Tags

,

Kita seringkali mendengar istilah CSR (Corporat Social Responsibility) atau  tanggungjawab sosial perusahaan. Bisnis bukan hanya sekedar menguntungkan pemilik perusahaan, tetapi terdapat suatu tanggung jawab sosial terhadap karyawan dan keluarganya, kemudian berkembang pada masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan. Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti liputan kegiatan CSR, suatu kegiatan yang menunjukkan interaksi perusahaan dengan masyarakat. Tak jarang mendapatkan informasi bentuk CSR dalam penyediaan perlengkapan sekolah dan rumah, seperti kursi, meja, dan lemari. Semua kebutuhan masyarakat tersebut dapat terbantukan dengan CSR. Nah, jadi penasaran kan bagaimana CSR, yuk mengenal CSR lebih dekat…

closet-426388_960_720

Dari beberapa liputan yang saya ikuti tentang CSR, banyak kegiatan yang menyajikan tentang lingkungan, pendidikan, dan sumbangan. Saya pernah mengikuti kegiatan CSR yang menyumbang lokal kelas sekolah besertaperlengkapan kelas, dari kursi, meja dan lemari buku. Dari sana, saya pun semakin tertarik dan penasaran akan peran CSR sendiri, maka saya pun menelusurinya.

Apa itu CSR?

Corporat Sosial Responsibility (CSR) merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. Ada banyak pendapat yang memaparkan mengenai CSR. Ada yang berpendapat bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berkisar dari pandangan yang luas akan tindakan sosial, di luar kepentingan perusahaan dan apa yang diperlukan oleh hukum (McWilliams dan Siegel, 2001). Ada juga yang mengharuskan CSR sebagai salah satu strategi manajemen (Lindgreen et al., 2009).

Baron (2003) menegaskan bahwa CSR telah menjadi komponen utama dalam strategi bisnis bagi beberapa perusahaan, karena kinerja dari suatu perusahaan dipengaruhi oleh strategi mereka di lingkungan pasar dan non pasar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa CSR sebagai konsep dasar dalam tanggung jawab sosial, tetapi menjadi salah satu hal penting juga dalam bisnis perusahaan. Diperkuat dengan penetapan pemerintah yang membuat regulasi CSR sudah pemerintah Indonesia tetapkan dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 pasal 74 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas.

Pada kedua pasal tersebut pemerintah mewajibkan perusahaan melaksanakan tanggungjawab sosial dan lingkungan, lalu melaporkannya dalam laporan tahunan dan dipertanggungjawabkan pada saat rapat umum pemegang saham.

Maka, tidak heran bila kita sering mendapatkan informasi tentang kegiatan CSR, karena kegiatan sosial sendiri dapat dipublikasikan kepada khalayak. Nah, lalu bagaimana untuk mengomunikasikan CSR?

Komunikasi CSR

Dari pengertian di atas, kita menjadi tahu bahwa komunikasi CSR sangatlah penting. Terdapat sisi sebagai publikasi atau pemberitahuan kepada pemerintah, ada juga pada sisi sebagai informasi kegiatan tersebut pada steakholder.

Komunikasi CSR sendiri bertujuan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Komunikasi CSR merupakan komunikasi yang dirancang dan didistribusikan oleh perusahaan tentang kegiatan CSR (Mette Morsing, 2006).

Maka, sebuah perusahaan diharapkan dapat mengartikulasikan nilai-nilai dalam rangka untuk memenuhi ekonomi, legal, sosial sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Demi keberlangsungan perusahaan, CSR telah menjadi komponen utama dalam strategi bisnis bagi beberapa perusahaan, karena kinerja dari suatu perusahaan dipengaruhi oleh strategi perusahaan di lingkungan pasar dan non-pasar.

Komunikasi CSR menghadirkan interaksi perusahaan dengan masyarakat. Bukan hanya memberi manfaat kepada perusahaan, dan memberikan akses kepada stakeholder untuk dapat melakukan verifikasi dan memberi saran atau kritik terhadap program CSR. Komunikasi CSR berguna untuk mempengaruhi opinion leader dan menjawab skeptisisme yang tumbuh belakangan ini tentang CSR. Tidak berlebihan bila komunikasi CSR berkembang pada peningkatan citra perusahaan sebagai reputasi.

Pendekatan komunikasi yang kurang tepat dan efektif menyebabkan program CSR yang secara program dan strategi sangat baik tidak memiliki dampak optimal di masyarakat. Komunikasi CSR yang efektif dapat meningkatkan citra positif perusahaan dan kedekatan perusahaan dengan masyarakat untuk memperkuat kerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Kerjasama yang baik dengan stakeholders sangat menentukan posisi perusahaan secara luas, yang erat kaitannya dengan pendapatan bahkan nilai saham perusahaan.

Salah satu masalah klasik yang menyebabkan sebuah program CSR tidak membawa dampak yang optimal bagi perusahaan maupun masyarakat adalah komunikasi. Branco & Rodrigues (2006 : 232 – 248) dalam sebuah paper berjudul “Communication of corporate social responsibility by Portuguese banks: A legitimacy theory perspective,” menjelaskan bahwa isi pesan komunikasi CSR terdiri dari dua kelompok yaitu external disclosure (meliputi lingkungan dan keterlibatan dalam komunitas) dan internal disclosure (meliputi sumber daya manusia serta produk dan pelanggan).

CSR dan Blogger

Sebagai blogger, saya sendiri sangat senang bila mendapatkan liputan CSR. Hal ini menjadi bagian tugas liputan dalam mempublikasikan kegiatan perusahaan yang mengandung unsur sosial.

Dalam peliputan tentu tetap harus memerhatikan pesan yang akan disampaikan. Tentunya, komunikasi CSR berbeda dengan komunikasi pemasaran, karena CSR pada dasarnya bukan produk. Strategi komunikasi CSR yang digunakan ditujukan untuk menyentuh sisi efektif (feel) stakeholder. Komunikasi yang dilakukan dengan baik, wajiblah mencakup waktu komunikasi yang tepat, sudut pandang komunikasi yang menyentuh, serta konten komunikasi berbobot yang merupakan representasi dari dampak program yang dilaksanakan.

Komunikasi CSR tidak hanya ditujukan untuk masyarakat, media, atau pemerintah, tetapi juga penting bagi para karyawan dan pemegang saham.  Tak dapat dipungkiri bahwa berhasil atau tidaknya kegiatan CSR akan bertumpu pada bagaimana mengomunikasikannya.

Proses pesan komunikasi dapat dilihat pada produksi dan konsumsi makna. Secara produksi makna (production of meaning) melalui penggunaan bahan-bahan mentah yang terdiri kata-kata, gambar-gambar, lambang-lambang, dan tindakan-tindakan. Adapun konsumsi makna (contumtion of meaning) melalui pendengaran, penglihatan, sentuhan, perasaan, dan penciuman yang dilakukan oleh khalayak.

Dalam praktiknya, pesan komunikasi CSR perlu memuat usaha yang sudah diinvestasikan, seperti waktu, jumlah target khalayak, dan bagaimana komitmen perusahaan dalam membuat kegiatan itu berkelanjutan. Komitmen perusahaan pada CSR dipahami sebagai instrumen yang mengindikasikan apa yang ingin dilakukan dalam rangka memberi perhatian terhadap pengaruh sosial dan lingkungannya.

Pesan-pesan komunikasi CSR dapat disusun dan disampaikan dalam berbagai bentuk media, mulai dari social report, website, iklan, dan saluran komunikasi lainnya. Salah satunya adalah melalui blog. Sudah saatnya kita menjadi bagian dalam mengomunikasikan CSR sebagai publikasikan yang menjadi bagian peliputan yang memperlihatkan tanggung jawab sosial perusahaan. Ibarat lemari, mengenal CSR seperti membuka pintunya dan menemukan berbagai kebaikan pada perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial.

 

 

Advertisements