dua titian. Allahu arrahmaanirrahim. Jaga diri dengan segala rasa, dan ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun, dan Penuh Kasih Sayang. 

Advertisements