Tags

, , ,

Tak dapat dipungkiri, di era digital sekarang ini anak-anak sudah terbiasa dengan memegang gadget. Kebiasaan ini seringkali membuat kelabakan para orangtua dan orang dewasa karena khawatir akan pola hidup anak. Padahal, anak-anak sekarang memang berada pada masa digital, sudah saatnya anak-anak diarahkan dan dibimbing dalam pemanfaatan IT dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, Code@BCA kupas kidtech; ketika anak belajar coding, dari hobi anak dalam bermain game diarahkan menjadi yang membuat game.

Anak-anak bisa main coding, programing dan buat game sendiri, kok bisa? Penasaran bukan? 🙂

rps20161207_155344_877.jpg

KidTech; Ketika Anak Belajar Coding

Saya pun penasaran ingin tahu lebih dalam mengenai anak-anak yang main koding dan bisa buat game sendiri. Prestasi anak dalam bermain koding dan menghasilkan karya, tidak lepas dari peran orangtua dan orang dewasa yang mengarahkan dan membimbing anak. Rabu, 30 November 2016, saya berkesempatan untuk menyimak talkshow Code@BCA yang mengupas Kidtech.

Bertempat di Menara BCA, Jakarta, hadir para narasumber praktisi startup yang bersegmentasi pada pengembangan pendidikan teknologi anak, yaitu Aranggi Soemardjan selaku Founder Clevio, Kurie Suditomo selaku Co-founder Coding Indonesia dan Wisnu Sanjaya selaku CEO Cody’s App Academy.

rps20161207_155214_613.jpg

Dengan dipandu oleh moderator  Wicaksono Hidayat, para narasumber ini memaparkan motivasi dan proses pengembangan startup bagi anak-anak.

Aranggi Seomardjan selaku Founder Clevio memaparkan bahwa yang melatarbelakangi adanya Clevio terinspirasi oleh anaknya yang memiliki hobi game dan penyendiri. Sebagai yang berpendidikan IT, berpadu dengan istrinya yang psikolog, maka Clevio hadir untuk mengembangkan potensi dan hobi anak dalam bermain game atau gadget.

Saya pun penasaran dengan Clevio, maka menemukan pada websitenya bahwa Clevio hadir pada bidang pendidikan melalui kursus-kursus IT yang memberdayakan masyarakat untuk meraih banyak manfaat dari teknologi. Bukan hanya cerdik berteknologi, tetapi menikmati interaksi dengan teknologi.

Adapun Kurie Suditomo selaku Co-founder Coding Indonesia memaparkan bahwa coding adalah kegiatan menulis dan membaca kode untuk dipahami komputer. Dengan coding, dapat mengasah daya pikir komputasi secara logis dan matematis yang berguna bagi kemampuan bernalar.

Dengan kata lain, bahwa coding ibarat calistung atau membaca, menulis dan menghitung, maka belajar coding di era digital sekarang ini sudah menjadi mata pelajaran bagi anak.

Bermula dengan kebiasaan atau hobi anak dalam bermain game, maka bisa diarahkan dan dibimbing menjadi pembuat game. Asik bukan? 🙂

Yups, sekarang ini anak-anak sudah terbiasa bermain gadget. Bahkan, ada balita yang sudah tidak bisa lepas dari handphone. Biasanya berawal hanya untuk sekedar mengalihkan perhatian anak dari menangis, tetapi kelamaan menjadi kebiasaan.  Tentu, sebagai orangtua atau orang dewasa melihat perkembangan anak yang terlalu asik dengan gadget sangat mengkhawatirkan. Namun, bila mendengar pemaparan Kurie Suditomo, bahwa ketika anak sudah asik main game, maka arahkan atau manfaatkan kemahiran anak bermain games dengan belajar coding sehingga bisa membuat game dan aplikasi.

Seakan menguatkan paparan Kurie Suditomo dari Coding Indonesia, Wisnu Sanjaya selaku CEO Cody’s App Academy pun menjelaskan bahwa dia dulunya seorang gamer, kemudian menjadi pembuat game dan mendirikan Cody’s App Academy. Tidak heran ketika saya menelisik websitenya, startup ini memiliki tagline “We make learning to code fun and easy.”

Hal menarik yang dituturkan oleh Wisnu Sanjaya, bahwa ketika anak sudah hobi main game, maka berikan saja seperangkat game pada PC, seperti game tendo dan lain-lain. Tetapi, jangan coba-coba memberi smartphone untuk bermain game online pada anak, karena game online itu seperti hutan rimba. Oleh karena itu, orangtua lebih baik memberi perangkat game yang agak mahalan tetapi terdeteksi isi gamesnya daripada game online yang seperti hutan rimba yang tidak diketahui alurnya.

Code@BCA

Bank Central Asia (BCA) melalui program CSR yang bernama Bakti BCA memberikan dukungan kepada para start up muda yang kreatif melakukan inovasi dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi di Indonesia.

rps20161207_145338_881.jpg

Talkshow yang mengusung konsep Code@BCA sebagai sarana dalam berdiskusi antara praktisi coding, teknopreneur dan khalayak muda dalam turut mengedukasi generasi muda akan pentingnya pendidikan IT.

Pada sambutannya, Inge Setiawati selaku General Manager Corporate Social Responsibility (CSR) BCA menuturkan bahwa BCA melalui Bakti BCA mempertemukan para wirausaha pemula (start up) dengan pakar wirausaha yang sedang sukses membangun dan mengelola bisnis yang berbasis teknologi.

Lebih lanjut lagi, Inge memaparkan bahwa di tengah era digital, generasi muda diharapkan dapat memanfaatkan berbagai peluang sebagai jembatan untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Code@BCA ini hadir atas kerjasama Bakti BCA, CodeMargonda dan TeknoJurnal. Acara ini disambut baik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi, sebagai media edukasi teknologi pada masyarakat.

Sonny Sudaryana selaku perwakilan dari Kementrian Komunikasi dan informasi menuturkan bahwa sekarang ini, pemerintah dan steakholder sadar bahwa di era sekarang harus mulai berfokus pada digital, terutama dalam persaingan bisnis dengan industri asing.  Pemerintah sendiri sudah menargetkan bahwa tahun 2019 seluruh kabupaten dan kota terkoneksi dengan internet pada program Palapa Ring.

palapa-ring

Teknologi sebagai penguat ekonomi akan menjadi fokus dalam perekonomian masa depan, oleh karena itu sangatlah penting adanya pendidikan teknologi sejak dini.

Kidtech

Dari talkshow tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan mengenai pentingnya belajar IT sejak dini, di antaranya:

  • Mempertajam logika. Ketika coding seperti calistung, maka dalam penerapannya seperti belajar logika dengan pengaplikasian matematika pada komputer.
  • Mengasah kreativitas. Anak dapat mengembangkan kreativitas games berdasarkan gambar dan cerita yang dibuatnya sendiri.
  • Melatih kesabaran. Anak dapat dengan sabar dan teliti mengupas satu per satu visual pada code-code programming secara sistematis.
  • Mengolah problem solving. Anak dapat mengolah permasalahan yang dihadapi dengan penyelesaian yang terurai dan sistematis.
  • Memahami teknologi. Anak bukan lagi sekedar pemain games, tetapi telah menjadi pembuat games, sehingga memahami teknologi dalam pemanfaatannya dengan sebaik-baiknya.
  • Jago coding dan programming. Dengan pendidikan coding, para orangtua bangga karena anaknya tidak hanya menjadi consumer saja, tetapi juga sebagai creator atau producer.

Dengan Code@BCA kupas Kidtech; ketika anak belajar coding telah mengubah paradigma saya sebagai orang dewasa ataupun para orangtua tentang teknologi dan games, karena di masa teknologi sekarang ini yang dibutuhkan bukan hanya masa lalu dan masa kini, tetapi prediksi dunia masa depan.

Advertisements