Tags

, ,

Seringkali ketika makan, kita menumpuk makanan yang mengandung karbohidrat. Misalnya, kita memilih menu nasi, perkedel dan mie goreng. Padahal, kalau melihat pada komposisi kandungan makanannya, banyak mengandung karbohidrat. Adapun bila terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat tanpa seimbang, hal tersebut dapat berpotensi diabetes. Itu baru salah satu kebiasaan pola makan yang sering dilakukan, maka penting untuk melakukan cegah diabtes dengan gaya hidup CERDIK.

Kamis, 17 November 2016, Kementrian Kesehatan mengadakan talkshow sebagai rangkaian Hari Peringatan Diabetes Sedunia 2016. Bertempat di Gedung PPTM Kementrian Kesehatan RI, Jakarta, saya berkesempatan menyimak diskusi tentang cegah, obati dan lawan diabetes, langsung dari para pakarnya. Hadir sebagai narasumber, Dr. Lily S. Sulistyoowati selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementrian Kesehatan RI, Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto selaku Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia  (PERKENI) dan Prof. DR. dr. Agung Pranoto sebagai Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSEDIA).

Bagi saya, mengetahui informasi tentang diabetes sangat penting, karena Mama memiliki diabet. Seakan menjadi suatu kewajiban untuk mengetahui seluk beluk diabetes, sehingga dapat diinformasikan kembali pada keluarga sebagai anak, dan kepada khalayak sebagai blogger.

Apa itu Diabetes?

Secara berbauran, dari penjelasana ketiga narasumber, saya mendapatkan informasi bahwa diabetes adalah penyakit meetabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar glukosa darah atas nilai normal. Bisa dikatakan juga bahwa diabetes adalah suatu kelainan pada diri yang berkaitan dengan glukosa darah. Prof Agung paparkan bahwa peningkatan glukosa pada tubuh manusia ada banyak penyebab, di antaranya kurangnya insulin yang diproduksi oleh getah perut dan penerima insulin yang diproduksi oleh getah perut.

Bagi yang periksa gula sesudah makan dan minum, untuk glukosa darah sesaat itu terindikasi diabetes bila lebih dari 200. Pada dasarnya, penyebab diabetes itu insulin dan penerima insulin. Lebih jelasnya, diabetes terbagi pada dua tipe, yaitu tipe I dan tipe II.

  1. Diabetes tipe I disebabkan tubuh berhenti memproduksi insulin karena perusakan sel pankreas. Biasanya ditemukan pada anak-anak.
  2. Diabetes tipe II disebabkan pankreas menghasilkan jumlah insulin yang tidak memadai. Bentuknya lebih umum dari diabetes dengan 90% kasus. Biasanya terjadi pada orang dewasa, tetapi akhir-akhir ini ditemukan pada anak-anak.

Faktor-faktor Resiko yang Memicu Timbulnya Diabetes

Diabetes juga merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai, karena dapat mengurangi kualitas hidup, bahkan menyebabkan kematian. Adapun faktor-faktor resiko yang dapat memicu timbulnya diabetes, yaitu:

  1. Riwayat keluarga. Jika seseorang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan diabetes tipe II, maka peluangnya untuk mengidap diabates tipe II menjadi lebih besar.
  2. Usia. Resiko diabetes tipe II meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah berumur 40 tahun. Hal ini berhubungan dengan aktifitas yang menurun serta kehilangan massa otot dan berat badan.
  3. Ras. Orang-orang dari latar belakang ras tertentu ditemukan resiko lebih tinggi terhadap diabetes.
  4. Kegemukan dan obesitas. Peningkatan prevalensi diabetes. Semakin banyak jaringan lemak yang dimiliki seseorang, maka semakin besar pula resistensi sel terhadap insulin.
  5. Aktifitas fisik yang kurang memadai.
  6. Diet tidak sehat seperti mengonsumsi makanan dan minuman kaya kalori, lemak jenuh dan gula serta rendah serat.
  7. Memiliki tekanan darah tinggi atau tingkat lipid yang tinggi.
  8. Diabetes gestational, yaitu perempuan yang mengalami diabetes selama kehamilan memiliki resiko lebih tinggi terkena diabetes tipe II.

Eyes on Diabetes, Indonesia Lawan Diabetes

Berdasarkan data IDF, pada tahun 2015, ada sekitar 415 juta orang dewasa di dunia menderita diabetes dengan kebanyakan dari diabetes tipe II. Pada tahun 2040 diperkirakan akan terus bertambah hingga 642 juta atau sekitar 1 dari 10 orang dewasa mengidap diabetes.

Oleh karena itu, setiap tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Tahun ini mengangkat tema, Eyes on Diabetes, dengan tujuan untuk mepromosikan pentingnya upaya skrining untuk memastikan diagnosis awal dan inisiasi pengobatan diabetes tipe II. Semakin cepat kasus diabetes tipe II terdeteksi, maka pengobatan dapat segera dilakukan sehingga dapat menghindari berbagai komplikasi yang membahayakan serta biaya perawatan yang mahal.

Pelaksanaan skrining diabetes tipe II merupakan faktor penting dalam memodifikasi faktor resiko dan mengurangi resiko terjadinya komplikasi, kecacatan substansial, serta kematian dini.

Di Indonesia sendiri, IDF mencatat bahwa tahun 2015, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diestimasikan sebanyak 10 juta jiwa. Angka ini menempati peringkat ketujuh dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan Meksiko. Hal yang menjadi pertimbangan untuk kampanye Indonesia lawan diabetes dengan adanya data SRS (Sample Registration Survey) 2014 yang menunjukkan bahwa diabates merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan presentasi 6,7%, setelah stroke (21,15) dan penyakit jantung koroner (12,9%). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2010, dan 2013 menyebutkan prevelenasi orang dengan diabetes di Indonesia cenderung meningkat, yaitu 5,7% (2007) menjadi 6,9% (2013).

Berdasarkan paparan data di atas, maka saatnya Indonesia lawan diabetes, apalagi dengan ditemukannya kasus diabetes tipe II pada anak-anak. Maka, segera lakukan skrining tipe II dan  dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, laboratorium dan Posbindu PTM yang berada di bawah pengawasan Puskesmas.

Pengobatan Diabetes

Tanpa pengobatan dan pengendalian yang baik, maka enyakit ini akan menurunkan kualitas hidup. Apalgi bila disertai dengan komplikasi yang dapat menyiksa. Ada lima pilar untuk pengobatan diabetes, yaitu:

  1. Edukasi yang berkesinambungan.
  2. Pengaturan makan agar tidak berlebihan, seimbang dan tidak menimbulkan metabolisme lain.
  3. Aktivitas fisik atau gerak badan atau olahraga yang teratur.
  4. Obat-obatan oral dan kalau perlu suntukan insulin
  5. Pemeriksaan gula darah mandiri.
Cegah Diabetes dengan Gaya Hidup Cerdik

Tak disangka, ternyata gaya hidup kita sangat memengaruhi pada kesehatan tubuh. Untuk kasus diabetes, ternyata ada 70% kasus diabetes tipe II dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Ibu Lili mengenalkan gaya hidup CERDIK, yaitu:

  • C, Cek kesehatan secara berkala. Dalam hal ini melakukan tes glukosa darah dan kadar HbA1c secara teratur. Jujur aja, untuk cek kesehatan, saya paling semangat meski kadang galau juga khawatir terdeteksi ada penyakitnya. Padahal mah bagus ya, biar bisa pencegahan sekaligus pengobatan langsung secara dini.
  • E, Enyahkan asap rokok dengan menghindari penggunaan tembakau. Alhamdulillah tidak merokok.
  • R, Rajin aktivitas fisik, yaitu dengan melakukan latihan fisik secara teratur selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu. Saya paling suka jalan kaki, dan berkeinginan renang semingu sekali.
  • D, Diet sehat dan seimbang,yaitu dengan mengonsumsi 3-5 porsi buah an sayuran setiap hari, serta mengurangi asupan gula, garam, dan lemak jenuh. Bisa juga dengan pola makan, diet seimbang dg 50% buah dan sayur, 25% protein dan 25% karbohidrat.
    Makan buah-buahan masih jarang, kalau sayuran mah memang doyan.
  • K, Kelola stress.

Pola hidup sehat itu sangat baik, dan harus diterapkan sejak dini. Apalagi sekarang ini banyak ditemukan kasus anak-anak yang terkena diabet. Biasanya itu karena gaya hidup, seperti kurangnya gerak badan atau tidak ada aktivitas.

 

Selain untuk menjaga diri sendiri, juga menjaga keturunan kita selanjutnya. Setiap inti sel tubuh kita ada materi genetik, maka jika terdapat cacat genetik dapat memengaruhi pada penurunan diabetes. Oleh karena itu, yuk cegah diabetes dengan gaya hidup CERDIK.

 

Advertisements