Tags

, ,

Seringkali ketika membeli kopi, kita memburu kopi yang menjadi ciri khas pada daerah tersebut dengan kualitas yang terbaik, seperti Kopi Toraja atau Lampung. Saya sendiri memilih kopi tersebut karena kualitas rasa yang didapatkan memiliki khas atau keunikan dalam cita rasa yang saya nikmati. Pemilihan rempah berdasarkan geografis ini ternyata sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam indikasi geografis untuk melindungi rempah Indonesia.

rps20161227_165047.jpg

Bukan hanya kopi, jenis rempah lainnya juga ditetapkan berdasarkan indikasi geografis untuk melindungi rempah tersebut, baik dari pengklaiman maupun dalam bisnis rempah sendiri. Jujur, saya juga baru tahu tentang indikasi geografis ini kemaren, Selasa, 20 Desember 2016, sewaktu mengikuti seminar rempah sekaligus pelantikan pengurus Dewan Rempah Indonesia. Saya pun penasaran dan mencari tahu tentang indikasi geografis. Lalu, apa itu indikasi geografis? Dan apa hubungannya dengan rempah Indonesia beserta kesejahteraan petani?

Indikasi Geografis

Sebagai orang awam, saya pun mencari tahu tentang indikasi geografis. Dalam penelusuran saya, maka saya menemukannya bahwa indikasi geografis sebagai sertifikasi yang dilindungi oleh undang-undang untuk produk tertentu yang sesuai dengan lokasi geografis asal atau daerah tertentu. Lingkungan geografis ini memberikan khas atau ciri kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan, karena lingkungan geografis tadi bisa berupa faktor alam, manusia atau kombinasi keduanya.

rps20161227_165223.jpg

Pendaftaran produk indikasi geografis akan memberikan nilai tambah dan daya saing serta keuntungan kepada para stakeholders yang terlibat seperti petani dan eksportir. Terdapat peraturan pemerintah No. 51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis mengenai prosedur pendaftaran. Dengan diberlakukannya PP. 51 Tahun 2007 pada tanggal 4 September 2007 sebagai aturan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 yang mengatur perlindungan Indikasi-Geografis, maka hal tersebut telah membuka jalan untuk bisa didaftarkannya produk-produk Indikasi Geografis di tanah air. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2007 memuat ketentuan-ketentuan mengenai tatacara pendaftaran Indikasi Geografis. Untuk tatacaraa bisa dilihat di sini.

Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya indikasi geografis, sebagai upaya menyejahterakan petani dan membangun branding produk dan harga.

Dari sisi konsumen, dengan adanya sertifikat produk indikasi geografis yang ditempelkan pada kemasan produk yang bersangkutan, berarti produk tersebut adalah asli. Artinya, konsumen akan terhindar dari barang palsu jika pada kemasan produk itu terdapat label produk indikasi geografis, karena bagi yang melanggar akan mendapatkan sanksi atau hukuman sesuai dengan Undang-undang.

Rempah Indonesia

Tiada yang tidak tahu kalau kedatangan Portugis, Inggris dan Belanda ke Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah yang melimpah dan berkualitas. Hampir setiap wilayah Nusantara memiliki keunikan dan keistimewaan rempah yang menjadi ciri khas dari kualitas rempah tersebut. Seperti Pulau Banda, salah satu wilayah yang diperebutkan karena memiliki kuliatas rempah pala yang terbaik.

Indonesia memiliki kualitas rempah yang terbaik sejak dulu. Para pedagang asing, seperti Portugis, Inggris dan Belanda berebut berburu rempah ke Nusantara. Kehadiran mereka yang bermula mencari rempah, kemudian merambah ingin mendapatkan rempah tanpa transaksi, sehingga mereka pun menguasai wilayahnya. Tak ayal lagi, ketamakan itu pun menjadikan mereka mengklaim wilayah rempah Nusantara menjadi kekuasaannya. Rakyat Nusantara yang menjadi pemilik tanah pun banyak yang terusir dan tersingkarkan, bahkan banyak yang meninggal. Kualitas rempah yang ada, ternyata belum bisa menyejahterakan para petaninya, bahkan menjadi terjajah oleh bangsa asing. Bagaimana dengan kini dan masa depan? Untuk itu, seyogyanya kita mengetahui rempah Nusantara dulu, kini, dan yang akan datang.

Tak kenal, maka tak sayang. Rempah-rempah yang menjadi komoditas kita sehari-hari ternyata tak lekang oleh kualitasnya rempah dan kondisi petaninya masa lalu, namun sayang banyak yang belum mengetahuinya, termasuk saya. Jadi malu sendiri hehehe… Ibarat sinyal, ini pertanda saya harus banyak baca dan belajar tentang rempah Nusantara dulu, kini dan yang akan datang.

Dengan Rempah, Menikmati Makanan dan Kosmetik

Beruntungnya, Selasa, 20 Desember 2016, saya mendapat kesempatan mengikuti seminar sehari yang bertema Rempah Masa Dulu, Masa Kini dan Masa Depan, yang sekaligus juga dengan pelantikan pengurus Dewan Rempah Indonesia, periode 2016-2020.

Hadir sebaga narasumber Ibu Mooryati Soedibyo, founder Mustika Ratu Group memaparkan kosmetik dari rempah sebagai sumber alam hayati dan SPA yang berbasis kearifan lokal. Pemanfaatan rempah-rempah Nusantara untuk kosmetik sangat penting.

rps20161227_165828_562.jpg

Dalam paparannya, Ibu Mooryati menekankan bahwa jamu dan kosmetika Indonesia berasal dari rempah Indonesia yang tumbuh subur, bisa diambil pada akar, kulit pohon, biji-bijian dan buah-buahan.

Untuk perawatan kulit tubuh, Ibu Mooryati mendirikan Taman Sari Heritage SPA. Dalam perawatannya tidak lepas dari berbagai tumbuhan yang disarikan dalam bentuk minyak, di antaranya:

  • Minyak kenanga, untuk kesegaran tubuh dan melembutkan kulit.
  • Minyak akar wangi, untuk mengendorkan saraf dan otak serta menghilangkan pegal-pegal pada kaki dan lutut.
  • Minyak pala, untuk menghangatkan badan dan menenangkan saraf.
  • Minyak nilam, untuk meningkatkan gairah, aprodisiap.
  • Minyak zaitun, untuk mengurangi ketegangan pikiran dan relaxing, serta menghaluskan kulit.
  • Minyak sereh, untuk melancarkan haid, memperlancar keringat, menolak masuk angin, lambung, rematik dan sakit kepala.

Pemaparan yang sangat menarik. Ternyata, tumbuhan yang selama ini kita kenal, seperti sereh, memiliki banyak khasiat untuk tubuh. Tidak berlebihan bila pihak asing datang dan mengincar rempah Nusantara.

Lebih lanjut lagi, Shanti Serad, seorang bisnis makanan memaparkan tentang keunggulan dan keistimewaan rempah Indonesia dalam makanan. Indonesia kaya akan tradisi makanan dan jenisnya, dengan bumbu rempah sesuai dengan tumbuhan yang terdapat pada wilayah tersebut.

Untuk memperkenalkan makanan Nusantara ke luar negeri, tak jarang Shanti kesulitan dalam menemukan rempah yang sesuai dengan cita rasa yang di Nusantara. Oleh karena itu, seringkali ketika mengikuti suatu pameran atau festival, Shanti membawa bumbu rempah sendiri ke luar negeri.

Yups, ciri khas dari rasa rempah Nusantara sendiri yang membawa keunikan ada kuliner Indonesia. Maka, ketika menggantikan bumbu rempahnya dengan yang di luar negeri, akan terasa beda rasanya.

Dalam keunikan dan kekhasan rempah Indonesia, tidak lepas dari wilayahnya. Ir. Riyaldi memaparkan pentingnya sertifikasi indikasi geografis rempah untuk meningkatkan mutu dan kualitas harganya.

Menarik menyimak pembahasan para narasumber di atas, sehingga saya pun mencari tahu lewat berbagai artikel tentang indikasi geografis rempah Indonesia.

Dewan Rempah Indonesia

Selain paparan seminar tentang Rempah Indonesia Masa Dulu, Masa Kini dan Masa Depan, saya pun menyaksikan pelantikan kepengurusan Dewan Rempah Indonesia, yang menjadi ketuanya Ir. Gamal Nasir.

rps20161227_165603_931.jpg

Dewan Rempah Indonesia dideklarasikan pada tahun 2007 dengan dipimpin oleh Adi Sasono sebagai pendiri sekaligus ketua. Selama dua periode, beliau memimpin Dewan Rempah Indonesia. Selanjutnya digantikan oleh Ir. Gamal Nasir dengan masa kepemimpinan tahun 2016-2020.

Selasa, 20 Desember 2016, kepengurusan Dewan Rempah Indonesia dilantik, dengan dihadiri oleh Direktur Jenderal Perkebunan, Ir. Bambang. Pada sambutannya, Pak Bambang membacakan pesan dari Mentri Pertanian, bahwa rempah Indonesia telah menjadi komoditas strategis yang bisa menyejahterakan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa rempah Indonesia telah mendunia.

rps20161227_165753_543.jpg

Sangat menarik ketika Dirjen Perkebunan kembali memaparkan bahwa kejayaan rempah masa lalu kita kejar dan raih kembali dengan perbaikan pada pembibitan, pemasaran, dan peningkatan konsumsi dalam negeri. Untuk itu, pada tahun 2017, pemerintah telah menyediakan dana sebesar Rp.400 miliar.

Dewan Rempah Indonesia pun menegaskan bahwa harus ada pembenahan pada semua sektor terkait pengembangan rempah di Indonesia. Demikian kata Gamal Nasir, ketua Dewan Rempah Indonesia. Dewan Rempah Indonesia akan membangkitkan rempah-rempah Indonesia.

rps20161227_165702_983.jpg

Dalam hal ini, saya melihat bahwa Dewan Rempah Indonesia berkomitmen untuk memajukan rempah Indonesia dan turut membantu dalam menyejahterakan para petani Indonesia. Hal yang sesungguhnya menjadi tumpuan bagi kami semua dalam menyejahterkan para petani Indonesia, terutama dengan adanya indikasi geografis untuk melindungi rampah Indonesia. Semoga dapat terwujud. Amin

Referensi:

Advertisements