Seminggu sudah berlalu dari keriaan menyambut tahun baru. Kini, kita sedang melangkah di tahun 2017. Jejak langkah masa lalu, menjadi cerminan untuk menapaki langkah-langkah tahun ini. Ketika kita menjalankan kehidupan, untuk penetapan setiap langkah tidak lepas dari niat. Niat ini menjadi dasar dalam perjalanan, apakah melangkah karena Allah atau bukan. Dalam menjalankan kehidupan, kita sendiri yang tahu akan niat yang hadirkan. Mengawali tahun baru 2017 ini, belum telat rasanya untuk refleksi awal tahun; sudahkah niat karena Allah?

Ketika memulai aktivitas, maka menjadi perenungan saat berjalan, apakah sudah niat karena Allah? Yups, jejak yang menjadi tahapan-tahapan dalam menelusuri langkah, mengawali dengan bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Suatu langkah awal yang sering terlupakan, padahal sudah jelas bahwa bismillahirrahmanirrahim menjadi pengukuhan niat dalam menjalankan aktivitas karena Allah.

Dalam cerminan aktivitas, Rasulullah dalam sabdanya telah memaparkan kisah para musafir yang menjejak langkah dalam amalan sebagai mencari ridha Allah.

embun

Ada tiga orang musafir yang sedang melakukan perjalanan. Ketiganya berteduh pada sebuah gua untuk melepas lelah. Namun, tiba-tiba ada batu besar dari atas bukit yang jatuh menggelinding dan menutupi pintu gua, sehingga mereka tak dapat keluar.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari bahaya ini kecuali jika kalian berdoa kepada Allah Swt dengan menyebutkan amal-amal saleh yang pernah kalian perbuat.”

Salah seorang dari mereka pun berdoa, “Ya Allah, aku mempunyai orangtua yang sudah renta, kebiasaanku, mendahulukan mereka minum susu sebelum aku berikan kepada anak isteri dan budakku. Suatu hari, aku pergi mencari kayu bakar, dan pulang terlambat sampai keduanya tertidur. Maka aku pun memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Aku pun enggan untuk membangunkannya. Dan meskipun demikian, aku tidak memberikan susu tersebut kepada keluargaku atau budakku sebelum keduanya minum. Aku menunggu keduanya terbangun hingga terbit fajar sedangkan anak-anakku menangis terisak-isak meminta susu sambil memegangi kakiku. Ketika keduanya bangun, kuberikan susu itu untuk diminum. Ya Allah, jika aku berbuat itu karena mengharap ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.”

Bergeserlah batu itu sedikit, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.
Orang kedua pun melanjutkan doanya, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai saudara sepupu yang aku cintai. Aku sangat mencintainya sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, aku selalu ingin tidur dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Beberapa tahun kemudian, ia tertimpa kesulitan. Ia pun datang untuk meminta bantuanku, dan aku berikan kepadanya seratus dua puluh dinar dengan syarat menyerahkan dirinya kapan saja aku menginginkan. Suatu hari aku memiliki kesempatan untuk tidur dengannya. Ketika aku akan melakukannya, sepupuku berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah. Janganlah kamu meniduriku kecuali dengan jalan yang benar.’ Mendengar demikian, aku meninggalkannya dan merelakan emas yang aku berikan, padahal dia adalah orang yang sangat aku cintai. Ya Allah, jika perbuatan itu karena mengharap ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.” Batu itu bergeser, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.

Orang yang ketiga melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah, aku mempekerjakan beberapa karyawan dan digaji dengan sempurna, kecuali ada seseorang yang meninggalkan aku tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu, kemudian gaji itu aku kembangkan sehingga menjadi banyak, selang beberapa tahun dia datang dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah gajiku!’ Aku berkata, ‘Semua yang kamu lihat, baik unta, sapi, kambing maupun budak yang menggembalanya semuanya gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan aku.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mempermainkanmu.’ Kemudian dia pun mengambil semuanya itu dan tidak meninggalkan sedikit pun. Ya Allah jika perbuatan itu mengharap ridha-Mu, maka singkirkanlah batu yang menutupi gua ini.” Batu tersebut bergeser, dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua. (HR.Bukhari dan Muslim)

Demikianlah, kisah tersebut telah mengajarkan untuk senantiasa menjalankan sesuatu dengan niat karena Allah dan rida-Nya.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal harus disertai dengan niat. Karena setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya(dari Mekah ke Madinah) karena Allah dan Rasul-Nya(melakukan hijrah demi mengagungkan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya), maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya(diterima dan diridhai Allah). Barangsiapa yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang diharapkannya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh Allah).” (HR.Bukhari dan Muslim)

Melangkah di tahun baru dengan segala harapan dan resolusi tahun 2017 ini, terutama dalam meniatkan untuk menikah karena Allah, maka mari kita niatkan karena Allah dan rida-Nya. Karena bagaimana pun, tak ada tempat untuk berpaling dari-Nya. Setiap niat yang hadir, Allah Maha Mengetahuinya.

Allah Swt berfirman, “Katakanlah, apabila kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu, atau kamu menampakannya, pastilah Allah mengetahuinya.” (Ali Imran[3]: 29)

Semoga ini menjadi refleksi awal tahun; sudahkah niat karena Allah? Lalu melangkah dengan senantiasa bergerak dan diam karena Allah. Bismillahirrahmanirrahim.

Wallahu’alam

Advertisements