Tags

,

Sudah lama saya menginginkan lemari buku. Bukan karena buku saya banyak, tetapi buku-buku yang tersusun pada lemari akan terlihat rapi dan bersih. Namun, bagi anak kosan, yang biasa pindah tempat, lemari menjadi hal yang cukup berat untuk diangkut bagi perempuan. Bayangkan, angkut barang-barang seorang diri, belum lagi merapikan dan membereskannya ketika packing, maka mengangkut lemari buku menjadi hal yang tak terbayangkan bagi saya. Cukup satu lemari pakaian dan kasur untuk saya bawa kemana-mana. Iya, anak kosan seperti saya akan berpikir praktis dan efisien ketika memilih barang baru untuk perlengkapan kamar kos. Saya pun yang sering memandang buku-buku yang menumpuk, selalu mencari lemari yang mudah dibawa pindah dan tidak menghabiskan kamar kos. Maka, senang rasanya kalau ada lemari buku untuk anak kos.

Selama ini, buku-buku yang saya kumpulkan sejak kuliah, saya simpan dalam container boks, kemudian sisanya dimasukkan ke dalam dus. Padahal, buku-buku tersebut sudah saya bawa pulang sebagian ke rumah. Malah, ketika selesai kuliah, saya mengangkut empat dus yang terdiri dari buku, artikel makalah dan majalah untuk disimpan di rumah. Namun, karena memang suka ngiler kalau ke toko buku, pasti beli buku, maka sekarang buku saya pun sudah lebih dari satu container boks. Akhirnya, saya pun melirik-lirik lemari buku kalau melewati toko mebel.

books-1015594_960_720

Hal yang membuat saya selalu mencari lemari buku, karena ketika mencari buku yang dibutuhkan, saya pun akan membongkar buku-buku tersebut, lalu merapikannya kembali. Ini cukup membuat saya lelah. Haish, gitu aja lelah ya, hehehehe… Sebetulnya sih bukan lelah, kalau sekali atau dua kali tidak masalah, malah saya asik dan terhanyut dengan buku-buku yang saya bongkar, lalu pasang lagi. Nah, kalau lagi sedang malas untuk merapikan lagi, dan besoknya ada buku yang dicari lagi, maka saya pun membiarkannya berantakan begitu saja. Merapikan buku menjadi sesuatu yang terasa berat dan melelahkan. Padahal mah jangan ya, tetapi bagaimana lagi, bolak balik untuk bongkar pasang buku di dalam dus jadi memberatkan.

Lemari Buku dan Perpustakaan Desa

Saya sempat berpikir untuk menjual buku-buku tersebut, terutama buku yang jarang saya baca. Namun, alih-alih buku yang saya pilah untuk dijual, yang ada malah saya mengumpulkannya untuk disimpan dan dibawa pulang kampung. Di kampung, saya pun berkeinginan memiliki lemari buku, bahkan membuka perpusatakaan. Kalau melihat buku-buku saya sendiri sih memang bukan untuk anak-anak atau warga desa yang praktis untuk dipraktekkan, karena banyak buku yang saya beli malah buku-buku pemikiran. Maklum, dulu waktu kuliah pernah beberapa kali mengikuti diskusi pemikiran keislaman. Namun, niat untuk membuat perpustakaan di kampung tetap menjadi cita-cita saya, memiliki perpustakaan untuk warga kampung dan anak-anak desa.

Memang untuk perpustakaan desa, ibarat mimpi di siang bolong. Tetapi tetap menjadi harapan untuk dapat mempunyai perpustakaan. Secara sederhana, buku-buku yang sekarang bisa ditambah dengan buku anak-anak dan buku-buku pertanian praktis yang dapat diaplikasikan oleh warga.

15249487_b

Namun, untuk perpustakaan desa ini, saya harus memulainya dengan memiliki lemari buku. Lemari yang akan menyusun buku-buku yang saya bawa ke rumah. Jarak rumah ke toko mebel memang jauh, karena rumah saya ada di desa, di kaki Gunung Galunggung. Maka, untuk saat ini buku-buku saya masih saya simpan di bupet-bupet yang tak digunakan. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya dapat memiliki lemari buku.

Adapun untuk di kosan sendiri, saya masih mencari lemari buku yang bisa praktis untuk bisa dibawa kemana-mana. Bukan hanya ke toko mebel, saya pun mencarinya di toko online. Di era digital sekarang ini, untuk mencari perlengkapan rumah sangat mudah, termasuk lemari. Lemari buku untuk anak kos pun bisa dibrowsing, kalau cocok tinggal pesan, bayar dan tunggu pengiriman. Meskipun tinggal di kosan, saya tetap ingin rapi.

 

Advertisements